Pepatah "malu bertanya sesat di jalan" ternyata tidak selamanya benar, apalagi jika kamu tersesat di kota Shanghai, dimana jarang penduduknya bisa bahasa Inggris dan membaca bahasa latin.
Hari pertama tiba, aku dan rekan jurnalis — mas Baskoro dari Tempo dan mas Hermas dari Kompas– sepakat untuk jalan-jalan. karena toh memang belum ada acara yang penting. Kami sepakat jalan ke "the bund" dan mengunjungi semacam wilayah heritage di Shanghai, yah semacam kota tuanya Jakarta deeh…
Dengan semangat 45, kami pun memulai perjalanan itu dan siap akan segala konsekuensinya: tersesat di jalan.
Yah, jikalau kami tersesat, toh bisa tanya orang, pikir kami.
Tapi tidak semudah itu bertanya di kota metropolis ini, apalagi jika kamu tidak bisa bahasa China.
Sedikit kesal setelah mendapatkan jawaban hampa dari beberapa pejalan, dengan sedikit berspekulasi, Mas Hermas, pun akhirnya mengajak kami untuk bertanya pada orang-orang muda, yang memakai dasi dan berpakaian kantor, dengan alasan mereka nampak lebih "berpendidikan"
Hihihihi..benar juga anjuran mas hermas, meski ada satu-dua dari mereka yang hanya penampilannya yang okey, tapi dalamnya ….
Singkat cerita, dengan naik subway train, sampailah kami di The bund dan berjalan-jalan sampai ke Old Town…(jika ingin melihat foto, bisa lihat ke psychopatika.multiply.com)
Setelah puas berjalan-jalan dan foto, kami pun sepakat untuk kembali ke hotel, karena ada acara makan malam yang harus kami hadiri, dan supaya cepat, kami pun sepakat untuk mencari taksi
Dan…tidak mudah mencari taksi di sore hari di Shanghai…mereka selalu menolak kami, tanpa alasan yang jelas.
Ada supir taksi yang bilang mau makan, dengan bahasa isyarat tentunya, karena sepertinya jarang sekali supir taksi yang bisa bahasa inggris, ada juga yang langsung bilang tidak sambil melambaikan tanganya.
Kami heran, apa sih alasan sebenarnya.
"apa jaraknya terlalu jauh?", "apa terlalu dekat?" " atau apa karena mereka tidak mengerti, padahal kami sudah menunjukkan peta dan lokasi hotel kami,"
Huh. untungnya semangat bertanyaku tak surut, kami pun sepakat berjalan kaki sampai menemukan taksi..dan aku pun menemukan tuan Sky (hihihi, iyah namanya seperti komik serial cantik, dan dia memang benar2 pahlawanku hari itu)
Dengan bahasa inggris yang terbata-bata, tuan Sky yang memakai kemeja hitam (hihihihi) itu membantu kami mencari taksi…
dan sayang sekali dia gagal!
tapi dia dengan setia menemani kami, menelepon pihak hotel, dan terus mencari taksi…namun ,akhirnya dengan putus asa, dia menawarkan kami untuk berjalan ke subway train terdekat untuk sampai ke hotel kami…
Dan terminal terdekat itu jauuh, kakiku sudah pegal sekali, aku berjalan dari jam 11 pagi, dan ketika itu sudah pukul setengah enam.
Tuan Sky berjalan sangat cepat (orang Shanghai rata2 berjalan sangat cepat, itu makanya kamu akan sedikit sekali menemui orang yang gemuk disana..hehehehe), aku kepayahan mengejarnya…
Sampailah kami di subway terminal tujuan, terimakasih tak berkesudahan kami ucapkan kepada Tuan Sky, yang menemani kami sampai pintu masuk terminal…
tapi cerita pun belum selesai, setalah sampai di terminal tujuan yang direkomendasikan oleh Tuan Sky, kami masih harus berjalan lagi, karena ternyata lokasinya jauh dari hotel kami
dan itu menjadi sulit, karena ketika kami bertanya, lagi-lagi tentu pada
orang-orang berdasi dan perempuan bersepatu hak tinggi, dan kali ini mereka menjawab dengan jawaban yang mengecewakan.
Ada yang bilang tidak tahu. Ada yang malah menjauh, sebelum kami bertanya, ada yang menolak dan dengan singkat bilang "No English", ada yang ketakutan, karena mungkin mas-mas temanku itu menakutkan bagi mereka, bahkan bertanya pada polisi pun tidak ada gunanya karena mereka malah menyesatkan kami…
huhuhuhuhu, mas Baskoro dan mas Hermas pun mulai mengumpat!
mengutuk Cina, orang-orang yang terperangkap dalam modernitas, kata mas Hermas, yang ga peduli dengan kemajuan diluar, memilih untuk tidak berkembang…(kami baru tahu kenapa supir taksi itu menolak kami, karena mereka tidak bisa membaca tulisan latin di peta yang kutunjukkan , mereka hanya mengerti huruf China)
dan aku hanya tertawa-tawa, sambil berjongkok dan mengelus-elus kaki di setiap perempatan…
Tapi kami tidak putus semangat, tetap terus bertanya disetiap perempatan, meski setiap jawaban seringikali malah menyesatkan kami, membuat kami jadi lebih kebingungan, dan memaksa kami untuk bertanya lagi dan lagi dan lagi
Setelah berjalan lebih dari lima belas kilometer, sampailah kami di hotel kami..
Huuuuuuuuu, jadi pengin belajar bahasa China….