Archive for December, 2008

saya seharusnya lebih mendengar kata-kata teman saya, Ary, ketika dia memperingatkan bahwa dunia ini tidak aman, begitu banyak orang jahat di luar sana..

waktu itu saya memilih tidak percaya dan meyakini dunia ini tempat yang baik-baik saja..

aaargh, ternyata saya lupa, kalo selain orang jahat, ada orang gila, dan mereka ternyata ada di sekitar kita..

bedanya orang jahat sama orang gila, kalo menurut saya orang jahat adalah orang yang melakukan kejahatan dengan sebuah alasan, sedangkan orang gila, mereka tidak butuh itu..

dan saya menemukan seorang gila jumat kemarin…

waktu itu saya abis liputan dari kementrian BUMN, saya sengaja ingin pulang sore, malas ke kantor. Jadi, setelah mendapat ijin dari kantor, saya pun bergegas ke halte bus way BI untuk bertemu suami saya yang menunggu di halte mesjid agung.

Bertemulah saya dengan pria itu, tidak ada yang aneh sewaktu saya melihatnya pertama kali, bahkan saya baru pertama kali ngeh kalau orang itu berada tepat di depan saya, ketika saya melihat penumpang perempuan didepan pria itu merasa risih dan berusaha menghindar dari kerumunan padat antrian orang menunggu bis waktu itu.

saya pun mulai curiga. apa yang dilakukan pria itu sebenarnya.

Copet jangan-jangan, pikir saya pertama kali…

mba yang didepan pria itu semakin risih, tapi dia sama sekali tidak bisa menghindar dari cowok gila itu karena dia terjepit di penuhnya antrian oarng-orang.

bukan-bukan copet, pervert tepatnya, saya pun buru-buru mengoreksi dugaan saya yang pertama. tahu kan, maksud saya, pria gila yang mencari kenikmatan dengan menggosok-gosokkan alat kelaminnya pada tubuh perempuan di penuh sesak angkutan. bener-bener gila.

dan tibalah bis yang lumayan kosong, hampir semua orang masuk, termasuk saya dan orang itu.

Dasar apes, pria itu berdiri di belakang saya, dan dia pun mulai melakukan aksinya, merapat dekat pada saya, aneh!. waktu itu bis memang penuh, tapi enggak sampe sampe segitunya, sehingga dia harus mendempet saya yang sudah terjepit di depan pintu.

satu detik, dua detik, tiga detik…saya merasa ada yang aneh di bawah sana, aiiiih jijik memikirkannya,

saya pun langsung mendorongnya dan berhasil mengganti posisi di tepat di halte berikutnya, halte sarinah.

tapi semenjak itu, mata saya tidak pernah lepas darinya. saya memperhatikan dirinya benar-benar, cara-cara dia melakukan kegilaan itu, berkeliling mencari mangsa.

Saya tak tahu harus berbuat apa. Mungkin saya salah menduga, tapi itu yang tertangkap dari setiap gerak-geriknya.

Dia mendekati perempuan-perempuan lain didalam bis, menempelkan badannya erat-erat kemereka. ada yang sadar dan beranjak, ada yang diam tak sadar. sementara setiap penumpang berubah posisi, dia trus mencari mangsa baru.

Sementara saya terus memperhatikannya di pojok lain, saya terus berpikir, “ini gak bener, saya harus berbuat sesuatu,” namun “tapi kalo saya salah gimana, apa yang akan terjadi,”

Hingga tiba-tiba pria itu berdiri di depan saya, dan dia hampir mendekati perempuan yang ada disamping saya.

Lalu, tiba-tiba kalimat itu terucap,” kenapa sih pak deket-deket gitu, ada masalah?”ujat saya.

Dia nampak kaget. lalu berkata, “kenapa emangnya,”

Ketika itu saya menggunakan kesempatan itu untuk melihatnya benar-benar dari ujung kaki sampe ujung kepala.

kami pun bertatapan mata beberapa saat. saya melihat rasa sebal disana, tapi saya membalasnya dengan tatapan tak kalah benci. memperhatikan orang ini sungguh-sungguh, apa yang dicari sebenarnya waktu itu saya memang tidak berteriak, tapi lima-enam orang yang berdiri di dekat kami mendengarkan kami.

Sebuah tag name perusahaan terjulur aneh dibawah dekat kancing celananya. Fiuh, dugaan saya benar, pria ini ini orang gila. Tag name itu dipakainya untuk memudahkannya ketika membuka celananya. SINTING!.

setelah kebisuan beberapa saat, saya berujar lagi, “orang lain ga tahu, tapi saya tahu pak,”

HAH! mati kutu dia…

dia tidak bisa menjawab.

di halte selanjutnya dia pun keluar.

memang banyak orang sinting atau bahkan jahat, seperti kata teman saya Ary, tapi bukan berarti kita diam saja buka. LAWAAAAAAN!

Comments 2 Comments »

apa persamaan janis joplin, feist, davina veronica, wulan guritno, bonita, anak seorang dosen di ikj,  dan teman anak tukang pecel yang tinggal di jember…

percaya atau tidak, semuanya mirip aku. setidaknya itu kata-kata orang mulai dari teman-teman, orang asing di pinggir jalan sampe tukang pecel deket rumah

iyah mukaku ini emang pasaran banget, dan itu bukan hal-hal baru banget buatku, aku menyadarinya semenjak banyak orang baik yang kukenal atau tidak kukenal bilang aku mirip seseorang, entah itu adiknya, tetangganya, saudara iparnya, teman kakaknya…

Sebal? mmm, ga juga sih, apalagi kalau dikatakan mirip sama artis-artis hehehe, tapi bukan itu juga, karena banyak cerita-cerita lucu dan kejadian-kejadian menyenangkan yang lahir ketika bertemu dengan orang-orang asing yang menyangka aku adalah seseoarng yang mereka kenal.

seperti yang terjadi dengan tukang pecel yang jualan dekat rumahku, suatu ketika ketika ingin membeli pecel, si ibu penjual pecel itu berujar kalo aku mirip dengan teman anaknya yang tinggal di jember, lalu bercelotehlah dia selama kami makan disana…

setelah itu, hubungan kami pun jadi akrab, mesti tidak mengenal nama, dia mengenali aku sebagai seseorang yang mirip dengan sahabatnya anaknya di Jember…

Terkadang mengalami juga kejadian yang tidak mengenakkan, tapi buatku sih tetap lucu karena membuat orang-orang bingung menyangka diriku seseorang yang mereka kenal.

Ketika nonton Jiffest di TIM, aku mampir ke toko buku-buku tua dan disana sewaktu aku sibuk melihat-lihat buku, si penjaga toko menghampiriku dan berkata,”Sudah kerja atau masih sekolah?” Aku pun yang kebingungan, menjawab, “sudah kerja pak, emang bapak ingat saya,” sambil senyum-senyum kege eran karena bapaknya inget diriku yang satu-dua kali baru kesana…

Lalu dia bertanya lagi,” ibu masih ngajar?” Nah lho, tahulah aku kalau bapaknya ini baru saja jadi korban mukaku yang pasaran hehehehhe, “bukan pak, bapak salah,” “ooh..bukan yah…,” sambil berlalu dan merasa tidak enak.

akhirnya aku berpikir kalau muka pasaran itu memguntungkan juga, meskipun aku sering kali jadi sasaran empuk orang-orang sok akrab, berkat muka sejuta umat ini, aku bisa berbicara dengan orang-orang asing dan mengenal mereka.

Karena salah satu hal yang menyenangkan hidup di Jakarta ini adalah ketika kamu terlibat pembicaraan dengan orang asing dan menikmatinya, atau bahkan ketika kamu bisa belajar banyak dari mereka.

Sama ketika aku bertemu pak Ansori, supir taksi Bluebird berumur 39 tahun yang tinggal di Depok 1, punya tiga orang anak dan istri cantik keturunan Arab Kalimantan. (hah, aku benar-benar mengenalnya)

Pertemuan kami tak disengaja, ketika itu aku sedang mencari taksi di bilangan pondok indah, hingga datanglah pak Ansori ini…dan ketika aku masuk dalam taksi itu, dia berkata, kalau awalnya dia berpikir aku ini wulan guritno (blah!), karena kebetulan wulan guritno kata dia tinggal disana…(tidak diucapkan apakah dia kecewa atau tidak, begitu mendapati dirinya salah..hehehhe) dan dari sanalah percakapan kita mengalir seru, dia bercerita tentang kegemarannya berolahraga, tentang keluarganya, dan dia memberikan beberapa tebak-tebakan dan lelucon yang mampu menghiburku setelah lelah seharian mengikuti sebuah tes…

Terimakasih pak Ansori, buat sore yang menyenangkan!

Comments 4 Comments »