Akhir dapat kesempatan untuk jalan-jalan lagi eeehm maksud saya meliput ke luar negri lagi..

Tujuan saya adalah ibukota Thailand, Bangkok..saya dikirim kesana untuk mengikuti Thailand Rice Convention selama dua hari (bayangpuun, ketika berangkat saya masih bingung apa yang saya harus tulis…hihihihi).

Meskipun saya berangkat minggu siang dan pulang rabu subuh, saya amat sangat pesimis untuk bisa berjalan-jalan ke tempat wisata-wisata yang ada di kota Bangkok karena acara yang begitu padat.

Bayangkan minggu sore saya tiba, dan langsung disuruh ke acara makan malam (padahal berharap sekali bisa jalan-jalan waktu itu) lalu senin dan selasa waktu penuh untuk seminar, bahkan selasanya ada acara berkunjung ke daerah pedesaan di pinggiran Bangkok yang butuh waktu hingga malam..dan Rabu subuhnya harus bertolak ke Jakarta

Lalu kapan jalan-jalannya karena saya tahu candi candi disana hanya buka sampai sore…

Untung saya punya rekan asik wartawan Kompas Mas Hermas yang tidak keberatan menjadikan acara jalan-jalan ini sebagai sebuah agenda penting di kunjungan kami kali ini. Kami dulu pernah pergi bersama ke Shanghai tahun 2007.

Tapi memang mustahil melakukannya..minggu dan senin, praktis kami tidak bisa kemana-mana, bahkan kami harus wawancara pejabat indonesia hingga selasa dinihari..capeeek, tapi hasilnya aku bisa menulis dua artikel selama aku disana (terimakasih juga buat mas Hermas untuk menjadi tutor singkat yang mengajariku masalah perberasan)

Tinggallah hari Selasa..mmm

akhirnya aku putuskan untuk tidak mengikuti kunjungan ke daerah pedesaan. Aku tanya panitia, untung saja boleh yipppiii…masalahnya mas Hermas yang wartawan pertanian itu mengganggap kunjungan ini penting…tapi untung saja (lagi) dia setuju kuajak kabuur…hiihihii…

Jadilah kami ngelayaap di siang sore itu. Setelah mengecek google maps, aku mendapatkan rute yang ideal. Wat Arun lalu ke Grand Palace dan ke night market…

Dalam waktu kurang ebih 5 jam itu, aku mendapatkan kesan bahwa Bangkok hampir sama dengan Jakarta, suasananya, lalu lintasnya, muka-muka orangnya, moda transportasinya…tapi saya merasa Bangkok lebih baik (iyaah rumput tetangga selalu lebih hijau)

Tapi emang iyah..

pertama kota ini berhasil menjadikan sungai sebagai alternatif jalur transportasi dalam kota. Setiap saya pergi dari hotel, saya selalu lewat sungai Chao Prya untuk sampai ketempat lain, dan itu memang menghemat banyak waktu ketimbang lewat jalan darat..

dan di Bangkok kamu tidak akan kesulitan mengajak teman-teman mu dari negara lain untuk jalan-jalan, karena disini begitu banyak tempat-tempat menarik khas Thailand. Tidak seperti di Jakarta, yang membuat saya selalu bingung kalo kedatangan teman-teman bule. Karena disini tidak ada candi atau patung, yang ada hanya mall.

Tapi yang membuat saya suka Bangkok adalah disini wacana gender seperti dibuat mainan …(saya selalu berpikir bahwa debat tentang gender terlalu dilebih-lebihkan, tentang siapa yang kalah dan siapa yang menang, dan tidak pernah selesai…Sigh!) karena banyak sekali cewek yang jadi cowok dan sebaliknya..Seruuuuuu!

Satu lagi, saya menemukan toko buku murah di Khao San Road…buku-buku bagus bekas dan murahnya amit-amit jabang bayi..saya dapat novelnya John Steickbeck Of Mice and Men hanya 30 ribu rupiah, lalu buku Ernest Hemingway the old man and the sea 45 ribu rupiah..dan saya menemukan buku Douglas Adams yang selalu diincar Kelik..

dan begitu banyak orang baik disana (iyah percayalah pada mantra “banyak orang baik didunia ini” ketika anda berkunjung ke tempat asing, karena itu sangat membantu. Suwer deeh), meski kami sempat dibawa berkeliling oleh supir tuk tuk yang memaksa kami mengungjungi tempat penjualan perhiasan, karena ternyata dia punya deal dengan penjual perhiasan bahwa ketika dia berhasil membawa pengungjung ke sana, dia akan diberi voucher bensin gratis..Kesal? tidak juga karena si supir mengakui semua itu kepada kami, dan tarifnya pun cukup murah, hanya 20 bath. dibanding taksi yang menawarkan hingga 200 bath…dan akhirnya kami pun memberi tips kepada supir tuk tuk itu..

Dan jangan ragu untuk menyebut bahwa kalian adalah orang Indonesia, entah kenapa penjual nampak senang melayani pelanggan dari Indonesia…

2 Responses to “Bangkok dalam 5 jam”
  1. tolong dong mas.. nama toko bukunya.. di khao san road itu..
    mau hunting buku bulan desember nanti disana…

  2. hahahaha, halo wiwie…
    emang dari tulisan saya terlihat kalo saya mas-mas yah? hehehehe…..
    well, anyway nama toko bukunya Gecko, tanya ajah penjual disana pasti pada tahu, kayaknya satu-satunya toko buku yang ada disana, tempatnya rada nyempil masuk gang..
    eh eh kapan berangkat? boleh nitip ga? :)

Leave a Reply