Pagi yang bodoh.
Aku baru sadar bahwa pasporku ketinggalan di rumahsenyumpagi, padahal pagi itu aku berada di rumah bapak ibu di Ciledug, karena malam sebelumnya aku dan kelik memutuskan menginap disana supaya besok paginya bisa berangkat pagi-pagi untuk mengurus visa di kedutaan.
panik panik panik.
dan ojek cinta pun berkeberatan untuk mengantarkanku karena proyek iklannya yang dikejar deadline.
Dan harapanku cuma kamu: abang-abang ojek.
mmm…lalu terbayang di otakku, berapa yah ongkosnya untuk perjalanan dari Ciledug-Cinangka-Kuningan…Rp 50,000, Rp 70,000…mmm ga kebayang.
tapi aku ga punya pilihan.
Berapapun pasti aku bayar, karena aku dikejar waktuu…
berpikir kemudian, bahwa ketika aku memilih ojek pasti memang pertimbangan utamaku adalah waktu. ojek bisa secepat kilat membawaku menuju tempat tujuan (meski pernah juga aku membonceng tukang ojek yang lelet). Tapi tetap, jika ingin berkelat-kelit menghindari kemacetan Jakarta dengan lincahnya, ojek adalah jawabannya.
Pernah ada seorang wartawan dari Singapura yang bertanya padaku, sebenarnya tarif ojek berapa sih? hihihihi, cukup bingung juga siih, gimana yaah
selama ini aku membayar dengan beberapa pertimbangan, pertama tentu saja pertimbangan jaraknya, kemudian bagaimana tukang ojek membawa kendaraannya, kan ada tuuh yang serampangan ngebut begitu saja, kemudian seberapa lincah dia menghindari kemacetan, seberapa kreatifnya dia menemukan jalur2 kreatif, seberapa ramahnya dia, bau badan dan helm yang menjadi fasilitas juga jadi pertimbanganku…
Tapi saranku jangan menawar kalo mau naik ojek, langsung ajah mbonceng di belakangnya, seolah-olah kamu sudah terbiasa naik ojek dan tahu ongkos sebenarnya, karena kalo gak, mereka pasti dengan sengaja menawarkan tarif yang tinggi, apalagi tahu kalo penumpangnya orang asing.
Kembali ke rute Ciledug-Cinangka-Kuningan, aku pun berhasil mendapatkan ojek depan gang, namun sayangnya dia hanya mau mengantarku Ciledug-Cinangka-Lebak Bulus dengan alasan rute yang ditawarkan sangat jauuh…
Yah begitulah, demi waktu yang terus mengejaar, aku pun naik..tapi nampaknya tukang ojeknya kurang canggih, memilih rute yang macet dan akhirnya memilih untuk putar balik… huhuhuhuhu, keburu ga yah sampe ke kedutaan, cemasku dalam hati.
Namun akhirnya sampai juga, dengan beberapa kriteria penilainan yang kucatat selama perjalanan, aku pun menyodorkan Rp 30,000 kepadanya, yang kemudian ditolak tukang ojek nya habis2an
"Rp 50,000 neng, ke lebak bulus ajah udah Rp 30,000," ujarnya memelas.
Dan aku pun tidak bisa menolak, karena meskipun lambat dan cara membawa motornya yang hancur (karena setiap lewat polisi tidur pasti aku terpelanting diatas jok motor belakang) aku pun membayar sesuai dengan yang diminta.
Waktu memang tidak ada hargaku, pikiriku bijak.
Beralih ke tukang ojek kedua, yang siap mengantarkanku dari Lebak Bulus ke Kuningan, aku sudah tahu sepertinya tukang ojek ini sangat berpengalaman, melihat dari kostumnya, helmnya…
dan benar, teman….
dia membawaku secepat kilat…bussyeeet, benar-benar kaya pembalap.
ngebut tiada tara, dan tidak pernah berhenti sedikitpun waktu macet, selalu berusaha mencari celah-celah yang memungkinkan, dan juga lincah mencari jalur-jalur alternatif.
Dan sempat-sempatnya dia mengajak ngobrol diriku dengan ramahnya.
Wah, kalo ada pemilihan tukang ojek terbaik di Jakarta, pasti bakal ku nominasikan dia untuk jadi pemenangnya.
Dan ajaib, setengah jam dari lebak bulus aku pun sampe di kedutaan yang kutuju di didaerah Kuningan, padahal pagi itu jalan lumayan macet…
Ckckkckckck…
Menutupi rasa kagumku, akun pun kali ini bertanya pada abang ojek itu," berapa bang ongkosnya?"
"Rp 40,000,"
dan aku tahu itu harga yang pantas untuknya.
Good quality comes with Good price, i believe that.
Entries (RSS)