Selama ini saya selalu bangga menjadi penduduk ibukota Jakarta ini…
eehm, mungkin saya koreksi bukan penduduk, tapi orang yang bekerja di jakarta dan melewatkan hari-harinya kebanyakan dikota yang jumlah penduduknya berbeda saat pagi dan malam harinya…
saya pernah baca di sebuah artikel, saya lupa dimana…tapi pada intinya si penulis bilang bahwa ketika kamu bisa hidup di kota ini, pada dasarnya kamu bisa tinggal dimanapun…penulisnya menyejajarkan kota ini dengan New York dalam hal menantang jiwa kebertahanan hidup seorang manusia…meskipun dia juga mengakui bahwa untuk beberapa sisi, Jakarta lebih kejam dibanding New York…
Lihat saja lalu lintasnya, belum lagi banjir, atau semrawutnya angkutan umum di jalan-jalan…atau pengemis-pengemis jalanan yang hampir ada di setiap jalan protokol…mmmm, New York mungkin bukan apa-apanya.
Jadi meski miris dengan keadaaan yang ada, saya, yang memang ingin mencicipi kota-kota lain di seluruh dunia, boleh lah berbangga hati sedikit, setidaknya dari mental saya sudah mempunyai bekal yang cukup dari bekerja di ibukota raya tercinta Jakarta…
Saya sudah biasa menghadapi kemacetan, yang paling buruk sekalipun ketika mobil-mobil tidak bisa bergerak sama sekali dan terdapat antrian panjang berkilo-kilo meter..atau saya pun merasa berpengalaman menghadapi pengemis jalanan, pengamen, yang banyak orang sebut sebagai sampah jalanan…atau bahkan para pencopet, saya ingat menghardik seorang copet dalam perjalanan dari Ciledug ke Blok M. saya waktu itu hanya bilang: mas, jangan gitu ah, kasihan mbak nya…pencopet yang tertangkap basah oleh saya waktu itu hanya gelagepan dan hanya bisa tersenyum pahit..kalo diingat-ingat waktu itu, saya beruntung sekali karena saya tidak dipukul atau ditikam dengan pisau,,fiuuh..
Aaah, saya biasa juga melewati malam-malam di kota ini, pulang dini hari sendirian baik dengan taksi maupun angkutan umum..saya menikmati perjalanan-perjalanan itu karena saya bisa melihat wajah jakarta yang lain…
Saya merasa tidak ada yang bisa menghentikan saya, meraih mimpi-mimpi disini maupun di tempat lain…
Hingga kemarin, impian itu terbentur suatu kenyataan bahwa kota ini belum juga berhasil saya taklukan. Gara-gara satu hal: lubang-lubang di jalanan…
Iyah benar, saya yang merasa sudah mengenal jakarta dari sisi ramah dan sisi bengis nya takluk oleh sebuah lubang sebesar 20 cm di sebuah jembatan penyebrangan busway yang membuat satu kaki saya terperosok didalamnya.
Huaaaah, tragis benar nasib saya…sampai seminggu kaki kiri saya lebam-lebam biru ungu merah kuning…untung masih bisa berjalan..
berpikir untuk menuntut, tapi saya tahu uu pelayanan publik yang baru saja disahkan DPR belum berlaku efektif, belum lagi duit yang harus saya keluarkan untuk mengurus perkaranya..dan benar kata kelik, kalo mau menuntut pemerintah, mau kemana kita ajukan tuntutan. pertanyaan besarnya adalah: siapa pemerintah itu…
saya berusaha mencoba menangkap gambaran siapa pemerintah itu di kepala saya, tapi tidak juga saya dapatkan..bukan bapak-bapak gembul itu, bukan juga ibu-ibu berdandan medok dengan tahi lalat di dagu kan, atau bapak-bapak berpeci hitam…aaarggh siapa sih pemerintah itu?
yaah, saya pun mau tidak mau hanya bisa meratapi diri, mengelus-elus kaki saya tiap malam sambil mengoleskan thrombophob dan menerima kenyataan bahwa saya belum juga bisa menaklukanmu Jakarta yang perkasa…
ps: foto diambil setelah tiga hari jatuh sebagai kenang-kenangan buatmu tuan dan nyonya pemerintah, siapapun anda…


Entries (RSS)
astaga!!! parah banget, Kak. di jembatan mana?
ka, itung-itung dapet tato gratis dan alami….kekekekek…..
Wajah Jakarta memang bagai 2 sisi uang, jelek dan cakep. Kata anak2 SMP dari Cilacap dan jawa timur yang wisata ke ibukota Jakarta hanya 2 hari saja itu (baca: Kompas Minggu, 28 Juni 2009), Jakarta itu cakep banget. Bersih dan indah, pokoknya sip banget! (lha iya, lha mereka cuma liat Monas dan jalan2 protokol). Sementara seorang Ika yang bertarung di Jakarta bertahun-tahun lamanya bilang Jakarta itu jelek, gombal, dll. hehehe…….nasib ibu kota dan anak kota…..
Bagaimanapun, Jogja is the best city, ya gak, Ka?(mulai deh narsisnya)
astaga ngeri banget kaaaaa
wih, kok kayak korban penyiksaan PRT oleh majikannya….kekekekekek…Kebayang tuh ka, sakitnya, tp sakit hatinya yg lebih parah, gondok banget pasti :p
iyah nih Dey, di jembatan busway bunderan senayan, yang didepan ratu plaza ituuu
mba dewiiii, bisa ajaaaaah..tapi aku ga pernah bilang Jakarta jelek kook, dia unik, kadang juga cantik…yah tergantung apesnya kita ajaah deeeh
huaaah, thea..ngeri lagi kalo bukan cuma aku ajah yang jadi korbannya
bener banget lo win…sebel bangeeeeet, mau marah bingung mau marah sama siapa…