Archive for September, 2007
aku ga suka warna merah.
Warna itu terlalu…membosankan!
coba kalo kamu ditanya seperti apa warna merah itu? pasti yang terlintas di kepalamu, kepalaku, kepala semua orang adalah warna MERAH yang ITU.
benar kan?
beda dengan warna lainnya, hijau, biru..bisa saja jadi biru yang itu, yang ini, biru yang seperti awan, biru yang seperti laut.
Yah, kesimpulanku warna merah itu tidak kreatif, monoton. dan ujung2nya aku sama sekali tidak punya baju warna merah di lemari.
hingga kemarin sebuah sms datang: "In support of our incredibly brave friends in Burma, may all people around the world wear a red shirt on Friday," 081802XXXXXX
dan hari ini, aku membongkar lemari ibuku guna mencari kaos berwarna merah.
My fellow friends in Burma, this is me, wearing a red shirt. My support for you all…
No Comments »
sabtu minggu lalu, "my morrie", seorang teman dan juga dosenku waktu kuliah, tiba-tiba men-sms…
"Hei…apa kabarmu?"
Aku terlalu sibuk ketika itu, memilih handle pintu untuk rumahsenyumpagi, jadi kuhiraukan saja dan berpikir, aaaah biar kubalas nanti.
Tiba-tiba dia menelepon, memberitahukan bahwa dirinya sedang ada di jakarta.
Sebuah pertemuan pun dirancang.
Hari kamis kemarin, setelah menyelesaikan tugas-tugas penulisan..aku pun segera meluncur ke daerah Cikini, kesebuah kedai kopi yang cukup nyaman.
Dan disanalah dirimu, duduk di sudut ruangan, membaca buku.
"Hai," ujarku…dan percakapan basa-basi pun terbangun.
Namun belum sampai lima detik, kita sudah berdebat tentang sebuah undangan yang dikirim lewat imel.
Iyah, kau menggugat konsepku, menyebutku kuno. Aku mendebatmu, aku berteriak. Kamu bilang berkali-kali, "aah ada yang tidak beres dengan otak kita, kita seharusnya menata ulang kembali," Aku mencibirmu, menolak usulanmu.
Coffee float ku pun datang.
Pembicaraan pun bergeser tentang apa yang membawamu datang ke ibukota. Sebuah penelitian, katamu. Penelitian tentang "freedom of the press". Aaaaahhh, freedom of press is just a crap, bullshit, ujarku. Kamu menjelaskan kedatanganmu kesini dengan dosen-dosen komunikasi yang lain, berusaha menelusur konsep itu, yang menurutmu perlu diubah. Aku terdiam. Malas membicarakan pekerjaan.
Aku menanyakan seorang dosen yang kutidaksukai (baca: benci) kok bisa masih di jurusan. Kamu pun membelanya, mengatakan itu memang tidak terhindarkan, "semua seperti itu, tidak apa-apa kalau tidak ketahuan," Aku hanya bisa memendam rasa tidak percaya.
Datanglah chicken wings-ku
Kamu bertanya tentang film "Broken Flowers" apakah aku pernah menontonnya. "Tentu!," Lalu kamu bertanya, "Apa yang kamu dapat dari sana," Fiuh, berpikir keras berusaha mencari jawaban yang cerdas, kamu pun berucap," tidak ada jawaban yang bodoh, Ika,"
Kami pun membahas film itu. Fiuh, dan sekali lagi kamu menohokku, dengan pernyataan, "berpikirlah lebih dalam dong, Ka," Fiuuuhh…
"Mbak, tolong dong, ayamnya kurang kering, tolong digoreng lagi yah," aku memanggil seorang pelayan.
Lalu pembicaraan pun melompat ke tema-tema yang sangat abstrak, tentang cinta, rumah tangga, rumah baru yang tidak akan pernah menjadi, masa lalu…
kamu pun membawaku terbang, melayang, mengawang-awang…membawaku pergi jauh dari rutinitas perbuatan dan logika keseharian…
aku merasa bodoh, bodoh, bodoh dan bodoh sekali…
tapi aku menikmatinya.
terimakasih, sampai bertemu lagi, teman!
dan kupastikan kamu akan mendapatkan undangannya, lengkap dengan semua yang kau anggap kuno ituh…hihihihihihi
4 Comments »
Di suatu siang yang panas, Tiga orang Muslim yang berpuasa, seorang Muslim yang tidak berpuasa, dan seorang Kristen…
Kristen: Va, loe puasa ga? Muslim 1 (yangtidak berpuasa): Ga Kristen: Yess…, bawa kuwe ga loe? Muslim 1: tuh ada di mobil…tapi nih ada coklat, tapi blenyek. Kristen: asik, bagi dong (sambil berusaha keras membuka bungkus coklat) Muslim 2 : bagi dong… Kristen : wah ga puasa mas? Nih, mau Muslim 1: yah jangan pengin yah lainnya, kita kan membantu kalian mendapat pahala Kristen : iyah, semakin kalian menahan godaan, semakin banyak kalian mendapat pahala bukan? Muslim 3: tahan godaan. tahan godaan. tahan godaan. pahala. pahala. pahala. Muslim 4: Iyah kami dapat pahala, kalian dosa lho. Va, kamu dosa lho.. Muslim 1: ihhh kristen : Aku? Muslim 4: Yah kamu…mmm Kristen: Aku ga dosa dong. Tuhan Yesus kan sudah menebus dosa-dosaku.
HUAHAHAHHAHAHAHHAHA (Muslim 1,2,3,4 tertawa)
No Comments »
fiuh, lagi-lagi undangan datang ke imelku.
Seperti biasa. undangan untuk menghadiri acara membosankan lainnya.
Tapi ada sebuah kata yang menggangguku disana. satu kata. Mrs.
mmm, risih sekali melihat sebutan itu merekat di namaku, memangnya aku ibu-ibu apah, punya anak pun belum, menikah saja belum, kok udah dipanggil ibu seeh.
sempat ngobrol hal ini dengan odit lewat YM, membawaku pada sebuah kesimpulan; aku takut tua…
yeah semua orang sepertinya takut tua, atau tampak tua..odit menceritakan temannya satu angkatan bete banget ketika orang di jalan memanggilnya "Ibu",
"Aku gak mau dipanggil ibu," ujarku pada odit, "bahkan ketika aku punya anak pun, aku tidak mau dipanggil ibu, ‘Ika’ saja cukup,"
Dan kami pun sepakat bahwa takut tua bukan berarti kita kemudian menipu umur.
Tahu kan banyak sekali orang yang mengaku-ngaku umurnya lebih muda setahun, dua tahun, tiga tahun, atau mem’permak" dirinya sedemikian rupa..hanya untuk mendapatkan status "saya masih muda"
Hihihihihi, konyol orang-orang itu! orang, yang menurutku, tidak tahu bagaimana cara bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan, baik waktu maupun kesempatan.
Amit-amit…semoga saja aku bukan termasuk orang-orang menyedihkan itu.
"kamu ga akan jadi ibu-ibu, kok Ka..tenang saja," ujar odit.
sambil mengamini, aku berusaha mengenang orang-orang di jalan yang kutemui, sering kali menanyakan,"kuliah dimana mbak?," atau pertemuan kemarin dengan tetangga baru di depan rumahsenyumpagi, yang dengan ramahnya, menanyakan, "mbak Ika semester berapa yah?"
hehehehhehe,
"Iyah Dit, aku ga bakal jadi ibu-ibu, setidaknya tidak, sampai kamu jadi ibu-ibu duluan hehehehhehe,"
Ooia perlu diingat. bukan Ibu Ika. bukan Mbak ika. cukup Ika. terima kasih.
2 Comments »
tadi sore aku berjalan kaki!
lumayan!
dari Hotel Mulia di Jalan Asia Afrika sampai kantorku di Palmerah.
yah, sebenarnya tidak perlu terlalu berbangga hati, karena niatku awalnya ingin naik ojek dan membagi rejeki kepada tukang ojek depan hotel mulia (wuih alasannya)
"Kan dekat ka!," ujar seorang rekan, "Iyah si A, si B, si C (semua wartawan kompas) ajah jalan kaki, lagian rejeki loe berapa sih?"
Huh,gara-gara dikompori, aku pun memutuskan Berjalan Kaki!
Yah seperti layaknya pejalan kaki di kota Jakarta, aku pun harus menyesuaikan diri dengan mobil-mobil yang berlalu lalang, belum lagi asap bis yang hitam kental, belum lagi trotoar yang kecil dan tidak nyaman, belum lagi pengendara motor yang tidak pernah mau mengalah, belum lagi tatapan-tatapan orang…
But i survived!
sampai di kantor dengan selamat dan menaruh status "berkeringat" di YM-ku. yah karena aku benar-benar berkeringat.
Yah meski sepele, menurutku perjalanan tidak lebih dari 30 menit adalah prestasi bagiku. Diriku yang sekarang jadi "penikmat" Jakarta sudah menjadi makhluk berkendaraan umum, jarang sekali berjalan kaki, lebih memilih untuk memakai kendaraan, bis kek, ojek kek, taksi kek..
Aku sempat menjadi pecandu jalan kaki di kotaku yang nyaman di Jogja, bahkan adikku pernah mengataiku pelit karena memilih berjalan kaki pulang dari kampusku di bulaksumur ke rumah mbah di jalan solo daripada naik jalur 6.
Huh, tapi itu bukan masalah sekadar ongkos.
aku memilih berjalan kaki, karena kenikmatan melewati jalan lintas lewat fakultas Ekonomi dan fakultas sastra, lalu menembus jalan ke Masjid UGM, dimana banyak pohon2 teduh berjejer, bisa mampir sebentar ke B21 untuk bertemu dengan Zaki atau Esha, lalu meneruskan kembali ke jajaran frangipani di komplek dosen UGM, memungut salah satu bunga yang jatuh kemudian menyematnya di rambutku, melanjutkan lagi, melewati jalan sagan, mampir di toko buku social agency untuk melihat apakah ada buku terbaru yang bisa kubeli, mampir lagi ke es campur sagan, untuk sebuah ritual "a reward for my self" menghadiahiku dengan semangkuk es campur singapore! berjalan lagi, menyeberang ke jalan solo yang tidak pernah sepi, kemudian turun melalui lorong panjang yang gelap, yang selalu aku dan winta yakini sebagai setting film yang bagus, dan sampailah di teras mbah ku tercinta.
Gimana aku tidak memilih jalan kaki di jogja?
Namun di Jakarta, kota penuh polusi diperlukan keberanian dan tekad yang kuat untuk jadi pejalan kaki!
benar-benar tidak mudah jadi pejalan kaki disini!
semua menjadi makhluk yang bergantung roda, yang mengelinding dari tempat ketempat, dari waktu ke waktu..
andai saja Jakarta menyediakan semua yang diimpikan oleh pejalan kaki.
Fiuuh.
andai. andai
andai.
karena jalan kaki tentu saja menghemat ongkos
karena jalan kaki adalah cara jadi sehat tanpa harus mengeluarkan biaya mahal.
karena jalan kaki (sambil mendengarkan lagu dari artist favorit mu melalui walkman, atau mp3, Ipod) memungkinkan mu menjadi model klip ..dengan catatan: ini hanya bagi orang-orang yang punya daya fantasi tinggi dan tentu saja norak yang tiada tara.
karena jalan kaki adalah cara pacaran yang paling murah juga lho…
(mengingat momen terindah waktu pacaran sambil jalan kaki (atau jalan kaki sambil pacaran yah) dari Gedung GSP sampai rumah mbah dengan Kelik Wicaksono sehabis menonton Twilight Orchestra)
Yuk Jalan Kaki Yuk!
p.s: sory Abang ojek Jl. Bahagia, kayaknya anda akan kehilangan pelanggan setia anda deh!
1 Comment »
Pertama kali mengenal kalian, sekitar tiga tahun yang lalu. yah, pacar baruku waktu itu memaksaku berkenalan dengan kalian. Fiuh, deg-degan setengah mampus.
Bingung pake baju apa, bingung mau ngomong apa…untung aja ada si Vira kecil yang berhasil membantuku mencairkan suasana.
Kesan pertama, kalian tidak lebih dari pasangan bapak-ibu yang lain yang kutemui , ramah dan menyenangkan. tapi yang pasti tentu saja Oom Subyantoro sangat gemar berkaraoke…salut deh Oom! hehehhehe
pertemuan-pertemuan selanjutnya berjalan seperti biasa, tidak ada yang special. layaknya jumpa biasa untuk menjalin tali silahturahmi.
Diam-diam aku pun tahu tentang kalian, mulai dari kegiatan sehari-hari sampai kegemaran makan, dan hobi mengemong cucu. Dan aku pun yakin, kalian pun tahu juga tahu banyak tentang aku, pemalas yang tidak bisa memasak…hihihihi
Dan waktu pun berlalu, hingga kemarin kalian pun datang kembali ke rumahku, membicarakan hari yang penting buat aku dan partner hidupku.
Fiuuh, ini tak kalah deg2an waktu pertama kali berjumpa.
Aku tahu bahwa konsep yang kupunya buat acara penting itu memang aneh, lain dari biasanya. ibuku sendiri bilang itu nyeleneh, dia pun kurang setuju dengan ide-ide dan rencanaku.
Tapi aku duduk manis disana, mendengarkan kalian berbicara dengan bapak-ibuku…membuatku yakin, bahwa kalian sama gilanya dengan aku..hehehhehe.
Tiba-tiba pertanyaan yang menantang datang dari bapakku sendiri: Jadi bapak juga nanti harus siap kalo tiba-tiba ada omongan dari orang-orang atau nada-nada miring dari mereka mengenai acara ini?
Dan dengan yakin, oom Subyantoro menjawab: Wah saya itu sih ndak masalah, wong dari sananya saya tipe orang yang suka mendobrak…
Hehehhehe…lepaslah tawaku.
Oom dan Tante, emang keren!
Teringat sebuah pesan dari temanku, "Ingat Ka, kalo mau mendapatkan pesta pernikahan idaman, seperti apa yang kamu dambakan..jangan sekali-sekali libatkan orang tua."
Huhuhuhuhu, kamu salah Dyn..kalo orang tuanya Bapak Marsudi Subyantoro dan Theresia Kristiyanti pasti lain lagi ceritanya.
Makasih yah Oom dan Tante, bapak mamah baruku:)
1 Comment »
|