Saya penggemar berat Dawson’s Creek…saya begitu tergila-gila menontonnya ketika jaman SMA dulu. Serial itu diputar setiap selasa malam, setiap jam setengah 10 di saluran televisi kebanggan Indonesia waktu itu TPI. Meski pada serial-serial berikutnya, TPI memindahkan jam tayangnya ke hari Rabu di jam yang sama, saya tak pernah melewatkan serial itu.

saya kurang begitu ingat kenapa saya begitu setia dengan serial ini. Saya rela menunggunya meski harus sampai larut. Meski TPI tiba-tiba memundurkan jam tayangnya hingga jam 11, saya tetep duduk dengan manis di depan TV ditemani rasa kantuk dan bahan ulangan besok pagi.

Mungkin saya menyukainya mungkin karena kisah percintaannya yang seru, dimana sepasang sahabat bisa saling mencintai. konsep yang sebenarnya begitu diluar kepala waktu itu, karena pertama saya tidak percaya dengan relasi persahabatan antara perempuan dengan lelaki (kecuali dia gay tentunya) dan waktu itu saya belum pernah pacaran. Mungkin ini yang membuat ploot cerita di Dawson’s Creek begitu menarik buat saya.

Atau mungkin karena kisah ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Iyah ketika kebanyakan serial remaja lainnya menawarkan seks sebagai makanan sehari-hari yang tidak boleh dilewatkan. Serial ini bisa mengemas hal tersebut begitu cantik, menjadikannya penting tanpa perlu mengeksploitasinya (meskipun di musim musim selanjutnya mungkin sedikit berlebihan).

Atau mungkin saya merasa dekat dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Dawson, Pacey, Joey dan Jen adalah empat remaja kampung dengan kehidupan keseharian mereka, bukan seperti Brandon, Brenda dan Kelly yang glamor di Beverly Hills. Secara pribadi, saya merasa begitu dekat dengan Joey, gadis tomboy yang pintar, yang sinis, judes, perfeksionis dalam hal sekolah dan punya relasi aneh dengan ayahnya. Yah saya melihat diri saya di diri Joey.

Lalu untuk mengenang masa-masa tanpa beban dimana tidak ada yang perlu dikuatirkan (kecuali nilai ulangan dan hasil NEM hahhahaa), saya pun melihat kembali serial itu lengkap dari musim satu sampai 6. Dan pengalaman kembali menonton itu yang membuat saya perlahan-perlahan tahu kenapa saya suka film ini:

1. secara sinematografi, serial ini jauh diatas rata-rata setidaknya itu yang kulihat di musim I dan II. Kevin Williamson berhasil memperindah serial ini dengan lanskap-lanskap cantik Capeside. Saya paling suka rumah Joey, yang tepat berada di pinggiran sungai. Apalagi adegan-adegan di dermaga. Iyaaah dermaga memang romantis, dan Kevin sepertinya tahu itu, kebanyakan pembicaraan-pembicaraan romantis pasti terjadi disana.

2. Saya suka pembicaraan-pembicaraan tokohnya. begitu hidup, begitu filosofis, begitu mencerahkan aaaarrgh, saya heran kenapa waktu SMA saya tidak bisa berpikir seperti mereka. Mereka berbicara dan saling berbagi tentang kegelisahan mereka, tujuan hidup, mimpi-mimpi mereka, cinta, hubungan…uuuh, begitu meresahkan dan mencerahkan buat saya. Seringkali saya dapat kutipan-kutipan cantik yang maknanya berasa begitu dalam. “Let the things you love be your escape” atau “When you have a dream, will it” atau “there is no right or wrong, there is only concequences for  every action”. Yah, serial ini seperti obat penambah semangat jiwa.

3. Saya bisa belajar bahasa inggris yang aneh dan tidak pasaran. Memang serial ini pernah dipertanyakan di Amerika karena bahasa yang digunakan tokok-tokohnya terlalu kompleks dan canggih untuk usia-usia SMA, penonton Amerika menganggap serial ini mengada-ada. Aaah, tapi apa urusannya sama saya, penonton dari dunia negara ketiga yang masih terus belajar bahasa inggris dan berusaha meningkatkan skor eilts nya hihihihi. Saya menemukan term-term seperti “bizzare hormonal glitches” (aah saya suka itu) atau “ennui” atau “menage a trois” (hahah ini perancis sih hihihi)

4. Karena serial ini juga memberikan referensi film-film dan buku-buku keren yang membuat saya penasaran untuk membelinya. Saya acung jempol dengan selera film Dawson dan untunglah Keliek penggemar Spielberg jadi rata-rata filmnya ada di koleksi DVD kami, dan yang terakhir kami mendapatkan film “Close Encounters of The Third Kind” dan mengenai buku-buku keren, saya dapat referensi nya dari Joey yang mengambil jurusan literatur Inggris di kampusnya. Darinya saya penaran dengan Little Women, the Lion, Witch and the Wardrobe lalu On the Road..aah buku-buku ini target selanjutnya yang saya ingin beli di toko buku…

Uuuh, kalo begitu saya mohon pamit dulu, saya jadi ingin kembali melanjutkan nonton. saya sudah sampai di musim ke enam episode 20..sebentar lagi akan selesai. semua terhambat gara-gara  DVD nya ngambek..dasar bajakan, tapi sepertinya kurang bijak kalau terlalu banyak mengeluh. hihihi

Leave a Reply