Jam 18.30
tumben aku sudah menyelesaikan tulisanku, segera kuberanjak ke meja editorku dan pamit untuk bisa pulang lebih cepat.
Aku capek, berangkat pagi sekali hari ini, rajukku pada mereka.
dan mukjizat turun dari surga, mereka mengabulkan keinginanku.
aku pun segera bergegas merapikan perkakas-perkakas ku dimeja, dan beranjak pergi meninggalkan keirian di muka-muka rekan kerjaku yang masih sibuk berkutat dengan tulisan-tulisan mereka.
Mmm, masih sore, jadi belum ada taksi kosti yang mangkal di depan kantor Gramedia..diiringi rintik-rintik hujan yang romantis dan payung hitam andalanku, aku pun melangkah menuju halte didepan jalan untuk menunggu taksi yang lewat..
mmm, tak berapa lama taksi dengan sticker tarif bawah pun lewat, aku pun memberhentikannnya, aaah, senang aku bisa pulang sore dan bertemu suamiku yang sudah menunggu di Poin Square Lebak Bulus, tempat dimana kami bersepakat untuk bertemu untuk kemudian pulang bareng kerumahsenyumpagi, nyaman kami berdua.
aah tak sabar aku sampai di rumah, mendapati rumput hijau, bau tanah, dingin yang menyusup dan tak lupa selimut coklat tebal kami..
aku pun terjaga dari lamunan, supir taksiku membawaku melewati rute yang tidak wajar…
mmm, aku pun menghela nafas panjang
seakan membaca pikiranku, supir itu langsung menjawab, “yah mba, arteri pondok indah macet sekali, ”
Ooo..
memutar lewat BPK, lalu ke sudirman, melalui pakubuwono dan terdampar di jalan menembus arteri pondok indah yang sama macetnya.
mengelus dada. mengutuk. menghela nafas dalam dalam’
ingin berteriak, lalu menyalahkan orang-orang mainstream yang pulangnya kok barengan dijam yang sama, bisakah mereka mengasihaniku yang pulang sore untuk sekali ini saja. mukaku bertekuk tujuh kali tujuh lipat. menyumpahi orang-orang kaya yang terus-terusan membeli mobil untuk anaknya, untuk cucunya, untuk pembantunya, untuk keponakannya, kampret saja mungkin yang belum dibelikan mobil…
gelisah aku di belakang jok taksi. sambil terus-terusan melihat deretan mobil-mobil yang berdesak-desakan tidak bergeming tidak bergerak di depanku.
Mati aku.
Dan aku sadar energiku habis untuk mengeluh, capeek mengumpat dan menyesali diri.
Kalo begini terus-terusan bisa mati aku kelelahan di belakang jok.
Lalu dengan energi yang tersisa, segera kukeluarkan MP3 ku dari tas.
Aku tidak boleh kalah dengan situasi ini.
Enyah segala kutukan setan macet, aku siap menghadapimu dengan sepenuh hati lewat lantunan lagu-lagu MP3 andalanku.
hihihi, iyah aku menyanyi dalam taksi, layaknya karaoke berjalan lah…
mula-mula aku bernyanyi setengah suara, takut kedengaran apalagi mengingat komentar negatif dari firman dan virtri kalo mendengar aku menyanyi, jadi tahu dirilah aku.
lagu Alanis di album terakhirnya adalah yang pertama kunyanyikan, 2 lagu keren Incomplete dan In praise of vulnerable man..fiuuh, tapi susah juga nyanyi lagu alanis ga teriak..di lagu yang kesekian pun aku tidak bisa menahan, keluarlah suaraku memenuhi taksi..(hihih, maklum yah pak supir taksi yang entah siapa namanya, saya sedang menghibur diri, berharap semoga anda juga ikut terhibur..)
bosan dengan lagu alanis, aku pun lanjut dengan lagu-lagu riang, ada Juno yang Anyone else but you, wuah tambah semangat aku…setan macet nya sepertinya hilang ngibrit mendengar suara-suaraku. belum lagi ada Falling Slowly nya Glen hansard dan lagu-lagu OST Once lainnya daaan Orange Skies nya LOVE…mmm
Semua lagu kudendangkan dari tempat awal ku temui kemacetan sampai bunderan PI, dan ternyata masih macet juga ckckckc…aaah, capek juga menyanyi, suaraku habis dan haus…
Lelah.
kulepaskan ear phoneku, lalu aku menempelkan mukaku kejendela, melihat kesamping luar kearah sepeda motor yang melintas melewati taksiku.
Aku sebelumnya tidak pernah melihat ke arah ini, selalu kedapan, melihat jalan, menentukan arah, memastikan tidak ada belokan yang terlewat, dan sekali-sekali mengintip argo, atau paling tidak sibuk dengan handphone, menciptakan keautisan pribadi lewat chatting dan facebook, jarang aku melihat ke samping.
Aku terkesima melihat pemandangan yang ada, aku bisa merasakan semangat para pengendara motor itu, aku bisa berempati dengan mereka, sama rasanya yang kurasakan ketika aku berkendara motor dengan suamiku, rasa ingin pulang, rindu rumah, aku bisa merasakannya dari mata-mata lelah itu, mata mereka menatap kedepan, merah tapi penuh harap menanti-nanti pertemuan dengan orang-orang tersayang yang sudah menanti dirumah.
Ada bapak-bapak yang nampak kikuk dengan kacamata besarnya, ada pasanganmuda yang nampak menikmati perjalanan dengan pelukan erat, anak kecil yang nampak terkantuk-kantuk di himpit ibu dan bapaknya, ada pemuda-pemuda dengan aksesoris lengkap serba gaya yang siap menerjang apapun didepan…aku terharu, menemui banyak rekan-rekan seperjalanan yang menemaniku dalam kebosanan ini.
“Kita sama-sama pulang, teman” batinku dalam hati…dan tak pantas aku mengeluh maupun mengutuk.
Dan sekarang jam 21.15, aku masih juga berkutat di mejaku sambil mengetik blog ini, menunggu suamiku yang masih menunggu sebuah presentasi iklan..
“Ah, sayang ayo kita pulang…”
Entries (RSS)