Archive for October, 2009

Saya ingat sekali, dulu ketika odit, rekan saya di the jakarta post, menaruh post-it “Doing it for the kids” berwarna kuning di meja kerjanya. Katanya itu semacam penyemangat buat pekerjaan yang dilakukannya, pengingat buat dirinya bahwa ketika menulis sebuah artikel, dia melakukannya untuk masa depan yang lebih baik buat bangsa dan anak-cucu kita.

Iyaah..waktu pertama kali masuk dalam profesi jurnalistik, saya juga membagi semangat yang sama dengan odit. Perasaan penuh dan semangat selalu mengisi hari-hari menyadari bahwa ada misi besar yang kita emban. terasa sangat heroik, menantang dan seruuuu.

Tapi sudah lebih dari tiga tahun, saya menghamba di desk ekonomi..perlahan namun pasti semangat itu pupus, gairah besar yang saya biasa rasakan menguap.

Bagaimana tidak? saya tiap hari harus berurusan dengan angka-angka dan statistik tak berjiwa yang ironisnya dari dulu pun saya tidak begitu suka dengan matematika. Saya berkutat dengan transaksi jutaan dollar amerika, dengan kinerja-kinerja perusahaan, rencana akusisi dan masih banyak lainnya. Dan  menulis buat orang-orang berdasi yang hidupnya enak dan bergaji puluhan juta sebulan rasanya kurang heroik, mereka tidak butuh dicerahkan, mereka tidak butuh diselamatkan.

Ditengah-tengah kepenatan, sebuah tawaran manis datang dari editor di desk investasi. Ketika saya sedang pusing menulis artikel tentang aksi korporasi sebuah perusahaan, editor itu datang, duduk dan menawarkan saya untuk bergabung ke desknya.

Huaaah mau teriak rasanya, tapi saya memutuskan untuk tetap jaim hahahaha. Meskipun hanya sebulan, saya berharap bisa kembali menangkap semangat yang dulu saya pernah rasakan.

Dan penugasan pertama adalah meliput imigran Sri Lanka di pelabuhan Merak, Banten yang mengharuskan saya untuk pergi kesana langsung. Iyaaah, pengalaman berangkat subuh ke stasiun kota, dan kemudian beralih haluan ke terminal bis tanjung priuk sendirian karena perjalanan kereta terlalu lama mengingatkan saya pada sensasi-sensasi itu, deg-degan yang luar biasa plus bingung karena saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan tapi rasa kepuasan yang tiada tara begitu saya menemukan keajaiban-keajaiban yang terjadi yang memungkinkan saya mendapatkan berita.

Yeeeeaaah, I’m doing it for the kids!!!!

Comments 2 Comments »

Saya penggemar berat Dawson’s Creek…saya begitu tergila-gila menontonnya ketika jaman SMA dulu. Serial itu diputar setiap selasa malam, setiap jam setengah 10 di saluran televisi kebanggan Indonesia waktu itu TPI. Meski pada serial-serial berikutnya, TPI memindahkan jam tayangnya ke hari Rabu di jam yang sama, saya tak pernah melewatkan serial itu.

saya kurang begitu ingat kenapa saya begitu setia dengan serial ini. Saya rela menunggunya meski harus sampai larut. Meski TPI tiba-tiba memundurkan jam tayangnya hingga jam 11, saya tetep duduk dengan manis di depan TV ditemani rasa kantuk dan bahan ulangan besok pagi.

Mungkin saya menyukainya mungkin karena kisah percintaannya yang seru, dimana sepasang sahabat bisa saling mencintai. konsep yang sebenarnya begitu diluar kepala waktu itu, karena pertama saya tidak percaya dengan relasi persahabatan antara perempuan dengan lelaki (kecuali dia gay tentunya) dan waktu itu saya belum pernah pacaran. Mungkin ini yang membuat ploot cerita di Dawson’s Creek begitu menarik buat saya.

Atau mungkin karena kisah ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Iyah ketika kebanyakan serial remaja lainnya menawarkan seks sebagai makanan sehari-hari yang tidak boleh dilewatkan. Serial ini bisa mengemas hal tersebut begitu cantik, menjadikannya penting tanpa perlu mengeksploitasinya (meskipun di musim musim selanjutnya mungkin sedikit berlebihan).

Atau mungkin saya merasa dekat dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Dawson, Pacey, Joey dan Jen adalah empat remaja kampung dengan kehidupan keseharian mereka, bukan seperti Brandon, Brenda dan Kelly yang glamor di Beverly Hills. Secara pribadi, saya merasa begitu dekat dengan Joey, gadis tomboy yang pintar, yang sinis, judes, perfeksionis dalam hal sekolah dan punya relasi aneh dengan ayahnya. Yah saya melihat diri saya di diri Joey.

Lalu untuk mengenang masa-masa tanpa beban dimana tidak ada yang perlu dikuatirkan (kecuali nilai ulangan dan hasil NEM hahhahaa), saya pun melihat kembali serial itu lengkap dari musim satu sampai 6. Dan pengalaman kembali menonton itu yang membuat saya perlahan-perlahan tahu kenapa saya suka film ini:

1. secara sinematografi, serial ini jauh diatas rata-rata setidaknya itu yang kulihat di musim I dan II. Kevin Williamson berhasil memperindah serial ini dengan lanskap-lanskap cantik Capeside. Saya paling suka rumah Joey, yang tepat berada di pinggiran sungai. Apalagi adegan-adegan di dermaga. Iyaaah dermaga memang romantis, dan Kevin sepertinya tahu itu, kebanyakan pembicaraan-pembicaraan romantis pasti terjadi disana.

2. Saya suka pembicaraan-pembicaraan tokohnya. begitu hidup, begitu filosofis, begitu mencerahkan aaaarrgh, saya heran kenapa waktu SMA saya tidak bisa berpikir seperti mereka. Mereka berbicara dan saling berbagi tentang kegelisahan mereka, tujuan hidup, mimpi-mimpi mereka, cinta, hubungan…uuuh, begitu meresahkan dan mencerahkan buat saya. Seringkali saya dapat kutipan-kutipan cantik yang maknanya berasa begitu dalam. “Let the things you love be your escape” atau “When you have a dream, will it” atau “there is no right or wrong, there is only concequences for  every action”. Yah, serial ini seperti obat penambah semangat jiwa.

3. Saya bisa belajar bahasa inggris yang aneh dan tidak pasaran. Memang serial ini pernah dipertanyakan di Amerika karena bahasa yang digunakan tokok-tokohnya terlalu kompleks dan canggih untuk usia-usia SMA, penonton Amerika menganggap serial ini mengada-ada. Aaah, tapi apa urusannya sama saya, penonton dari dunia negara ketiga yang masih terus belajar bahasa inggris dan berusaha meningkatkan skor eilts nya hihihihi. Saya menemukan term-term seperti “bizzare hormonal glitches” (aah saya suka itu) atau “ennui” atau “menage a trois” (hahah ini perancis sih hihihi)

4. Karena serial ini juga memberikan referensi film-film dan buku-buku keren yang membuat saya penasaran untuk membelinya. Saya acung jempol dengan selera film Dawson dan untunglah Keliek penggemar Spielberg jadi rata-rata filmnya ada di koleksi DVD kami, dan yang terakhir kami mendapatkan film “Close Encounters of The Third Kind” dan mengenai buku-buku keren, saya dapat referensi nya dari Joey yang mengambil jurusan literatur Inggris di kampusnya. Darinya saya penaran dengan Little Women, the Lion, Witch and the Wardrobe lalu On the Road..aah buku-buku ini target selanjutnya yang saya ingin beli di toko buku…

Uuuh, kalo begitu saya mohon pamit dulu, saya jadi ingin kembali melanjutkan nonton. saya sudah sampai di musim ke enam episode 20..sebentar lagi akan selesai. semua terhambat gara-gara  DVD nya ngambek..dasar bajakan, tapi sepertinya kurang bijak kalau terlalu banyak mengeluh. hihihi

Comments No Comments »

(content: is a state of full happiness, satistified with a certain level achievement, good fortune, etc., not wishing for more.)

Beberapa waktu lalu, disela-sela kejaran deadline dan hiruk pikuk kantor, aku dan odit memutuskan untuk undur diri sejenak, memilih pojok nyaman di teras luar ruang kantor kami di lantai dua. Aku duduk disamping mesin pendingin minuman yang mesinnya selalu bergetar di menit-menit tertentu dan odit duduk didepanku.

Kami berbagi keluh kesah, kepenatan dan menumpahkan segala kegelisahan.

Kami sudah bekerja lebih dari empat tahun di kantor itu, dan sore itu kami merasakan hal yang sama, merasa berada pada titik yang sama, titik kejenuhan.

Aku punya mimpi, odit punya mimpi tapi kami seperti jalan di tempat yang sama, tidak bergerak, terperangkap di daerah yang sama, begitu banyak keinginan, tapi nampaknya kami tidak bisa kemana-mana.

Sering kali di sela-sela pembicaraan, aku menangkap nada helaan nafas panjang wujud dari pelepasan beban-beban kami.

“I wanna be content,” Odit tiba-tiba berteriak.

Mmm, iyah, kapan terakhir kali aku merasakan hal itu, merasa puas, merasa cukup…

Akhir-akhir ini aku merasa kurang dan tidak berdaya. Lalu perasaan itu membuatku marah, sedih, sebal dengan semuanya.  Melihat keatas, memandang orang-orang dengan keberhasilan dan kegemilangan hidup mereka, menghadirkan perasaan yang tidak nyaman dan menyesakkan.

Aku selalu berpikir, jangan cepat merasa puas dan penuh, karena manusia perlu maju dan terus bermimpi dan kenyamanan bisa menghancurkan semuanya. Tapi kenapa rasa merasa kurang ini begitu menyesakkan.

Iri melihat temanku yang lain yang menurutku dia sudah berada di tahap merasa content, merasa bersyukur, tidak terlalu ngoyo. Dia baru saja pulang dari sekolah di US, dan dengan apa yang dia punya, dia bisa saja mendapatkan pekerjaan apapun yang dia inginkan, tapi dia tidak mencari itu. dia sekarang di Bali dan menikmati hidupnya dan yang terpenting adalah dia selalu merasa bersyukur.

Iyah, seharusnya aku lebih banyak bersyukur. buat pekerjaan ini, buat kehidupanku, buat apa yang ada padaku.

Dan sering kali aku mencoba melihat ke bawah, ke orang-orang yang kurang beruntung dari aku untuk mencoba menghibur diri.

Tapi sering kali aku merasa itu jahat, bagaimana aku bisa merasa senang diatas ketidakberuntungan orang lain. Mengapa aku butuh mereka, butuh melihat kesengsaraan mereka untuk membuat hidupku jadi lebih baik.

Mmm..seringkali sehabis penat dengan pekerjaan, pulang dengan dada sesak dan penuh, aku merasa terhibur ketika papasan dengan pegawai kebersihan atas satpam, yang masih saja menyapaku dengan senyuman.

Aku merasa ditampar ketika melihat mereka. dan sakit rasanya begitu tahu bahwa aku menyalahgunakan nasib mereka untuk membuatku lebih baik.

Aaarrh, aku tidak ingin melihat ke atas, maupun melihat kebawah.

Aku ingin merasa penuh dengan apa yang ada disampingku dengan orang-orang dan sahabat tercinta, lewat pembicaraan-pembicaran dashyat di sela-sela pekerjaan, di samping mesin pendingin yang bergetar di menit-menit tertentu.

Odiit, let’s do it again sometime…

Comments No Comments »