Saya meyakini bahwa menjadi seorang ibu adalah keputusan mulia yang pernah diambil seorang perempuan dalam hidupnya. Saya selalu salut dengan teman-teman yang berani mengambil keputusan itu karena butuh keberanian yang luar biasa dan rasa tulus yang amit-amit untuk melakukannya.
Saya selalu merasa ibu adalah manusia super yang harus bisa segalanya, yah mengurus anak, mengurus suami (aaah, saya bersyukur untuk yang ini karena sepertinya suami saya bukan tipe yang suka diurus), belum lagi ketika si ibu harus bekerja dan memenuhi tuntutan-tuntutan profesionalitas.
Di tengah-tengah dunia dengan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, saya rasa dikotomi menjadi ibu rumah tangga atau menjadi ibu berkarir di luar rumah adalah hal yang usang, basi dan bukan pada tempatnya.
Meski ada beberapa yang nampaknya masih gundah dengan pilihan-pilihan yang dibuatnya.
Ada yang merasa mengorbankan karir, eksistensi diri, kesempatan untuk meraih cita-cita ketika memilih menjadi ibu yang memilih untuk selalu sedia 24 jam di rumah
Namun di lain sisi, ada ibu-ibu yang merasa bersalah karena mengabaikan rumah tangganya, tidak mengurus anaknya dengan baik, dan menelantarkan suaminya ketika dia bekerja.
Aiih, saya pikir dilema itu sudah lenyap semenjak jaman Kartini, yang dengan perkasa memberikan perempuan di bumi pertiwi ini kesempatan untuk memilih. Memilih apapun yang terbaik untuk hidup mereka dan juga orang-orang di sekitarnya.
Lagian berhentilah pakai kacamata kuda, lalu mengkotak-kotakkan pilihan menjadi dua yang hitam putih dan berpikir yang satu lebih baik dari yang lain. Bukan berarti bahwa ibu yang memilih berkarir adalah ibu yang egois, yang hanya memikirkan eksistensinya, dan membuat keluarga jadi urusan kedua. Dan ibu rumah tangga sejati adalah ibu yang notabene lebih baik karena memberikan semua waktu perhatian buat anak dan keluarganya.
Aiih betapa picik, banyak juga perempuan yang tidak punya pilihan lain selain membantu suaminya mencari nafkah dengan karena penghasilan sang suami tidak mencukupi kebutuhan bulanan. Dan bukan berarti, bahwa perempuan-perempuan ini kurang sayang kepada anaknya dibanding perempuan yang dirumah dan menemani anaknya setiap saat.
Mereka tak kalah sayang pada anaknya, mereka sangat-sangat peduli pada buah hatinya sehingga memastikan mereka tidak kurang suatu apapun untuk masa depan sang anak.
Lagian, kenapa tidak kita hentikan pengkotak-kotakan ini.
Kalo bisa milih dua, kenapa harus pilih satu? Saya rasa ibu Kartini pun tidak merasa keberatan yah kan?
Saya percaya bahwa banyak perempuan-perempuan superduper luar disana yang bisa mengurus anak dan suaminya, memberikan cinta kasih yang penuh kepada mereka dan juga berkarir menggapai mimpi-mimpi mereka, meskipun terkadang dengan ironis bahwa mimpi mereka adalah melihat sang anak menggapai mimpi-mimpinya.
Dan saya merasa beruntung mengenali seorang perempuan super itu: Ibu saya sendiri. Iyah perempuan jebolan SMA itu bisa melakukannya dengan sukses.
Masa saya yang lulusan S1, ga bisa?
Entries (RSS)