Archive for August, 2008
Ini kenapa menonton film itu perlu…
Suatu ketika, suamiku pulang membawa film yang jadul banget, “The Pirates Of Silicon Valley” Wah, bingung juga kok filmnya itu. Tapi dengan semangat, suamiku yang maniac mac itu pun cerita kalau film ini tentang bagaimana Steve Jobs dulu berjuang dari nol sampai besar, dan gak itu saja difilm itu juga ada Bill Gates.
Yah, whatever deeh, pokoknya malam ini ada yang ditonton deh, setelah stok DVD rumahsenyumpagi semakin menipis, aku pun tidak punya pilihan lain, setidaknya bisalah membantuku cepat bobo lewat ritual menonton sebelum bobo dirumahsenyumpagi
Sepuluh menit, dua puluh menit filmnya ternyata seru beneer, karena kita jadi tahu sejarahnya bagaimana mereka semua berusahaa dari nol dengan cara2 licik mereka…(aku ga mau jadi spoiler, lebih baik nonton sendiri deeeeh)
Satu hal yang kudapat dari film itu, aku diteguhkan bahwa membajak itu enggak apa-apa kok, terlepas bahwa itu dilarang hukum yaah..karena mereka pun melakukannya, Jobs melakukannya, Gates melakukannya. Pandanganku tentang mereka berubah, mereka bukan penemu-penemu jenius, tapi hanya pebisnis yang tahu bagaimana caranya berdagang…
Selama ini memang aku ragu, apakah membajak itu boleh atau tidak, karena secara etis kita mencuri sesuatu dari orang lain, tapi saya masih suka tuuh beli-beli dvd bajakan di ratu plaza, mencari film-film festival yang belum tayang di bioskop…saya merasa salah tapi saya tetap melakukannya
…tapi setelah melihat film ini, melihat bagaimana orang-orang besar itu mencuri, saya jadi semakin diyakinkan, membajak itu ga pa2…
Good artists create, Great artists steal!!!
2 Comments »
Kata seorang teman, kalo kamu udah kangen makanan rumah, itu tandanya kamu home sick!
Ya iyalah, siapa yang tahan sama makanan Jerman yang sekaku orang-orangnya.
Cabe ga berasa pedas, Nasi berasa hambar, semua berasa sama di mulut. Datar.
Andalanku palingan curry wurst, sosis bumbu kari dengan kentang gorengnya, yang porsinya gede amit2 dan pasti aku ga habis.
Tapi untunglah, ada Chinese foods, merekalah yang menyelamatkanku di Jerman.
Aku jadi maniak mie goreng disana, setiap saat selalu mie, mie pake ayam, pake babi, pokoknya mie.
Aku selalu mengajak temanku Priska ke restauran China, karena denganya aku bisa share porsi yang emang terlalu besar untuk dimakan sendiri. HUah, tapi dia lama-lama bosan. "Mie lagi, Ka?" hehehehhee
Iyah, tapi tidak bisa dipungkiri makanan asia adalah makanan satu-satunya yang paling berasa di tempat itu.
Hidup Chinese foods, you save me… Tapi heran juga, waktu aku berada di Shanghai dan Beijing, aku tidak pernah cocok dengan makanan disana, terlalu "hidup" rasanya di lidah. Semua mereka makan, dari kalajengking, kaki seribu..hiiiiiiiiiiiiii. dan untungnya ada uncle McDOnalds yang menyelamatkanku
Kembali ke makanan di Jerman, ternyata kebiasaanku makan Chinese Foods terbawa ke mana-mana, maunya makan mie dimana2, bahkan di Paris…
Hihihi, untungnya di paris ada restauran Vietnam yang dekat dengan tempat dimana kami menginap, enaaaak bangeeet, lebih enak dari makanan perancis yang kalo gaterlalu mahal, pasti ga enak. Fiuuuh.
Setelah itu mulailah aku mencoba makanan-makanan Asia di benua eropa, Thailand, Vietnam, China..bahkan waktu di praha, aku sama sekali tidak mencoba makanan disana, dan lebih memilih mencari Chinese restaurant. Huah….
Tapi memang ga da yang ngalahin, tempe goreng, sambal terasi, rendang, mie ayam, somay, gorengan pinggir jalan.
Kalo dalam hal ini, Indonesia memang no. satunya deh!
No Comments »
setelah kebebasan berpendapat dan mengeluarkan pikiran dan lalu kebebasan berekspresi, saya mengusulkan satu hal lagi yang menurut saya tak kalah pentingnya: kebebasan perpakaian.
Penting karena pakaian adalah salah satu cara bagaimana orang bisa berekspresi.
Kemarin saya baru saja dapat undangan, yang didalamnya tertulis, pakaian: PDH. Nah lo bertanya-tanya apa kira2 PDH itu, dan editorku pun dengan lekas menjawab: Pakaian Dinas Harian.
Yah ampun, hari geneee…
Aku mendapatkan hak kebebasan berpakaian baru-baru saja, setelah aku bekerja dan lepas dari tanggung jawab bapakku. Iyah, saya berhasil mendapatkan kebebasan itu darinya, setelah sekian lama dia selalu mengomentari caraku berpakaian, yang memang selera sedikit berbeda dengan orang lain. Saya tidak bisa menolak, ketika dia berkomentar, "Janga pake itu ga sopan,", "Mbok diganti bajunya, mosok pake pakaian kayak gitu," "Itu terlalu terbuka, ganti sana bajunya,"
Dia tidak pernah bertanya apakah aku nyaman atau tidak.
Tapi aku sudah lama menutup kupingku pada orang-orang seperti itu. Sebenarnya aku masih belajar untuk itu, untuk lebih mengutamakan rasa nyamanku ketimbang omongan orang-orang.
Belajar untuk membela hak-hak ku untuk berpakaian senyamanku.
Suatu ketika aku pernah mendamprat kakak kelasku, yang mengomentari caraku berpakaian.
Kudatangi dia, "Emang ga ada kerjaan lain, Mas? mbok urus urusan situ ketimbang ngurusin orang lain," Aku pun pergi.
Wuah, rasanya puas.
Tentu saja, aku tidak bisa melakukan hal itu pada bapakku. Aku lebih memilih menutup kuping ini, tidak ngomong satu patah katapun, dan tetap memilih memakai pakaian yang dia komentarin. Kupikir sekarang ini dia tahu bahwa dia tidak akan pernah menang di pertarungan ini.
Dan untuk tukang ojek depan kantor, yang sangat perhatian dengan caraku berpakaian? aku punya cara jitu.
Suatu ketika ojek langgananku mendekati dan berbisik, "neng, itunya kebuka tuh," aku pun menjawab, "emang begini bang modelnya," dan meninggalnya yang nampak bingung dan malu.
Please, mind on your business!
4 Comments »
Doain aku yah…
Aku lupa kapan aku pernah mengucapkan kata-kata itu pada seseorang, mungkin terakhir kali ketika aku terlibat dalam pembicaraan dengan kakak-kakak kelasku yang sekarang ada di Singapura dan Berlin untuk sekolah.
"Doain aku, yah supaya dapat beasiswa dan menyusul kalian," aku berkata kepada mereka.
Lalu aku merasa aneh.
Iya aneh, karena sebelumnya aku baru saja mengungkapkan kekecewaanku pada seseorang yang terlalu sering mengucap kata-kata itu…
"Doain aku yah supaya…," "Doain aku yah biar…," "Doain aku,"
Fiuuuh, sedemikian putus asa kah aku? Usaha. Kata suamiku setiap usaha adalah doa. Apakah aku tidak percaya lagi dengan usaha-usahaku, sehingga meminta tolong orang lain? Iyah, aku jarang berdoa akhir-akhir ini, mungkin untuk itu aku meminta orang lain berdoa untukku… Tapi apakah dia ada? Tuhan itu ada? Atau orang-orang yang mendengar doa itu ada?
No Comments »
coba apa yang bisa dilakukan 10 cewek dari 9 negara berbeda jika mereka berkumpul di satu tempat.
bertukar kebudayaan masing-masing? huehehehehe yah paling tidak itu awal yang baik berbagi latar belakang hidup dan suka duka percintaaan? ya iya laah… menggosip? sudah pasti itu mmm…apa lagi yaah?
hihihi, tentu saja membicarakan TITIT!!
ide itu datang tiba-tiba, sehabis mengunjungi stadium olimpiade di berlin, bangunan kokoh, kuat dan megah jaman peninggalan hitler..entah kenapa aku merasa bosan, sudah tiga minggu aku di jerman, dan mulai kangen rumah…
dan tiba-tiba, aku berkata pada teman perempuan ku dari Filipina namanya Becca, Becca, pls say TITIT…and then she obidiently said with her high pitched voice: TITIT…when i first heard it, the word seems so funny…
lalu dia tanya, emang apaan itu? aku bilang, i try to teach you an Indonesian word… gw sama priska, temanku yang juga dari Indonesia, tertawa bareng
"Well it sounds nice," she then said. Hehehhehehehe…
sampe akhirnya kita ga tahan dan ngaku kalo di Indonesia itu artinya penis, dan kemudian dia bilang kalo ternyata ga jauh beda sebutannya, mereka menyebutnya TITI
lalu terbayanglah di benakku nama-nama seperti Titi Puspa, Titi Kamal, dan Titi -Titi lainnya di Indonesia huahahhahahha, aku pun tertawa terbahak-bahak
Ini menyenangkan ternyata.
Aku pun mulai menanyakan teman-temanku yang lain TITIT dalam bahasa mereka, ada yang menolaknya malu-malu, ada yang diam sambil tertawa, ada yang bilang bangsa mereka punya banyak istilah untuk itu, tapi dia sama sekali tidak bisa mengingatnya satu pun. Tapi tentu saja ada yang menjawabnya lantang dan serius, KOTI, in Ghananian, my friend Becky answered.
Wah, bapakkku dirumah pasti marah besar kalo melihat kelakukan anaknya di negri orang, ingat benar aku waktu dia menabok mulutku ketika aku mengucapkan kata-kata yang dianggapnya jorok.
Waktu itu aku tidak mengganggap kata-kata itu jorok, hanya saja memang kata itu mengacu pada alat kelamin, yang seharusnya kan enggak beda dengan anggota tubuh yang lain bukan? memek, titit, nunuk, kontol, penis itu sama seperti tangan, kaki, mata, bahu, perut..di alkitab pun berkata demikian, jangan mendiskriminasikan anggota-anggota tubuhmu, karena mereka punya fungsinya masing-masing… Ya kan?
dan di sana bersama teman-teman perempuanku di sana, kami pun menikmati kosakata-kosakata baru itu : TITIT, TITI, KOTI, PULA….atau apapun itu….
2 Comments »
|