Archive for October, 2008
kemarin sebetulnya ga kaget kaget amat diriku, waktu mendengar akhirnya anggota dpr bodoh-nan-korup-dan-kurang-kerjaan itu akhirnya mengesahkan undang-undang (UU) anti pornografi.
Miris juga sih. Sedih bahwa UU ini jadi ancaman buat dunia kesenian dan kebudayaan yang ada di Indonesia karena kebebasan berekspresi bakal dibatasi, dibatasi entah sampai mana, tidak jelas juga patokannya. Lalu lalu, Dewi Persik, Inul, dan model-model yang berpose menggoda di halaman depan majalah bakal sering dipanggil ke polisi.
Nah, lalu bagaimana dengan aku dan jutaan perempuan di Indonesia. Apakah UU ini juga akan berpengaruh pada kami?
Mmm..seorang teman dari Australia yang tak mau kalah mengomentari UU aneh ini, berujar bahwa dirinya terlalu seksi untuk UU itu. Bentuk kakinya yang jenjang, bibirnya yang penuh, rambutnya yang berantakan sehabis bangun tidur..waaah, dia seksi bangeet dan bisa membuat cowok-cowok di jalan klepek-klepek. Apakah dia bisa ditangkap gara-gara itu?
Masalah ditangkap-menangkap. Aku jadi berpikir apakah nanti akan ada polisi-polisi moral di pinggir jalan, yang menangkapi cewek-cewek yang dianggap seksi dan mengundang syahwat. Bah, polisi kurang kerjaan, kayaknya banyak sekali pekerjaan yang bisa mereka lakukan, ketimbang melototin cewek-cewek di pinggir jalan.
Lalu bagaimana? Apakah nanti sistem penangkapan ini didasari atas prinsip penggugat dan digugat? ada yang melapor ke pihak berwajib, kemudian yang dilaporkan di proses?
Mmm…tapi kalau begitu apa yang membuat digugat lebih bersalah ketimbang yang menggugat? Karena mereka dengan otak ngeres juga bersalah doong, jadi bukan cuma mba-mba yang berpakaian seksi itu doang dong…
Misalnya, sebutlah si Kuntul, menggugat seorang cewek yang dianggapnya terlalu seksi dan menggoda. Lalu parameternya apa? Yah gampangnya, si cewek itu membuat si Kuntul kontolnya ngaceng. Nah, mana bisa ceweknya saja yang disalahkan. Karena hubungan antara cewek yang seksi dengan kontolnya kuntul yang ngaceng adalah pikiran kuntul yang macem-macem (ngeres). Ga mungkin kan tiba-tiba ngaceng karena ada cewek seksi, pasti harus ada yang membuat berdiri. Titit, kontol ataupun penis (terserah anda mau sebut apa) adalah sama seperti anggota tubuh yang lain, yang dikontrol sama pikiran.
Atau misalnya masalahnya begini, si penggugat bukan satu orang, tapi banyak orang, si Kuntul dan teman-teman. tapi aku yakin standar ngaceng antara satu orang dengan yang lain kan beda-beda. Belum tentu Kuntul ngaceng yang lain ikut ngaceng. Yah kan?
Konsep seksi lalu bukan pemahaman individu, tapi jadi konsesus sosial. Dan konsesus itu kemudian bisa dinegosiasikan. Menurutku yang lebih taktis, adalah bermain-main dengan konsep seksi ini, misalnya aku yang bermata besar dan berambut ikal, berusaha sekuat tenaga membuat bahwa konsep seksi itu juga ada pada mereka yang bermata sipit dan berambut lurus. Mmm…
Jadi kalo misalnya dipengadilan nanti, ketika si Hakim bisa bertanya pada pihak penggugat,” Siapa yang ngaceng melihat mbaknya? yang ngaceng, ngacung hayo…,” Penggugat pun bingung karena begitu banyak konsep seksi yang ada kepala mereka masing-masing. Mau ngaceng, jadi ragu-ragu!
huahahaha…
Mmm, jadi inget cerita waktu Yesus membela seorang perempuan pelacur yang akan dilempari batu oleh sekelompok orang, Dia berkata waktu itu,” siapa yang merasa tidak berdosa, berhak melempari batu duluan,”
Dan aku hanya bisa berujar,” Yak, yang ngaceng, ngacung!!”
*diinspirasi dari obrolan tengahmalam dengan Kelik
7 Comments »
Dirimu tepat duduk didepanku, bergoyang kekiri kekanan dengan kursi yang kau duduki, sambil nikmat menghisap rokokmu.
Itu rokokmu yang pertama, Bung –yang entah ku tak tahu namanya.
Aku memilih sibuk, enggan memperhatikan dirimu. sibuk mengetik artikel yang harus segera kukirim. Iyah editorku dikantor, sedang menunggu berita yang sedang kuketik. dan aku memang tidak punya pilihan lain, selain mendaratkan diriku ke ruang pers di gedung bursa efek indonesia dimana wartawan diperbolehkan merokok dengan bebasnya.
Dan kamu, adalah salah satu diantara perokok itu.
dan kamu pun menyalakan rokokmu yang kedua tanpa beranjak dari hadapanku.
aku masih mengetik, sesekali melihat kesal kepadamu, tapi kamu sama sekali tidak merasa. Fiuh, monyet bener. tapi aku malas aku menegurmu. Terserah mau berapa batang rokok yang kau hisap, aku tidak peduli. Kamu mau mati besok pun aku tidak peduli.
Lalu, akhirnya sampailah pada batang rokok yang ketiga.
Aku pun tak tahan.
“Eh mas, itu udah batang rokok yang keberapa, tahu ga?”
Tanpa memberimu kesempatan untuk menjawab. aku pun langsung menyerocos
“Itu yang udah ketiga, tahu ga? Bosen ga sih situ? Saya ajah bosen…,”
Dan dirimu pun terdiam, lalu mundur pelan-pelan dari hadapanku.
terimakasih!
2 Comments »
Siang itu aku ternganga, mendengarkan seorang teman yang baru kukenal menceritakan mimpi-mimpinya.
Di sela-sela kesibukan liputan, sambil menunggu narasumber, kami memutuskan menepi ke warung kopi di ujung gedung kantor.
Dan disanalah dia membagi mimpinya padaku. Mimpi menerbitkan buku berseri. tujuh seri pula!!!
ckckckck, mimpimu hebat, teman!
dalam batinku, aku sedih. menyadari betapa aku begitu terlena dengan kenyamanan yang sudah ada. menjadi diam dan sedikit-demi sedikit lupa pada mimpi-mimpiku.
Hingga kemarin perjalanan pulang ke Jogja membuka mataku. Bertemu banyak orang, berbincang dengan teman-teman lama, mengunjungi dan berkenalan dengan orang baru, belajar banyak dari mereka dan mimpi-mimpi mereka.
dan aku pun diam-diam mulai merumuskan mimpi-mimpiku lagi.
Aaah, setidaknya sekarang aku tahu kemana mengejar mimpiku…
5 Comments »
katanya kemarin, aku jadi bagian dari sejarah..
iyah menyaksikan bahkan menulis tentang penghentian perdagangan di pasar saham karena terpuruknya nilai index. Ini pertama kali dalam sejarah di Indonesia bursa saham dihentikan karena dorongan pasar, dulu pernah tahun 2000, tapi karena ada bom meledak di basement gedung BEJ (sekarang BEI)
Bangga gitu Ka?
Aaah, boro-boro, ribet malah..ikutan pusing melihat semua orang pusing.
Pusing bener-beneran pusing karena aku harus membatalkan janji dengan dokter gigiku, dan harus lari terbirit-birit, menunggu taksi argo tarif bawah yang tidak juga datang, tergopoh-gopoh mencari ruangan tempat diadakannya konferensi pers, tersesat karena seharusnya pergi ke lantai 6 tower 1, bukan lantai 6 tower 2, dan terbengong-bengong ketika mendapati ruangan sudah kosong, kelabakan mencari rekaman, pergi ke ruang press room yang penuh asap rokok, mencoba bertanya pada rekan-rekan wartawan lainnya apa yang dikatakan para petinggi, mesti tahan dengan ledekan yang lainnya, karena aku terlambat datang, mendengar khotbah wartawan senior yang mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. bete, sedih, pengin marah, diam.
Lalu beranjak, dengan tenaga yang tersisa, mencoba mewawancarai siapa saja yang bisa diwawancarai, para investor, trader, orang sekuritas, mencari data disana-sini, mengejar para analis, meminta komentar.
Fiuuh…Capek.
Lalu kembali lagi ke press room. menunggu rapat antara pialang dan direktur BEI. menunggu.menunggu. menunggu dan menunggu.
Hingga akhirnya tak tahan, aku pun memutuskan untuk beranjak pergi, kembali ke kantor.
Lalu bertemulah dengan Pak Nasuha, supir taksi yang membawaku pergi dari neraka itu.
“Saya pusing nih Pak,”
“Hehehe..,”
“Bapak tahu, kalo pasar saham sekarang tutup?,”
“Masa iyah? kok saya ga tahu..,”
“(Enggak penting juga tahu Pak, batinku) Iyah pak, gara2 turun drastis,”
” Waah, sampai kapan Mbak,”
“Enggak tahu pak,”
“Ini gara-gara Amerika yaah..”
diam
“Orang saya ga ngapa2in, punya duit disana juga ga..eeh ikut-ikutan pusing,”
“Mbak kerja apa?,”
“Saya wartawan pak,”
“Ooo…wah kebetulan ini saya jualan beras organik, bagus lho mbak,” ujar pak Nasuha sambil menyodorkan selebaran iklan produknya. Lalu dia bercerita tentang usahanya,menjelaskan produk-produk yang dijualnya, usaha-usaha apa yang dijalaninya selain jadi supir taksi dan penjual beras organik. bercerita tentang istri dan dua anaknya yang berumur 8 tahun dan 5 tahun.
Aku lupa, bagaimana aku menutup pembicaraanku denganya, pada akhirnya aku membeli satu kantong beras pandan wangi isi 5 kg darinya.
Senang.
Berbicara dengan pak Nasuha, membuka mataku, bahwa hidup itu lebih dari sekadar pasar modal yang jeblok.Langit masih biru dan matahari masih bersinar, bukan begitu Pak?
4 Comments »
Hari ini, aku tiba-tiba kepengin jadi laki-laki
Panas sekali sore ini, dan hujan juga tidak turun-turun. Geraaah.
Aku terperangkap dalam kamar di depan laptop menulis artikel yang ingin kukumpulkan besok. Dan disana, aku melihat suamiku berusaha membuka satu-dua daun jendela kamar, lalu mondar-mandir dengan nyamannya sambil bertelanjang dada.
“Mmm…aku juga bisa kok kayak kamu, sayang,” ujarku, membuka kaosku dan BHku…
Memang nyaman. aku tidak lagi kegerahan dan tidak ada lagi tali BH yang ketat mengikat tubuhku.
Iyah, aku sampai sekarang masih sebal sama siapapun yang menciptakan BH, karena alasannya sebenarnya ga jelas, kecuali memang ketika melihat BH dari kacamata bisnis, melihatnya sebagai industri pakaian dalam wanita yang nilainya tidak bisa dipandang sebelah mata. Makanya ada Triumph, Victoria’s Secret.
Terus alasannya apa?
Untuk estetika? mmm..kayak bagusan ga pake bukannya yah?
Untuk melindungi? melindungi dari apa yah? belum pernah aku mendengar atau membaca atau menonton berita tentang seorang perempuan diselamatkan oleh BH. kecuali memang ada BH yang terbuat dari besi baja atau BH yang punya kode rahasia, yang bisa menyelamatkan payudara-payudara dari tangan-tangan dan mata-mata lelaki blingsatan.
Oooo mungkin sebagai alat pemanis disesi foreplay? mmm…boleh boleh. tapi masa aku harus memakainya sepanjang hari, demi kenikmatan lima belas menit.
Beruntunglah laki-laki yang tidak harus repot dengan BH
3 Comments »
Iyah aku menginginkannya.
mencium bibirnya sampai tuntas dan memeluk tubuhnya erat erat.
Salah yah? seorang perempuan bersuami menginginkan pria lain?
“Sayang, aku boleh ciuman sama Alex Komang ga?” tanyaku suatu pagi pada suamiku tersayang.
Sebelum dia menjawab, aku pun membeberkan skenario andalanku kepadanya,”Mmm, semisal aku hamil dan aku ngidam mencium Alex komang gimana. Masa ga boleh?”
Diapun pun diam. dan tak lama kemudian dia dengan usil, berkata,”iyah tapi aku harus mengajaknya makan dulu di warung sunda dekat rumah, dengan menu andalan pete dan jengkol lalu kusuruh dia merokok satu bungkus rokok,”
Mmmmmmpppfff.
Lalu kalo, Jude Law? ujarku
Suamiku mengeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Hehehe, pengin ajah boleh doooong.
No Comments »
|