(content: is a state of full happiness, satistified with a certain level achievement, good fortune, etc., not wishing for more.)

Beberapa waktu lalu, disela-sela kejaran deadline dan hiruk pikuk kantor, aku dan odit memutuskan untuk undur diri sejenak, memilih pojok nyaman di teras luar ruang kantor kami di lantai dua. Aku duduk disamping mesin pendingin minuman yang mesinnya selalu bergetar di menit-menit tertentu dan odit duduk didepanku.

Kami berbagi keluh kesah, kepenatan dan menumpahkan segala kegelisahan.

Kami sudah bekerja lebih dari empat tahun di kantor itu, dan sore itu kami merasakan hal yang sama, merasa berada pada titik yang sama, titik kejenuhan.

Aku punya mimpi, odit punya mimpi tapi kami seperti jalan di tempat yang sama, tidak bergerak, terperangkap di daerah yang sama, begitu banyak keinginan, tapi nampaknya kami tidak bisa kemana-mana.

Sering kali di sela-sela pembicaraan, aku menangkap nada helaan nafas panjang wujud dari pelepasan beban-beban kami.

“I wanna be content,” Odit tiba-tiba berteriak.

Mmm, iyah, kapan terakhir kali aku merasakan hal itu, merasa puas, merasa cukup…

Akhir-akhir ini aku merasa kurang dan tidak berdaya. Lalu perasaan itu membuatku marah, sedih, sebal dengan semuanya.  Melihat keatas, memandang orang-orang dengan keberhasilan dan kegemilangan hidup mereka, menghadirkan perasaan yang tidak nyaman dan menyesakkan.

Aku selalu berpikir, jangan cepat merasa puas dan penuh, karena manusia perlu maju dan terus bermimpi dan kenyamanan bisa menghancurkan semuanya. Tapi kenapa rasa merasa kurang ini begitu menyesakkan.

Iri melihat temanku yang lain yang menurutku dia sudah berada di tahap merasa content, merasa bersyukur, tidak terlalu ngoyo. Dia baru saja pulang dari sekolah di US, dan dengan apa yang dia punya, dia bisa saja mendapatkan pekerjaan apapun yang dia inginkan, tapi dia tidak mencari itu. dia sekarang di Bali dan menikmati hidupnya dan yang terpenting adalah dia selalu merasa bersyukur.

Iyah, seharusnya aku lebih banyak bersyukur. buat pekerjaan ini, buat kehidupanku, buat apa yang ada padaku.

Dan sering kali aku mencoba melihat ke bawah, ke orang-orang yang kurang beruntung dari aku untuk mencoba menghibur diri.

Tapi sering kali aku merasa itu jahat, bagaimana aku bisa merasa senang diatas ketidakberuntungan orang lain. Mengapa aku butuh mereka, butuh melihat kesengsaraan mereka untuk membuat hidupku jadi lebih baik.

Mmm..seringkali sehabis penat dengan pekerjaan, pulang dengan dada sesak dan penuh, aku merasa terhibur ketika papasan dengan pegawai kebersihan atas satpam, yang masih saja menyapaku dengan senyuman.

Aku merasa ditampar ketika melihat mereka. dan sakit rasanya begitu tahu bahwa aku menyalahgunakan nasib mereka untuk membuatku lebih baik.

Aaarrh, aku tidak ingin melihat ke atas, maupun melihat kebawah.

Aku ingin merasa penuh dengan apa yang ada disampingku dengan orang-orang dan sahabat tercinta, lewat pembicaraan-pembicaran dashyat di sela-sela pekerjaan, di samping mesin pendingin yang bergetar di menit-menit tertentu.

Odiit, let’s do it again sometime…

Leave a Reply