Sudah berbulan-bulan ini aku menjadi warga Jakarta gadungan, yang kesana-kesini kebanyakan naik taksi, memilih kenyamanan yang imitasi dan dingin yang direkayasa oleh mesin AC untuk menegasikan panas, macet dan bising di jalan-jalan ibukota.
Tapi bukan berarti keputusan itu tanpa alasan, aku merasa diriku merasa pantas mendapatkan kemewahan itu, setelah “bekerja keras” seharian dan hilir mudik kesana-kemari mengais-ais berita, naik taksi adalah semacam sebuah reward, meski dengan risiko bahwa dompetku jadi cepat menipis dan peluang menabung semakin kecil.
Tapi terlepas masalah materi, dengan keputusanku itu, aku merasa mengkhianati Jakarta, karena Jakarta yang asli adalah bukan Jakarta dalam taksi, atau bukan juga dalam mall-mall mewah yang bertebaran di mana-mana, bukan juga daerah Sudirman dan Thamrin yang setiap melaluinya aku selalu bertanya-tanya terus, benarkah ini Jakarta? Ibukota negara berkembang itu, yang rata-rata pendudukannya menghasilkan kurang dari US$2 per hari.
Miris rasanya, suatu ketika aku diajak naik motor di daerah Jendral Sudirman. Karena macet, temanku ini memilih jalan pintas yang melewati jalan tikus di belakang jalan Sudirman.
Mmm, dan disana kutemui wajah sebenarnya kota yang kubenci dan sekaligus kucinta setengah mati ini. jalan-jalan yang berlubang, rumah-rumah makan murah, bau sampah yang menusuk, rumah-rumah penduduk yang berdempet-dempetan. Tidak menyangka, bahwa kurang lebih 200 meter berdiri gedung-gedung 30 lantai dengan jalan raya mulus 6 jalur tempat mobil-mobil mewah lewat.
“Ada yang ga beres disini,” ujarku dalam hati.
Yang lucu adalah ketika mendengar temanku yang dari Vietnam datang berkunjung ke Jakarta dan dia bilang dia suka sekali naik metro mini.
Haahahaa, dia bercerita bagaimana serunya naik kaleng berkarbondioksida itu, duduk dibelakang supir dan merasakan adrenalinnya berpacu setiap si supir melakukan manuver-manuver yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.
“It is just like riding a rollercoaster,” dia bilang, aku pun tertawa mendengarnya. Dan ketika bertanya balik apakah kendaraan semacam ini ada juga di negaranya, dia menjawab bahwa itu ada tapi duluuuuuu sekali. Hahahaha, aku pun tergelak lagi. Selamat teman, kamu sudah berhasil mencecap jakarta yang asli, ujarku dalam hati.
dan kemarin, setelah beberapa lama, aku pun pulang naik kendaraan umum.
Rasanya deg-degan, tahu kan? perasaan bertanya-tanya, apakah jalan akan macet atau tidak, kira-kira berapa jam akan tiba sampai dirumah, atau berapa lama si abang supir akan ngetem.. yah ketidakpastian yang menyiksa.
Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang aneh hahahaha, tapi kuakui aku rindu berinteraksi dengan mereka memang. Itu yang selalu kukatakan kepada suamiku ketika menjelaskan kenapa aku memilih pulang naik angkot, aku ingin bertemu dengan orang-orang asing, bertukar pikiran dan belajar banyak dari mereka..dan aku rindu rasa sunyi di tengah hingar-bingar lalu lintas, rasa paradoks yang mencandu itu, yang bisa memaksa otakku berkelana jauh, menemukan hal-hal luar biasa yang tidak kudapatkan ditempat lain.
Dan satu lagi, mungkin kejutan-kejutan kecil yang membuatmu terbahak sebentar dan melupakan segala capek dan penat.
Dan malam itu, aku pun mendapatkannya, duduk di kursi VIP sebelah supir angkot, aku merasa wajah Jakarta begitu dekatnya dengan aku..
hingga tiba-tiba, ada sesuatu yang menggerayangi kakiku..aku pun panik, kakiku menendang-nendang keblingsatan..dan diujung sana aku melihat binatang mungil itu, seekor kecoa dengan tenangnya nangkring di bawah dashboard.
“Bang, itu ada kecoa,” ujarku setengah berteriak. Abang yang sok cool itu cuma menoleh sebentar, berusaha mencari-cari dimana gerangan kecoanya. tapi tidak melakukan apa-apa. “Ga papa yah kalo kaki saya naik jok,” akhirnya aku bertanya..
Dan selama 15 menit, dalam posisi yang aneh bin ajaib di kursi depan angkot C01 jurusan kebayoran ciledug dengan mas supir yang aku tidak tahu namanya, aku pun terhibur untuk sekian kalinya dengan Jakartaku sambil merapal doa-doa, “pergi kecoa..pergiii, jauh-jauh dari aku,”
Entries (RSS)
huwaaaaaaaaaaa…. cerita itu sangat dekat denganku. sangat dekat. tapi aku mau membenahinya, Kak. hingga kisah rollercoaster di tengah jalan raya atau kecoa di dalem angkot tinggal cerita masa lalu dan kalo temen kakak yang dari Vietnam nanya di Jakarta masih ada kaya gitu, kakak bisa jawab, ada tapi dulu banget. Amin!
huahahahahahahahahaha
kamu pake teriakan super histeris mu itu nggak, sayang?
kapan kembali ke yogya yang sebenar-benar yogya?
fky sudah mulai
iyah deytri, begitu dekat dan begitu hiduuup..aku suka perasaaan itu
hihihi, yah pake dooong, meski ga sekuat waktu dirumah hehehhe
mmm, selalu fir, selalu akan pulang kesana…