Archive for July, 2007

fiuuh, lega juga akhirnya mengetahui bahwa ada harapan buat film Indonesia…

hari minggu kemarin, aku nekat nonton film terbaru Nan T Achnas, the photograph sendiri. Iyah sendiri, setelah tidak berhasil mengajak siapapun untuk menemani didiriku…

Setelah terburu-buru menyelesaikan sebuah artikel, aku pun langsung melesat menuju the Blitz, ditemani sang tukang ojek depan kantor…

Semua perjuangan yang tidak sia-sia.
Filmnya bagus. (bukan bagus banget lho…hehehehe)

Meski ada beberapa yang bolong disana-sini, tapi secara keseluruhan okelah.

Dari sisi pemain, emang ga sia-sia sang sutradara sampai harus memilih aktor singapura untuk memerankan pemeran utama. tapi emang cocok banget, gesture-nya paaaaaaaaaaas banget dalam memerankan tokoh pendiam itu. meski sayang diakhir cerita, dia jadi tampak lebih cerewet, (dan menghancurkan karakternya sendiri karena logat bukan Indonesia-nya jd terlihat)

Untuk si shanti, keren! meski terlihat canggung dengan logat Jawa buatan, tapi lama-kelamaan kecanggungan itu seolah-olah melebur dalam karakter Sita.

Gambar-gambar di film ini juga memanjakan  mata. cantik-cantik!  top
jempol buat  tim artistiknya  yang  berhasil  menciptakan  nuansa
dalam  film tersebut.

Dari segi cerita , alurnya rapi, dan benang merahnya terlihat jelas. sang sutradara berhasil membuat benang merah yang cantik dengan menggunakan narator Si Yani, anaknya Sita yang memulai film dengan dinding kusam penuh dengan bingkai foto, dan mengakhirinya dengan dinding kuning cerah dan hanya satu bingkai foto.

And the love scene is just beautiful. waktu Sita dan tuan Tan dikamar. Sita berusaha menolong pak Tan yang kewalahan dengan penyakit yang dideritanya. membuka bajunya. mengelap keringat. dengan penuh daya pak Tan menolak sentuhan si Sita. namun dia tak kuasa, dan akhirnya memeluk Sita dengan eluhan nafas yang hebat. Adgean keren untuk sebuah orgasme!

Klimaksnya oke banget dan berhasil membuatku menangis. (salah satu indikator sebuah film bagus atau tidak adalah ketika film itu berhasil menumpulkan daya kritikku dan memaksa emosiku menyatu dengan jalan cerita). dan film ini berhasil.

Namun tak bisa kututupi beberapa kecewaaan, karena kupikir film ini adalah film yang akan bercerita dengan gambar dan sedikit dialog, tapi ternyata tidak. Nan berhasil melakukannya di awal cerita, tapi jadi sedikit cerewet dan akhirnya memaksa tuan Tan untuk berbicara.

Film ini berhasil juga membangun logika sendirinya sehingga jenis foto pake kilat  dan nikon manual jadi nampak tidak aneh, karena kupikir film ini berhasil menciptakan konteksnya sendiri. (sama seperti film Janji Joni yang kupikir berhasil membuat logikanya sendiri, jadi rentang waktu yang digunakan di film itu menjadi sah-sah saja, meskipun jadi nampak aneh kalo dibandingkan dengan dunia nyata. tapi logika dunia nyata beda dengan logika yang dipakai di film janji joni)
Film the Photograph hampir berhasil melakukannya, sayang sekali di sebuah adegan ketika si Sita menelepon, tiba2 si sutradara mencoba membawa Sita di dunia kekinian lewat no. telepon sambungan langsung jarak jauh yang dia pencet 0273-….

Belum lagi bagaimana si Germo mati, menurutku sedikit aneh dan mengantung.
Belum lagi ada sebuah keganjilan di klimaks yang hampir memancing reaksi kritikku, ketika aku bertanya dari mana si Sita yang tidak tahu bagaimana menggunakan kamera itu mengetahui ada tombol self-timer…

uugh..sudahlah
Izinkan aku menangis.
Izinkan aku menikmati film ini.

nb: guys sory for being a spoiler, but i just couldn’t help it…:)

Comments No Comments »

Buat mas Bambang Pamungkas dkk

Tidak pernah merasa menjadi seorang yang nasionalis,
hingga Sabtu malam kemarin, pengalaman 2×45 menit mengubahku.

Dengan niat mengalahkan setan kebosanan yang
gentayangan di minggu-minggu ini, aku pun melakukan hal yang tidak terpikir
bahwa seorang ika akan melakukannya: Menonton bola siaran langsung….

Dengan adik-adikku dan teman-teman, kami pun segera bergegas
dari Djakarta Theater menuju Taman Menteng untuk ikutan nonton bola siaran
langsung Indonesia melawan Arab Saudi.

Mmmm..emang ga tahu banyak. Aku di kursi
belakang mendengar adikku bercerita bla bla bla tentang menonton bola secara
langsung di stadium gelora, ambiencenya dan bla bla bla. Temannya yang sedang
menyupir mencoba menganalisa dengan seksama kekuatan tim Indonesia sambil memacu
mobilnya sekencang mungkin untuk sampai di tujuan. Yeah..aku sih ikut-ikutan
saja, berharap saja semoga acara nonton ini bisa membunuh rasa bosanku, karena
film Harry Potter yang baru kutonton telah gagal melakukan misinya untuk
mengenyahkan setan sialan itu.

Setibanya di taman menteng, karena terlambat, kami pun
segera bergegas dari lapangan parkir ke lapangan bola tempat sebuah layar
ukuran 7X3 meter terpasang. Fiuuh..tapi ternyata sudah penuh..nuh..nuh. orang-orang
sudah duduk berdesakan di tengah, menyisakan orang-orang berdiri di pinggir
lapangan.

Tapi bukan ika namanya kalo ga bisa nyari tempat, dengan
bekal senyum, dan kata “permisi, Mas” kami pun akhirnya bisa mendapatkan posisi
manis di pojok kanan lapangan.

Belum sampai lima menit duduk, aku sudah bosen, mencoba
membayangkan bedanya apa menonton di tempat seperti disini, dengan ketika aku
menonton dirumah dengan bapakku. (Yeah kupikir juga lebih seru di rumah, karena
lebih tepatnya bapakku yang menonton, kami yang merebut remote controllnya
hehehehehe)…

Bedanya paling: disini lebih banyak orang, lebih banyak
asap rokok….

(dan tiba-tiba)

“Goool!” Arab Saudi memasukkan bola ke gawang Indonesia
di menit ke 12. Wuaaah penonton pun terdiam, beberapa diantaranya langsung
mundur kebelakang, tak bisa menutup rasa kecewa mereka.
Aku
pun diam-diam bersorak…yeah akhirnya ada gol juga.

Aku tidak pernah bersimpati pada tim sepakbola
Indonesia. Dan seringkali ketika mencoba menonton tim Indonesia bermain,
hihihihihi aku pasti menjagokan lawannya.

Tapi tidak kemarin malam, ketika ada sekitar 700 orang
Indonesia menonton bersamaku dan mendengar mereka tidak henti-hentinya
menyemangati tim kesayangannya,

I can feel the
ambience…

Dan
klimaksnya terjadi pada menit ke 17, ketika mas Elie membalas gol untuk
Indonesia.

Semua
penonton bersorak, aku ikut bersorak. Semua bangkit dari duduknya, aku melompat
kegirangan, senang bukan kepalang, berteriak-teriak tidak karuan…aku
kerasukan seperti merasakan trance dan badanku bergetar ketika kembali
duduk.

Dan
enyahlah setan bosan!

Sehabis
itu, aku pun asik mengomentari permainanan pemain-pemain Indonesia. “Yah,
pelan-pelan,” “Yang rapi dong,” “Oper kiri oper kiri,!” ”Buang..buang bolanya” ”Ayo
dong mas Bambang,”.Adikku yang penggemar bola sempat berkomentar sambil menggoda,”
hehehhehe…udah kenal nih sama mas Bambang?”

Tapi salut
benar buat mas Bambang Pamungkas dkk, buat semangat dan kerja kerasnya yang
luar biasa untuk mengimbangi permainan tim Arab Saudi, yang (katanya) langganan
masuk final piala dunia itu.

Secara
fisik, tim Indonesia jelas kalah, aku perhatikan tinggi pemain Indonesia hanya
seleher pemain Arab Saudi. Belum lagi kemampuan inidividual Arab Saudi yang
udah mumpuni, membuat tim kita kedodoran di permainan awal.

Kerja keras
tim Indonesia berhasil membuat kedudukan imbang 1-1 sampai menit-menit
terakhir. Hingga masa injury time, gol kedua dari tim Arab Saudi lahir yang
sekaligus menutup pertandingan kali itu.

Ugggghhh…rasa
sesaknya mebekas sampai lima menit setelah pertandingan usai.

Adikku
berusaha mengusir rasa kecewa teman prianya, berucap, ”a game its just a game!”

“Yeah…but
it’s a boy’s life!”

Totally
agree with you, mate. But it is not only you. that includes my life, our life..our
nation’s life,”

Tidak pernah merasa hidup menjadi bangsa Indonesia hingga
kemarin malam

 

Comments 5 Comments »

Buset deh…

ada kurang lebih 73 janur kuning terpampang di setiap gang yang kulalui dalam 20 kilometer perjalanan dari Ciledug ke Matoa, Depok…

kalian boleh bilang aku iseng, atau ga ada kerjaan atau munkin sudah bosan dengan celotehan pak Slamet, si supir taksi yang menemaniku di dalam perjalanan ini

Tidak tidak aku hanya penasaran kok.

iyah, banyak orang bilang ini tanggal bagus, sehingga memilihnya menjadi tanggal pernikahan mereka…mmm, iya sih setidaknya bagus untuk dicetak diundangan

Si A menikah dengan si B menikah di masjid A tanggal 070707…hehehehe bagus kan?

Bukan hanya angkanya yang cantik, orang bilang tanggal itu adalah angka hoki…
menurut Alkitab, angka 7 dikenal sebagai angka yang sempurna, angka-nya Tuhan…ingat kan pelajaran Alkitab? ketika Tuhan menciptakan langit, bumi dan segala isinya selama enam hari, dan mengagumi karya penciptaanya di hari ke tujuh.

Dan bukan hanya orang disini saja yang menjadikan tanggal ini sebagai tanggal pernikahan mereka, tapi juga orang-orang Amerika. Di negara Paman Sam itu diperkirakan ada 65,000 pasang yang akan menikah di 070707. (lagi-lagi) Buseet deh.

Yang macem-macem sih alasannya, yang kurang lebih samalah. ada yang bilang angka cantik, ada yang bilang angka hoki. tapi yang kubilang alasan paling bagus kenapa mereka memilih tanggal ini adalah supaya sang pasangan tidak pernah lupa hari ulang tahun pernikahan…hehehehe

"Pak, kenapa yah banyak yang nikah hari ini?" tanyaku iseng pada si supir taksi.

"Yah mungkin karena ini hari libur, neng…biar banyak tamu yang dateng," jawab pria berusia 61 tahun itu.

Hehehehe, iyah juga yah..bulan-bulan segitu kan emang musim kawin, umat sejagad Indonesia raya pada kawin semua…

Tapi coba pikir, kalo sebagian penduduk Indonesia menikah di saat yang sama , berarti di perkirakan  mereka akan beranak pinak di  saat yang tidak begitu  berjauhan..dan dengan  tenaga medis di Indonesia yang terbatas (dari skala normal internasional 1 dokter untuk 300 orang, di Indonesia skalanya masih 1 dokter 800) orang), coba bayangkan apa yang akan terjadi ..bisa diperkirakan hanya orang-orang yang punya daya ekonomi yang lebih baik yang punya akses untukmendapatkan layanan dokter
Belum lagi kalau anak-anak itu tumbuh besar, dan dengan usia yang tidak terpaut jauh, bisa dipastikan mereka akan masuk sekolah bersama-sama..dan dengan sistem pendidikan yang seperti sekarang ini..duh duh duh, gak janji deh!

Lupakan tanggal cantik, lupakan tanggal hoki, lupakan musim kawin…

Can we just be unordinary ones who pick our wedding date on 071207?

Comments 4 Comments »

(Peringatan: bukan testimony gratisan buat Levi’s dan Converse)

Profil:
Gadis berkerudung ini memiliki converse sejak SMP dan sekarang memiliki belasan
converse warna-warni. Saat ini dia punya belasan sepatu converse yang
bisa dipake.

"Ka, tahu ga kalo converse itu bisa dilipet jadi 3. Jadi loe tekuk dua bagian paling ujungnya kedalam. itu buat sepatu yang rada panjang, kalo yang rada pendek paling cuma dua kali."

"yang benar loe?"

"iyah coba loe bandingin ama yang lainnya, kayak Ellesse atau bahkan Vans sekalipun, mereka ga bisa digituin."

Profil: Ika, penggila Levi’s sejak jaman SMA, cuma baru bisa kebeli ketika bekerja di majalah Kawanku, sekitar 3 tahun yang lalu. Sekarang dia baru punya dua pasang jeans Levi’s.

"Wah, Nis…tahu ga kenapa kalo beli celana gw selalu beli merek itu. Biar gampang nyucinya, sumpah enteng banget!"

"huahahahahahaha, pastinya ka!"

                                                                                        Soho cafe, 30 Juni 2007

Mmmm, kira2 dibayar berapa yah kita sama Levi’s dan Converse…

Comments 2 Comments »