Archive for May, 2007

Akhir-akhir sering kali mendengar orang mengeluh, tentang suatu hal yang kupikir rada konyol.

Tentang sebuah perasaaan "ga enak!"

Seorang teman kemarin bercerita tentang betapa "Gak Enak" dirinya dengan orang yang baru saja dikenallnya karena pekerjaan yang bertumpuk membuatnya beberapa kali membatalkan janji bertemu dengan kenalan barunya.

Belum lagi dengan seorang temanku yang lain, yang merasa "Gak Enak" karena merasa dirinya memberi tarif yang kelewat tinggi untuk sebuah pekerjaan, meskipun dia tahu bahwa tarif yang ditawarkan itu lebih rendah dari tarif normal.

Adakah yang kemudian bisa menjelaskan apa sih sebenarnya yang dimaksud perasaan "Gak Enak"  itu?  karena  menurutku  itu kemudian jadi  sebuah perasaan yang konyol  dan mengada-ada.

Lihat kedua kasus teman diatas, menurutku mereka sama sekali ga punya alasan untuk punya perasaan "Gak Enak".

Mengomentari temanku yang pertama, awalnya aku hanya bertawa…karena jika benar demikian alasannya, dia sama sekali tidak punya alasan untuk "Gak Enak". Dia kan bukannya gak mau ketemu kenalan barunya hanya gak bisa disebabkan kerjaannya yang menumpuk.

Untuk kasus kedua, temanku pun menyadari kekonyolan dirinya dengan perasaan Gak Enak-nya itu..kami hanya tertawa kecil…"Huuh dasar Indonesia banget!!(atau tepatnya jawa banget yah"

Perasaan "Gak Enak" ini sebenarnya bukan jatuh begitu saja dari langit. terlahir sebagai bangsa yang memiliki rasa empati (baca: berlebih) terhadap sesama, maka perasaan itu terpupuk dengan suburnya di setiap keseharian.

Gak enak sama ini, Gak enak sama itu, Gak enak kalo begini, Gak enak kalo begitu. Gak enak sama situ, Gak enak sama sana…

huuh, dipikir-pikir banyak ruginya punya perasaaan ini, jadi menghambat banyak hal hanya untuk sebuah pikiran takut mengecewakan pihak lain.
Hihihihihi, itu pun kali orang lain itu punya empati yang sama, kalo dirinya hanya cuek-cuek saja???

Perasaan "Gak Enak" ini harus disiasati agar jangan jadi bumerang buat diri sendiri, dan akhirnya merugikan kita. Harus dicari rasionalisasinya, sehingga kemudian  bisa dicari jalan keluar terbaik. Menurutku, punya perasaan "Gak Enak" saja  tidak memberimu apa-apa kecuali  beban dan tentu saja itu bukan sebuah solusi.

Tapi tetap saja kalo nanti malah jadi begini, terus begitu, dianya marah terus kecewa..terus terus terus terus terus…

*Gak Enak?? Kasih kucing ajaah…

*quoted from Nisa…Naah you know how to handle such feeling, deary!

Comments 1 Comment »

(Buat winta)

Saat-saat menakutkan ketika aku meninggalkan Yogyakarta dan menuju Jakarta, adalah membayangkan bahwa aku akan kehilangan semua, menuju keterasingan di tempat kekal dan melipat dan meninggalkan rasa nyamanku dengan rapi di kota kelahiranku itu.

Rasanya aneh, pertama kali kekota ini, meski aku tinggal dan besar didalamnya.

Kata odit, itu rasa insecure karena  kita meninggalkan "the comfort zone"

seminggu, 30 hari, enam bulan, setahun, dua tahun…(dan waktu pun masih menghitung)

aku sudah bisa menghadapi semuanya dengan lebih cerdik, bisa mengatur romantismeku, yang awalnya naik turun tak keruan, terhadap kota  nyamanku  dan  berusaha dengan segenap tenaga mencari keasikan-keasikan kecil di kota yang ternyata menyimpan banyak keunikan.

Terima kasih buat semua yang membantuku, terutama temanku Ireng, padanya aku belajar mencintai kota brengsek ini dan mengajari perspektif baru untuk melihat kota ini dari sudut pandang yang lain, (hayo kapan jalan2 lagi Reng?)  buat teman seperjuanganku, odit…kesempatan meliput di desk city benar membuka mata kita, bukan? buat nisa, dan canda-tawa, cerita dan kekonyolan yang dibagi di Oh la la cafe, Pizza hut Thamrin, pojok Plaza Semanggi, dan warung nasi goreng warna-warni di kompleks Monas, buat lifetime partner yang setia menemani di pertunjukan-pertunjukan teater,pemutaran film independen, pameran lukisan, pameran foto meski harus menempuh puluhan kilometer dari rumah, buat orang-orang asing yang kutemui di jalanan setiap hari, buat rasa nyaman yang terbagi dari cerita-cerita yang berasal dari orang-orang tak kukenal, buat tukang ojek yang gemar bersilat ban di deru kemacetan ibukota, buat supir angkot dengan basa-basi yang mengalir lewat asap rokok ketengan…

Mungkin  bukan tempatnya, tapi orang-orangnya  yang  bisa membuatku bertahan  di  sini.

Winta, akan ada saat-saat berat di Jakarta, dimana deadline pekerjaan memburumu berat, dan kau hampir kehilangan nafas, saat dimana penat membubung tinggi di ubun-ubunmu membuatmu hampir kehilangan akal…

tapi akan ada saat-saat asik dan menyenangkan yang bisa kau dapatkan disini dan saat-saat membebaskan ketika kau bersama dengan orang-orang terkasihmu, dan aku akan ada disana menemanimu.

Selamat datang ke Jakarta, Winta.

(Ingat kuncinya bukan gak bisa, tapi gak mau. Kalo kamu niat, pasti bisa deh…

Comments 2 Comments »

Seorang temanku menceritakan seorang pria yang tidak dikenalnya berucap:
Bukti seorang pria benar-benar mencintai kekasihnya adalah ketika dia menjaga kesucian pasangannya dengan tidak berhubungan seksual sebelum menikah dan ketika seorang pria melakukan hubungan itu waktu berpacaran berarti dia tidak benar2 mencintai pasangannya.

Dan dimulailah perdebatan asik mengenai keperawanan di tengah kepulan asap dan dinginnya hawa malam

Keperawanan adalah berkat dan kutuk bagi banyak perempuan di Indonesia. Berkat jika kamu bisa menjaganya hati-hati, dan kutuk  jika kamu  kemudian merusaknya sebelum masuk kedalam apa yang disebut sebagai institusi perempuan.

Menjaga keperawanan adalah sebuah pilihan.

Tapi bukan kemudian pilihannya apakah kamu menjadi perempuan baik-baik, suci, taat pada norma agama dan patuh pada orang tua jika kamu menjaga keperawananmu, atau sebaliknya perempuan  najis, kotor, penuh dengan dosa yang gagal menjaga keperawanannya sebelum menikah.

Pilihannya adalah apakah kamu perempuan yang pintar berhitung atau tidak.

Begini kalkulasinya:

Melakukan hubungan seksual sebelum menikah: jika kamu beruntung menemukan pria yang tahu bagaimana "melakukannya", yah beruntunglah kamu karena setidaknya kamu akan merasakan apa yang disebut the Big O, yang katanya bisa membawamu kelangit tujuh,

dan jika kamu benar-benar bisa berhitung kamu sebenarnya bisa mengetahu masa suburmu sehingga kamu bisa melewati yang namanya ketakutan pasca kejadian dimana sebuah pertanyaan besar menghantuimu, "aku hamil ga yah?",

dan jika kamu bisa berhitung seharusnya tahu kerugian secara materi dan inmateriil yang akan kamu derita jika kamu ternyata benar-benar hamil sebelum menikah

aku coba elaborasi: sembilan bulan penuh penderitaan, fisk dan nonfisik,  biaya rumah sakit, biaya membesarkan anak, dan lain lain dan lain lain.
Fiuh rugi besar!!

Menjadi perawan: Tahun-tahun yang membosankan ditemani rasa penasaran yang kuat tentang bagaimana nikmatnya orgasme.

Sebenarnya keperawanan bukan hanya momok para perempuan, tapi juga pria tentunya.

Pernyataan pria diatas adalah pria yang tahu bagaimana bWinta_and_virginity
erhitung dan alih alih pria yang tidak bertanggung jawab, karena sebenarnya dirinya tidak siap jika menghamili pacar tersayangnya.

dan masalah bukti cinta atau tidak?

aku pun bisa berucap: bukti seorang pria  mencintai kekasihnya adalah ketika dia  berhubungan seksual dengan pasanganya, mau bertanggung jawab dan tentu saja memberikan perempuan itu multi orgasme…

   

Comments 6 Comments »

Aku benci cowok berseragam!

segala macam bentuknya. Pejabat-pejabat pemerintahan, pejabat kelurahan, tentara, pegawai negeri (termasuk bapakku terhormat), dan tentu saja pak polisi…

Pria-pria yang membosankan..Yawwwwn!dengan rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja, jam kerja yang monoton, ditambah corak dan model baju yang tidak bisa membedakan dirinya dengan yang lainnya….(a long and big) Yawwwwwwwnn

Pagi itu pukul sepuluh kurang 30 menit, saat dimana jalan-jalan protokol ibukota hampir menyudahi peraturan konyol three-in-one..aku dan seorang teman nekat menuju Hotel Grand Hyatt di daerah Thamrin dengan soluna peraknya dari kawasan matraman.

Jam 10 kurang 15 menit. Kami terjebak dalam deretan mobil2 karena lampu merah yang menyala di jalan Iman Bonjol.

Jam 10 kurang 5 menit. kami memutuskan belok ke arah Sudirman karena hendak memutar di daerah kolong Stasiun Sudirman untuk menuju Grand Hyatt.

Jam 10 kurang 2 menit, dan disanalah pria berseragam itu, berdiri dengan sigapnya di tengah jalan dan mengamati dengan sangat cermatnya setiap mobil yang lewat.

"Silakan berhenti, Mbak," "Anda tahu sekarang jam berapa? seharusnya anda tunggu saja. silakan menyingkir Mba!"

lalalalaalalaalalalallalalalalalaalalallalallaa  (mengumpat dalam hati)

"ya nanti anda bisa langsung ke pengadilan Jakarta selatan bisa langsung bayar disana Rp 175,000. Okey Mba?"

"tapi kita mau liputan Pak, ini cuma mau muter aja kok didepan sana…,"

"Maaf Mbak, anda tahu peraturannya disini, tidak ada main-main," kemudian dirinya pun mengeluarkan setumpuk SIM ditangannya.

Mmm..sempet kaget juga, ternyata pria ini tidak meminta uang.

Sampai akhirnya dia pun menuliskan surat tilang, tak habis pikir kenapa yang ini berbeda dengan yang lainnya? Fiuh…apesnya aku ini. Justru mendapati makhluk berseragam  yang berbeda  dengan  yang lainnya.

Tapi, tetap..aku tidak pernah menyukai pria-pria berseragam! TIDAK AKAN PERNAAAAAAAH.

Sorry yah Tine, jadi membuatmu susah!
sukses deh buat dirimu ketika nanti menemui makhluk-makluk berseragam lainnya di pengadilan, wishing you all the best…

Comments 2 Comments »

before i start throwing dirty words in this precious space of my mind, i wanna say thank u to my friend, Iwan, who has given free ticket to wacth the most-anticipated Premier show of Spiderman III (i first think it as a previlige to get this oppurtunity, i was able to watch this film at the same time with people in America…huahahhaa, this time  i beat you, Ka, i bet you haven’t watch the movie:) But in the end, it turns out that the movie sucks…3 out of 10.

Don’t judge a book by its cover, but you will know how the movie will going to be like when you see the opening. From the start i saw the opening, i knew that this movie would give none other of disapponiting feeling.
Yeah, i mean it. those fragmented piece of scenes just reminds you of the 60’s film serial of sixty million dollar man…oiya i don’t think that the production team really have ran out of budget, because  i saw some of the scene coming  from the previous episodes…and the animation , not too  impressing.. i mean you will have to expect more than just black thingy thing running through your screen, right?

The most  unbearable thing in this movie  is that you have to  watch too many criying scene…cmon, spiderman with the glistened eyes…sounds funny because you hardly can see his eyes. the first crying scene (when Peter and his grandmother memorized the late grandfather) surely got me because i almost let out the sound of typical "aaaah" inside the movie theater.. but the rest of it, what you could shout out just "Not again".. i was wondering whether a superhero movie that i was watching or just another episode of telenovela..yaikks, i miss to count how many times did the masked superhero and his lovely girlfriend cried…and the last scene when the spidey, the girlfriend and their bestfriend, Harry, cried…ooo my god, i really wanted to pack my bag and got out from the theather.

But what can you expect for another Hollywood flicks…another full-of-complaining writing in your blog..yeah that’ll surely do!   

Comments No Comments »

"Aku mau jadi orang kaya," ujar partner kerjaku suatu ketika ketika kami dalam perjalanan menuju daerah thamrin selepas jam kerja.

Tak sanggup aku menahan tawa, tapi setelah mendengarnya aku pun mengerti keingianan yang diteriakannya sungguh-sungguh itu di dalam taksi.

Siapa yah yang ga pengin jadi orang kaya? aku pun ingin, tapi aku tidak pernah merasakan bahwa jadi orang kaya itu penting dalam hidupku…

aku memang ingin punya rumah sendiri, pengin keliling dunia, pengin  pergi ke Nepal..pengin..pengin..dan sejuta  rasa pengin itu!
tapi aku tidak perlu kaya, kan untuk mendapatkannya, banyak cara kok…
misalnya dapet undian satu milyar, menikah dengan duda tidak beranak  yang dapet warisan  sejibun dari orang tuanya, dan keberuntungan-keberuntungan konyol yang kau bisa tambah sebanyak maumu.

Dan kami pun melakukannya malam itu, me-list beberapa cara untuk bisa "jadi kaya" dari cara paling konyol sampai yang paling realistis: menabung.

teringat sebuah pertemuan dengan salah seorang teman yang sampai sekarang jadi inspirasiku. Aku lebih tua sekitar 2 bulan darinya, tapi keberaniannya luar biasa untuk mendapatkannya mimpinya.

Sekitar setahun lalu, dia memutuskan untuk berinvestasi di asuransi. Mmm, tak pernah terpikir waktu itu untuk apa, dan aku pun mendengarnya sambil lalu dan sibuk dengan spagheti yang ada didepanku.  Dia pun pernah bercerita tentang keinginannya untuk main di pasar saham, karena ada teman yang menawarinya. "What?"…aku hanya sempat ternganga saja ketika itu.

Sebelumnya aku pikir hanya dengan menabung, orang bisa jadi kaya. huahahaha

Dan ada gunanya juga aku di desk bisnis ini, aku tahu info tentang berbagai macam investasi..ada deposito (jangan investasi disini jika bunga bank turun), ada obligasi ritel pemerintah RI (mmm..lumayan menggoda, tapi disarankan pada orang-orang yang BENAR BENAR punya kepercayaan pada pemerintah krn kita ngutangin pemerintah) , terus  bursa  saham (ini mah buat yang duitnya banyak karena harus  beli 1 lot yang isinya 500 lembar saham, padahal kalo main disarankan membeli blue-chip companies, yang notabene sahamnya di atas Rp 10,000, oiya dan juga berani menganggung risiko tinggi tentunya..you lose some, you gain some)

Wuaaaaaaaah pusing deh…
Teringat pertanyaan supir taksi yang diam-diam menguping pembicaraan temanku dan aku, "Emang enak yah Neng  jadi orang kaya?"

Dan kami pun terdiam!

Comments 2 Comments »