Archive for May, 2009

Saya meyakini bahwa menjadi seorang ibu adalah keputusan mulia yang pernah diambil seorang perempuan dalam hidupnya. Saya selalu salut dengan teman-teman yang berani mengambil keputusan itu karena butuh keberanian yang luar biasa dan rasa tulus yang amit-amit untuk melakukannya.

 

Saya selalu merasa ibu adalah manusia super yang harus bisa segalanya, yah mengurus anak, mengurus suami (aaah, saya bersyukur untuk yang ini karena sepertinya suami saya bukan tipe yang suka diurus), belum lagi ketika si ibu harus bekerja dan memenuhi tuntutan-tuntutan profesionalitas.

 

Di tengah-tengah dunia dengan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, saya rasa dikotomi menjadi ibu rumah tangga atau menjadi ibu berkarir di luar rumah adalah hal yang usang, basi dan bukan pada tempatnya.

 

Meski ada beberapa yang nampaknya masih gundah dengan pilihan-pilihan yang dibuatnya.

 

Ada yang merasa mengorbankan karir, eksistensi diri, kesempatan untuk meraih cita-cita ketika memilih menjadi ibu yang memilih untuk selalu sedia 24 jam di rumah

 

Namun di lain sisi, ada ibu-ibu yang merasa bersalah karena mengabaikan rumah tangganya, tidak mengurus anaknya dengan baik, dan menelantarkan suaminya ketika dia bekerja.

 

Aiih, saya pikir dilema itu sudah lenyap semenjak jaman Kartini, yang dengan perkasa memberikan perempuan di bumi pertiwi ini kesempatan untuk memilih. Memilih apapun yang terbaik untuk hidup mereka dan juga orang-orang di sekitarnya.

 

Lagian berhentilah pakai kacamata kuda, lalu mengkotak-kotakkan pilihan menjadi dua yang hitam putih dan berpikir yang satu lebih baik dari yang lain. Bukan berarti bahwa ibu yang memilih berkarir adalah ibu yang egois, yang hanya memikirkan eksistensinya, dan membuat keluarga jadi urusan kedua. Dan ibu rumah tangga sejati adalah ibu yang notabene lebih baik karena memberikan semua waktu perhatian buat anak dan keluarganya.

 

Aiih betapa picik, banyak juga perempuan yang tidak punya pilihan lain selain membantu suaminya mencari nafkah dengan karena penghasilan sang suami tidak mencukupi kebutuhan bulanan. Dan bukan berarti, bahwa perempuan-perempuan ini kurang sayang kepada anaknya dibanding perempuan yang dirumah  dan menemani anaknya setiap saat.

 

Mereka tak kalah sayang pada anaknya, mereka sangat-sangat peduli pada buah hatinya sehingga memastikan mereka tidak kurang suatu apapun untuk masa depan sang anak.

 

Lagian, kenapa tidak kita hentikan pengkotak-kotakan ini.

Kalo bisa milih dua, kenapa harus pilih satu? Saya rasa ibu Kartini pun tidak merasa keberatan yah kan?

 

Saya percaya bahwa banyak perempuan-perempuan superduper luar disana yang bisa mengurus anak dan suaminya, memberikan cinta kasih yang penuh kepada mereka dan juga berkarir menggapai mimpi-mimpi mereka, meskipun terkadang dengan ironis bahwa mimpi mereka adalah melihat sang anak menggapai mimpi-mimpinya.

 

Dan saya merasa beruntung mengenali seorang perempuan super itu: Ibu saya sendiri. Iyah perempuan jebolan SMA itu bisa melakukannya dengan sukses.

 

Masa saya yang lulusan S1, ga bisa? ;)

 

Comments 10 Comments »

kemarin akhirnya aku memulainya…

kelasku di sore hari

“Ini kan yang dari dulu loe pengin Wil,” ucapan seorang teman mengingatkanku akan mimpi-mimpi itu di malam sebelum kelasku dimulai ..

Aaah…aku jadi semakin deg-deg an menghadapi esok…

bagaimana jika berjalan tidak sesuai yang diinginkan, bagaimana jika tidak ada yang datang..lalu papan tulis mini, spidol, penghapus dan buku-buku bacaan itu..apa yang akan terjadi dengan mereka…

Esoknya, setengah sebelum jam tiga, aku gelisah. tidak bisa tidur siang…

akhirnya aku pun memaksa diriku bangun dan berlari kedepan rumah, menyingkap semua gorden-gorden rumah, membuka jendela dan pintu dan menghambur keluar…

“Mbak, kelasnya jadi kan? setiap hari apa mba?,” seorang anak lelaki menghampiriku tiba-tiba bersama beberapa teman-temannya.

“Jadi dong, kita akan belajar setiap sabtu,” jawabku, sambil bersorak dalam hati ‘mereka sudah ada disini’

aku pun kembali masuk kerumah, mengganti kostumku dengan rok panjang berwarna orange, lalu menyiapkan buku-buku, memilah-milih materi, menulisnya dalam buku catatanku, tentang apa yang harus kuucapkan, tentang apa yang harus ditulis, tentang apa yang harus dipelajari.

Kelik pun ikut membantu. Kami pun sempat berdebat tentang dimana sebaiknya kelas itu berada, didalam rumah atau di taman kecil kami?

aku ingin sekali ruang kelasnya di luar, tapi kelik dengan segala argumentasinya menyarankan supaya kelasnya didalam saja…

aku pun menurutinya.

tak berapa lama, empat orang anak datang…aku pun berkenalan sebentar, namun tak lama kemudian mereka asik dengan buku-buku yang ada, sementara aku masih banyak diam mengumpulkan semua nyaliku untuk meredam rasa gugup ini.

dan berdatanglah lagi mereka..5 orang, 7, 9, 12 14…

hingga seorang ibu datang, “mbak ika, kenapa ga diluar saja?” ketika melihat ruang kami jadi penuh sesak sementara banyak anak yang semakin berdatangan

dan keliek nampaknya juga tidak punya pilihan lain, dia pun memindahkan tikar yang sudah digelar ke taman sebelah…

dan tak berapa lama, jadilah apa yang kuinginkan : sebuah taman belajar dengan 33 orang murid…waw!

hihihihi, sebenarnya ini lebih indah dari apa yang kuinginkan..semua sempurna

kecuali ketika, aku mengumpat “oh shit” dua kali waktu kakiku digigit semut hitam besar…hihihihi

maafkan mba guru yah adik-adik…:)

Comments 9 Comments »

saya tidak habis pikir, kenapa semua orang memperebutkan kursi itu.

entah berapa orang yang akhir-akhir ini terlihat sangat ngotot untuk bisa menjadi presiden di negara indonesia tercinta ini, mereka ada di tv, radio, di setiap berita, di jalan-jalan, di internet..fiiiiuhh!

saya tidak mau menyebutkan siapa saja mereka karena saya tidak mau tulisan saya jadi lahan iklan gratis kampanye mereka. Yah pokoknya orang-orang itu laaah

Tapi coba deh dipikir bapak-bapak dan oiyah ibu yang terhormat, apa enaknya sih jadi presiden di negara ini?

anda harus mengurusi 230 juta lebih orang yang maunya beda-beda, dan tingkahnya bermacam-macam dan susah diatur.

apalagi di era reformasi, yang semua berhak bersuara, semua boleh berkata demi yang katanya dijamin kebebasan berpendapatnya oleh negara. pusing ga sih kalian?

belum-belum pihak-pihak dari kekuasaan lama yang tidak suka dengan perubahan, anda-anda juga harus memikirkan mereka yang tak segan-segan membunuh dan menculik orang dalam mencapai segala tujuannya.

atau para-para aktivis itu yang punya 12 nyawa menghadapi apapun yang tidak sejalan dengan dunia ideal mereka…

dan pada akhirnya kalian harus menebusnya dengan malam-malam tanpa tidur dan hari-hari penat dengan pikiran…Emang enak yah?

saya pernah mendengar presiden yang sekarang mengeluh tidak bisa tidur berhari-hari karena memikirkan sebuah masalah, dan waktu itu memang matanya merah dan bengkak…

dan lihatlah sekarang, dirinya sekarang mencalonkan diri lagi jadi presiden…haha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya

Tapi..sumpah, saya penasaran, sebenarnya apa sih yang ingin kalian cari?

kekuasaan? tapi apa benar seorang presiden di negara demokratis ini berkuasa?  lihatlah gaya para anggota dewan yang lagaknya selangit itu, yang merasa lebih punya wewenang dibanding presiden, yang merasa menjadi pengemban konsep, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat…hahahaha, apalah arti kekuasaan satu orang presiden dibanding 500 cecunguk di gedung parlemen.

lalu apa yang kalian cari? uang…hah?emang bisa yah dengan adanya KPK yang siaga 24 jam menyadap dan menyidik tingkah laku korupsi pejabat atau bisakah kalian melakukannya di tengah wartawan infotainment yang sigap dan cekatan dalam mengendus kasus melebihi penyidik kepolisian?

lalu apa?

fasilitas no.1? hahaha bisa ga sih mendapatkan fasilitas no.1 tanpa punya resiko ditembak.

ngomong-ngomong tentang fasilitas no. 1 jadi inget komentar ibu calon presiden yang dengan jujur berkata adalah bahwa yang dirindukan ketika menjadi presiden adalah saat-saat dimana dia bisa melenggang bebas di jalanan tanpa harus berhadapan dengan maceet.. yah ampuuun, nah tahu kan ibu sekarang, kenapa saya tidak akan pernah memilih anda.

lalu apa? saya belum dapat jawaban niih…

supaya terkenal, atau bisa keliling dunia…aah banyak profesi yang lebih sedikit deritanya namun bisa mendapatkannya…

hayolah, berikan saya alasan, bapak dan ibu calon presiden…

Comments No Comments »