Archive for March, 2007

Aku benci berkencan denganmu!

Setelah sekian kalinya…

but this time i hate you more.

okey aku masih menerima ketika kau mengharuskanku memakai pakaian serba resmi dengan celana kain dan baju formal. Huuh aku tidak pernah menyukainya, aku lebih suka memakai kaos polo shirt warna-warni ku dan tentu saja jeans levi’s belel kesayangannku. Tapi tetap kau tidak peduli, yah mana mau kau peduli. Dengan gampang kau akan menolak bertemu denganku jika aku memakai kustom andalanku

Belum lagi dengan tata cara serba ribet yang kau terapkan di sela-sela pertemuan kita.

Aku muak, aku muak, aku muak!

Dan kali ini, kamu memaksaku bangun pagi, teramat pagi untuk hanya  bertemu denganmu.
Edan! jam lima pagi, ini hari terpagi aku memulai sebuah aktivitas dan aku pun tidak punya pilihan selain menurutimu. huuh.

Dan kau memaksaku memakai celana kebesaran yang tidak nyaman ini, lalu sepatu..aih aku benci sepatu, aku lebih senang memakai sandal, tahukah kamu?

Setibanya di tempat yang kau janjikan, aku pun harus menunggu laaaaaaaaaaaamaaaaa sekali sebelum akhirnya kau datang.

Aku mati kebosanan dan juga kepanasan.

Dan akhirnya kau datang dan mengumbar kata-kata yang sama tentang usaha pengentasan kemiskinan, kesejahteraan rakyat dan bla bla bla lainnya yang klise.

sudahlah. kita putus saja.

–kencan kesekian kalinya dengan Mr.President di Subang, Jawa Barat setelah memilihnya tiga tahun yang lalu–

Comments No Comments »

seseorang —yang katanya
mengagumi  tulisan2ku — baru saja kecewa karena di post tulisan
sebelumnya aku hanya mengkopi paste sebuah lirik…

"dimana letak "menulisnya” ?" tanyanya.

DAN DIA PUN KECEWA…

yah sebelumnya kami berdiskusi tentang cara menulis yang baik dan benar, dia
bertanya gimana sih caranya yang bisa ngeluarin uneg-uneg lewat tulisan,
ngeluarin kata sumpah serapah sekaligus bisa membuatnya jadi bacaan yang
bermanfaat buat orang lain, yang maknanya dalem, mengutip kata-kata darinya.

Well, teman kuakui pertanyaanmu sulit? sulit untuk menjawabnya.

Tapi tahukan kau teman, lewat wahana blog ini, semua bebas menulis, menulis
apapun dan tidak ada, aku tekankan sekali lagi TIDAK ADA orang yang berhak
mengatakan ini yang benar atau itu yang benar, ini yang bagus, itu yang jelek.

You can almost write anything in the blog, anything you want, even though no
one understands your writings.

bebas aja, man.

Oia, in the previous post, i am not writing..i am singing for someone:)

Keep on blogging, mate!

Comments No Comments »

Engkau gemilang
malam cemerlang

Bagaikan bintang
timur sedang mengembang

Tak jemu-jemu mata
memandang, aku namakan dikau

Juwita Malam

 

Sinar matamu menari-nari

Langsung menembus kedalam jantung hati

Aku terpikat masuk perangkap

Apa daya asmara sudah melekat

 

Juwita Malam siapakah gerangan puan

Juwita Malam dari bulankah puan

 

Kereta kita segera tiba

Di Jatinegara kita kan berpisah

Berilah nama alamat serta

Esok lusa kita kan berjumpa pula

*sepotong memori perjalanan di stasiun Bogor, dimana sekelompok pengamen menyanyikan lagu ini untukku…i was blushing! thanks partner, your mission  is well accomplished…

Comments 1 Comment »

menunggu satu hari libur di setiap minggunya
menenteng si "putih" dari satu tempat ke tempat lainnya
menghabiskan waktu berjam-jam disana

aku menemukan surgaku!

Comments 5 Comments »

Ayo, ayo, ayo ada yang berniat segera masuk ke surga?

Segeralah berkunjung ke Indonesia dan nikmati layanan transportasi kami.

Anda mau pilih yang mana?

Mau pilih yang paling bergengsi? cobalah naik pesawat.
mau gengsi tapi tetap murah?
tenang saja, banyak kok penerbangan-penerbangan low-bugdet yang menyediakan layanan on-board ala kadarnya plus ditambah bebauan eksentrik perpaduan antara minyak angin atau balsem dengan dodol nangka.
Dijamin murah cuma berkisar antara Rp 100,000 sampai Rp 300,000…bahkan kalo anda beruntung anda dapat undian untuk hanya membayar belasan ribu rupiah.

Atau mau yang lebih berkelas? supaya tetap bisa dikategorikan masyarakat eksekutif. well, pilihannya Garuda. yah jauh lebih mahal sih, tapi anda bisa membawa gengsi setidaknya ke alam sana.

Yah kan lebih keren mati naik Garuda ketimbang naik pesawat-pesawat ga jelas itu.
Terserah mau naik kelas bisnis atau ekonomi, toh tujuannya sama: Surga.

Tapi kalo berpikir matematis sih mendingan naik yang murah, kalo bisa dikelas ekonominya, toh sama-sama mati…dan kita  bisa menghemat lumayan untuk sebuah tiket ke surga.

Pilihan yang lain? bisa juga naik perahu atau kapal.
Kalau ini lain lagi, anda bisa sama sekali tidak membayar untuk tiket ke surga itu, yah cukup "bermain" sedikit dengan petugas berwenang dan dijamin anda pasti mendapat tempat yang layak disisiNya.

Kereta?
Well, ini lebih lengkap pilihannya.
mau yang kelas ekonomi atau eksekutif?
bisa juga pilihannya: mau bayar atau tidak bayar?

Terserah anda deh pokoknya.
Tapi anda pasti dijamin dapat akses ke dunia akhirat.

Oiya, satu hal lagi, kami juga memberikan pelayanan tambahan yang membuat perjalanan anda tidak terlupakan hingga detik-detik terakhir itu.
mau yang terbakar hidup-hidup atau jatuh kedalam laut berkedalaman ribuan kilometer?

Yeah, terserah anda.

Comments 4 Comments »

Segala sesuatu pasti punya sisi baik dan juga sisi kurang baik (aku tidak menyebutnya buruk karena aku percaya sekali bahwa hal yang terburuk sekalipun selalu mengarah ke hal2 yang baik:))
tidak menyenangkan naik motor di ibukota...Kamu akan merasa didiskriminasikan..pernah mencoba masuk ke hotel berbintang atau mall-mall di ibukota? Ya kamu akan tahu rasanya..
Kalau tidak ditempatkan di tempat yang jauuuuuuuuh sekali dari pintu masuk, anda tidak boleh sama sekali masuk...
 Aku pernah mengalaminya beberapa kali waktu hendak liputan. Karena ingin mengejar waktu, aku selalu naik ojek dari kantorku untuk menerobos kemacetan ibukota. Tapi ada daya, waktu sampai ke tempat liputan yang biasanya hotel-hotel berbintang, pasti pak satpam langsung standby dan mau tak mau turunlah dari ojek dan berjalan lumayan jauh..pernah sekali nekat membawa ojek masuk ke Hotel Mulia karena memang sangat terburu-buru, lewat pintu belakang dan langsunglah diturunkan di pintu samping...langsunglah pak satpam menghampiri, sebelum dia berkhotbah aku pun menyambar, "Kenapa sih pak?" "Motor ga boleh masuk sini," "Emang kenapa?" dengan jawaban standard yang selalu dikerahkan para satpam di semua tempat. Jawaban yang sudah bisa kutebak, tak bisa didebat karena memang bukan sebuah jawaban. "Udah kebijaksanaan dari atas mba"
Lalu pernah nebeng naik motornya teman untuk liputan di hotel Borobudur, itu lebih tidak manusiawi...kami boleh masuk ke area hotel, tapiiiii parkirnya jauuuuuuuuh sekali dibelakang, tak urung aku berkomentar dalam hati, "huuh, sekalian aja parkirnya di Hong Kong"
Pertengahan Februari lalu aku kan ojek cintaku pergi ke mall Plaza Indonesia untuk pergi ke toko buku disana ..sebuah plang tertampang jelas berbunyi: Mulai 1 Maret, pihak manajemen tidak menyediakan parkir untuk motor. "WHATTT!"
mmm...sempet marah2 ga karuan sebentar, merembet mengomentari rencana kebijakan pemerintah untuk membuat jalur khusus buat motor dan melarang roda dua untuk melewati jalan2 protokol. "Monyet benar"
Wah..disanalah tepat disampingku dengan sabar ojek cintaku yang sehari-hari melanglang buana dengan si suprit, motor supra fit kesayangannya, mendengarkanku...
"Tenang ojek cintaku, kamu tetap pilihan no.1 untuk berjalan-jalan di kota yang payah ini. Tidak ada yang mengalahkan kenyamanan yang tercipta waktu naik si suprit. Semua jadi lebih indah, jauh lebih indah dibanding waktu engkau duduk dibelakang setir mobil dan aku duduk disampingmu jauh dipisahkah oleh kopling tak bernyawa itu...tidak ada pelukan mesra, tidak ada nyanyian2 lucu yang kudendangkan di tengah bising lalu lintas (seharusnya kau lihat tampang mas2 kemarin yang tersenyum melihat goyang lucuku diatas motor), tidak ada "perasaan selaksa terbang" waktu kau membawaku melaju kencang diatas gundukan jalan di daerah Pengumben, tidak ada rintik2 hujan yang menyentuh langsung tangan2 kita..." 
 
 

 

 

 

 

 

Comments 1 Comment »

Patung-patung berarak dalam perjalanan menyusuri jalan Ibukota. Hiruk-pikuk orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing, menyatu dalam kesatuan arah. Mereka  begitu dekat, berhimpitan kaki dengan kaki, bau badan demikian menyengat hidung, dan tatap mata yang saling berbenturan, namun tak ada dialog, membisu dalam bilik-bilik pribadinya masing-masing.

Ada yang sibuk dengan tuts hapenya, Ada yang sibuk membolak-balik majalah, ada yang sibuk dengan pikirannya yang melanglang buana mewujud dalam pandangan mata kosong, ada yang sibuk melihat jendela berusaha melawan rasa bosan dan mencari hal-hal menarik dari pemandangan sama yang selalu dilewatinya setiap hari, ada yang tertidur dengan enaknya, bahkan di tengah bising suara, ada yang nampak tenang dengan sebuah earphone menyembul dari kupingnya.

Semua acuh, tidak peduli dengan keadaan sekitar, sibuk dengan bilik-bilik pribadi yang mereka ciptakan.

Tapi kemarin aku membuka bilik itu. Menikmati nyamannya sebuah percakapan dengan seorang yang asing: Mba Astuti.

Percakapan dimulai tak disengaja: "Mbak, kalo mau ke senayan, turun dimana yah? saya jarang keluar rumah nih jadi ga tahu jalan," tanyanya. pada awalnya, aku yang kebetulan duduk di sebelahnya pun menjawab.

Tapi jawaban sekenanya yang kuberikan tidak menghindarkannya untuk mengajakku melaju ke pembicaran selanjutnya. rasanya aneh tapi ajaib.

Aku tidak mengenalnya sama seperti dia tidak mengenalku tapi aku begitu terharu ketika perempuan berumur tiga puluh itu membagi kisah hidupnya padaku, bahkan dia membagi mimpinya padaku.

"Saya ingin jadi penulis tapi ga kesampaian karena saya udah keburu nikah. Saya sekarang mau pergi ke pameran, siapa tahu saya bisa ketemu penerbit disana saya mau memperlihatkan puisi2 yan pernah saya buat," ujar ibu rumah tangga yang sudah punya empat orang anak itu.

Begitu mengharukan ceritanya…tambah terkejut ketika dia menyerahkan buku-buku tempat dirinya menulis karya-karya puisinya.

"Boleh dibaca semuanya Mba?". Dia pun menggangguk sambil tersenyum.

Terekam jelas sebuah kalimat yang terlontar dari bibirnya sesaat sebelum kami saling bertukar nomor telepon rumah:" Indahnya perjalanan, saat dimana  menambah tali silahturahmi…"

Kamu benar, Mba Astuti…

Comments No Comments »