Archive for June, 2009

Sudah hampir satu tahun enam bulan lebih 13 hari kita bersama membina mimpi-mimpi bersama, membagi hari-hari dan malam-malam berdua…selalu denganmu.

Dan kali ini aku sekarang harus sendiri selama 135 jam tanpamu…

Selasa subuh lalu, kamu meninggalkanku untuk yang kamu sebut sebagai tugas negara..

Rencananya kamu akan berada di negeri asing enam hari lamanya, dan baru akan kembali minggu ini…

Ini baru pertama kali dirimu meninggalkanku, biasanya selalu aku yang meninggalkanmu untuk yang aku sebut — tak mau kalah darimu — sebagai misi menaklukkan dunia

Meski aku tidak perlu cemas atau takut, tapi pengalaman ini membuatku deg-deg an, seperti lahir baru lagi…

Orang seringkali menganggap diriku adalah perempuan mandiri yang bisa melakukan apapun sendiri, tanpa bantuan siapapun, apalagi dari makhluk berjenis kelamin pria.

Bahkan aku pernah membayangkan diriku hidup menua sendiri, berkeliaran dan berjalan-jalan kemana-mana sendiri tanpa ada siapapun disisiku.

Pernah begitu jelas dikepalaku, aku dalam mobil hitamku berkendara pulang kerumah sendiri, tanpa siapapun menemani dan siapapun menanti di tempat tidur.

Tapi dirimu datang dan mengubah itu semua. dan aku menyadari aku tidak semandiri yang dibayangkan orang.

Kehadiranmu begitu menyamankan, mendistorsi pribadi mandiri yang ada dalam diri, membuatku begitu bergantung pada dirimu. Dan aku sadar, aku mencandumu.

Meski semua begitu terasa sempurna, aku tak pungkiri keresahan yang ada dalam diri yang diam-diam mendamba lagi kehadiran sosok mandiri itu dan merindukan daya juang pribadi tanpa bergantung pada siapapun.

Dan seperti tahu apa yang kuinginkan, dirimu pun memberikanku kesempatan untuk menjumpai sisi mandiriku lewat kepergian singkat ini.

Dan aku senang mengetahui bahwa diriku yang mandiri itu masih ada…

Seperti waktu aku berjalan sendiri dari kantorku di Palmerah untuk menjumpai seorang di Plaza Senayan. Aku merasa utuh dan penuh dalam kesendirianku itu, menyusuri jalan sambil mendengarkan lagu “I’m dancing with myself” versi Nouvelle Vague, sambil diterpa lampu-lampu mobil yang genit seliweran di jalan raya.

Atau ketika aku memutuskan untuk menonton bioskop sendiri. Banyak orang yang bilang aneh atau bahkan merasa kasihan, tapi aku senang sekali dengan ritual yang dulu sering kali kulakukan itu. Menurutku, sebuah previlige bisa menonton film di bioskop sendirian, kesempatan untuk membuat duniaku sendiri dan hanya ada aku , aku dan aku yang ada disana…

Maaf kalau aku tidak ada keluhan, rasa kangen, ungkapan rindu, rasa ingin bertemu atau rengekan minta pulang cepat, karena aku tidak ingin merusak moment-moment bersenang-senang dirimu disana, dan perlu kamu tahu aku pun sedang menikmati me-time yang luar biasa yang mengasikkan disini

Terimakasih sayang buat enam hari yang membebaskan ini…buat kesempatan untuk menjadi utuh meski tanpa dirimu disini…

dan terimakasih juga buat 1 tahun enam bulan lebih 13 hari pernikahan ini, yang menyadarkan diriku bahwa aku adalah perempuan yang bukan saja utuh tapi juga paling beruntung didunia ini karena bisa menemukanmu

dan yah, aku kangen dirimu.

Comments 3 Comments »

Sudah berbulan-bulan ini aku menjadi warga Jakarta gadungan, yang kesana-kesini kebanyakan naik taksi, memilih kenyamanan yang imitasi dan dingin yang direkayasa oleh mesin AC untuk menegasikan panas, macet dan bising di jalan-jalan ibukota.

Tapi bukan berarti keputusan itu tanpa alasan, aku merasa diriku merasa pantas mendapatkan kemewahan itu, setelah “bekerja keras” seharian dan hilir mudik kesana-kemari mengais-ais berita, naik taksi adalah semacam sebuah reward, meski dengan risiko bahwa dompetku jadi cepat menipis dan peluang menabung semakin kecil.

Tapi terlepas masalah materi, dengan keputusanku itu, aku merasa mengkhianati Jakarta, karena Jakarta yang asli adalah bukan Jakarta dalam taksi, atau bukan juga dalam mall-mall mewah yang bertebaran di mana-mana, bukan juga daerah Sudirman dan Thamrin yang setiap melaluinya aku selalu bertanya-tanya terus, benarkah ini Jakarta? Ibukota negara berkembang itu, yang rata-rata pendudukannya menghasilkan kurang dari US$2 per hari.

Miris rasanya, suatu ketika aku diajak naik motor di daerah Jendral Sudirman. Karena macet, temanku ini memilih jalan pintas yang melewati jalan tikus di belakang jalan Sudirman.

Mmm, dan disana kutemui wajah sebenarnya kota yang kubenci dan sekaligus kucinta setengah mati ini. jalan-jalan yang berlubang, rumah-rumah makan murah, bau sampah yang menusuk, rumah-rumah penduduk yang berdempet-dempetan. Tidak menyangka, bahwa kurang lebih 200 meter berdiri gedung-gedung 30 lantai dengan jalan raya mulus 6 jalur tempat mobil-mobil mewah lewat.

“Ada yang ga beres disini,” ujarku dalam hati.

Yang lucu adalah ketika mendengar temanku yang dari Vietnam datang berkunjung ke Jakarta dan dia bilang dia suka sekali naik metro mini.

Haahahaa, dia bercerita bagaimana serunya naik kaleng berkarbondioksida itu, duduk dibelakang supir dan merasakan adrenalinnya berpacu setiap si supir melakukan manuver-manuver yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“It is just like riding a rollercoaster,” dia bilang, aku pun tertawa mendengarnya. Dan ketika bertanya balik apakah kendaraan semacam ini ada juga di negaranya, dia menjawab bahwa itu ada tapi duluuuuuu sekali. Hahahaha, aku pun tergelak lagi. Selamat teman, kamu sudah berhasil mencecap jakarta yang asli, ujarku dalam hati.

dan kemarin, setelah beberapa lama, aku pun pulang naik kendaraan umum.

Rasanya deg-degan, tahu kan? perasaan bertanya-tanya, apakah jalan akan macet atau tidak, kira-kira berapa jam akan tiba sampai dirumah, atau berapa lama si abang supir akan ngetem.. yah ketidakpastian yang menyiksa.

Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang aneh hahahaha, tapi kuakui aku rindu berinteraksi dengan mereka memang. Itu yang selalu kukatakan kepada suamiku ketika menjelaskan kenapa aku memilih pulang naik angkot, aku ingin bertemu dengan orang-orang asing, bertukar pikiran dan belajar banyak dari mereka..dan aku rindu rasa sunyi di tengah hingar-bingar lalu lintas, rasa paradoks yang mencandu itu, yang bisa memaksa otakku berkelana jauh, menemukan hal-hal luar biasa yang tidak kudapatkan ditempat lain.

Dan satu lagi, mungkin kejutan-kejutan kecil yang membuatmu terbahak sebentar dan melupakan segala capek dan penat.

Dan malam itu, aku pun mendapatkannya, duduk di kursi VIP sebelah supir angkot, aku merasa wajah Jakarta begitu dekatnya dengan aku..

hingga tiba-tiba, ada sesuatu yang menggerayangi kakiku..aku pun panik, kakiku menendang-nendang keblingsatan..dan diujung sana aku melihat binatang mungil itu, seekor kecoa dengan tenangnya nangkring di bawah dashboard.

“Bang, itu ada kecoa,” ujarku setengah berteriak. Abang yang sok cool itu cuma menoleh sebentar, berusaha mencari-cari dimana gerangan kecoanya. tapi tidak melakukan apa-apa. “Ga papa yah kalo kaki saya naik jok,” akhirnya aku bertanya..

Dan selama 15 menit, dalam posisi yang aneh bin ajaib di kursi depan angkot C01 jurusan kebayoran ciledug dengan mas supir yang aku tidak tahu namanya, aku pun terhibur untuk sekian kalinya dengan Jakartaku sambil merapal doa-doa, “pergi kecoa..pergiii, jauh-jauh dari aku,”

Comments 4 Comments »