Archive for February, 2007
Bodoh..bodoh..bodoh…
Iyah, memang bodoh.
Kemarin aku pergi ke bank untuk (akhirnya) membuat kartu kredit. Yeah…sebenarnya aku tidak punya alasan cukup kuat kenapa (akhirnya) aku membuat kartu kredit…
diawali oleh keterkejutan editorku yang heran kenapa aku tidak punya kartu kredit, padahal untuk pergi ke luar, itu adalah kartu sakti yang mesti dibawa…well, okey… yang kedua, untuk mendapatkan fasilitas international roaming dari XL aku perlu punya laporan debet kartu kredit…
yah, yah, yah tapi akhirnya pergilah aku ke bank…
Bertemu dengan Mbak Chris yang manis dengan baju biru kuningnya, aku pun duduk dengan nyaman di depan mejanya
Tapi tak lama, aku mulai bingung dengan pilihan-pilihan yang diajukannya…
aku bingung memilih! sumpah..aku blank ketika itu, tak kuasa melawan senyum maut mba Chris..dan jadilah aku (sepertinya) membuat keputusan-keputusan bodoh.
Chris: Mba Ika mau bikin kartunya pake jaminan atau nggak, kalo iya kita ambil 3 juta dari rekening mbak sebagai jaminan? Ika: (berpikir lama sekali, sambil bertanya sesekali kepada mba Chris, menimbang lagi, memutuskan untuk tanpa jaminan, mendengarkan Mba Chris menjelaskan tentang pentingnya dengan jaminan, diam lamaaaaaaaa sekali, bertanya pada pacar..akhirnya)okey deh aku pake jaminan…—> kebodohan pertama
Chris: Mba mau kartu yang mana? Visa atau Master card? Ika : mmmm…mana yah? wah bagusan yang mana yah mba? Chris: Terserah sih tapi banyak orang bilang kalo di Eropa banyak bilang Visa, tapi Asia Master Card. terserah mbak… Ika: (berharap aku akan lebih sering ke Eropa dan iklan Visa di televisi memang lebih bagus ketimang iklan master card) Visa aja deh Mba —> kebodohan kedua
Chris: Mba ika mau kartu yang mana? yang biasa bisa gratis, tapi ada juga yang versi batman, tazmania dan bugs bunny Ika: yang biasa aja deh Chris: lho yang ini bagus lho Mba, batman-nya keren..masa ga suka Batman Ika: Ga..saya ga ada yang suka. Chris: Yang Tazmania..lucu lho? Ika: Ga..saya ga suka Chris: tapi dapet fasilitas beli satu gratis satu lho kalo nonton di 21..masa ga mau? IKa: (diam…menengok sang pacar yang sibuk dengan hp-nya) ya deh…—>kebodohan ketiga
Chris: Mau di auto debet ga Mba? jadi begini bla bla bla bla Ika: (mendengarkan tapi tidak bener2 paham) Chris: gimana Mba? Ika: ya udah deh…—-> kebodohan keempat
Chris: ini ada pajak 0.4 persen buat kalo misalnya, maaf lho mbak misalnya mba Ika udah ga ada, jadi nanti beban pembayaran akan dihapus semua, jadi orang lain tidak perlu menanggung lagi Ika: (mulai bisa berpikir jernih dengan tekad tidak mau bikin repot orang lain kalo aku mati) boleh deh Chris: okey ttd di sini…—> sebuah kebodohan lagi?
aku tidak mampu lagi
Keluarlah aku dari bank itu sambil bertanya terus sampai sekarang: Apakah aku membuat keputusan yang benar?
7 Comments »
just recently bought another Kundera’s great book
I was stunned by one of his notion about memory
let me quote it for you:
I imagine the feelings of two people meeting again after many years. In the past they spent some time together, and therefore they think they are linked by the same experience, the same recollections.
The same recollections?
That’s where the misunderstanding starts: they don’t have the same recollections; each of them retains two or three small scenes from the past, but each has his own; their recollections are not similar; they don’t intersect; and even in terms of quantity they are not comparable: one person remembers theother more than he is remembered.
First, because memory capacity varies among individuals (an explanation that each of them would at least find acceptable), but also (and this is more painful to admit) because they don’t hold the same importance for each other…
Ignorance by Milan Kundera page 126
4 Comments »
Heran dan tak habis pikir, bagaimana pria-pria jadi kesetanan menggagumimu.
Okey, kamu bisa saja lebih cantik dariku, lebih putih dan menarik dengan kulit mulusmu yang tanpa noda dan jerawat. Lebih sexy, dengan body-mu yang ramping.
Yah yah..kamu pun lebih cerdas dariku, dengan spesifikasi teknologimu, aku pun mengaku kalah.
Tapi menentengmu selama satu minggu penuh di kota asing tidak pernah bisa menjelaskan perasaan tergila-gila yang dirasakan pria-pria itu terhadapmu.
Aku juga menyentuhmu,menaruhmu dengan hati-hati di pangkuanku..tapi aku tidak merasakan apapun.
Oleh karenanya,
tidak mengerti kenapa temanku yang sangat sinis memujamu demikian rupa, hingga kau dijadikannya pacar pertamanya, dan melupakan mantan pacarnya dulu, sebuah kamera nikon yang sekarang dilabelinya pacar kedua.
Tidak mengerti kenapa berulang kali, dia berulang kali berteriak, "Yang hati2 yah!" atau "Enggak usah pake disentuh kali layarnya" atau "Ga usah pakai digeret kali"
Tidak mengerti kenapa temanku yang daerahnya tertimpa musibah puting beliung di Jogja, dengan tiba-tiba menulis sms,"Meskipun beratapkan langit, Mac-ku masih mulus. Aku gak apa-apa kok,"
Berusaha mencari jawaban, dan pacarku yang gadget minded ini pun mengatakan: "Gak kok sayang,masih cantikkan kamu,"
Yeah…setelah kamu menurunkanku di jalan dan memaksaku untuk naik bis saja karena hujan deras turun, sementara kamu dengan erat memeluk mac putih itu dalam tas-mu.
Benar masih cantikkan aku?
4 Comments »
Jago bahasa Inggris? bolehlah bangga. tapi jangan sekali-kali di negeri matador Spanyol.
Sumpah deh, beruntunglah kamu kalo bisa menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di negara Eropa itu.
Sopir taxi, petugas restoran, polisi, orang-orang dijalan jarang yang bisa berbahasa Inggris.
Dan jadilah aku, turis amatiran ini tergagu-gagu dan tersesat di kota yang indah ini.
Berusaha belajar cepat, aku pun mengutip sepatah dua patah kata bahasa Spanyol.
Itu lumayan cukup lah ketika berjalan-jalan pake taksi karena yang aku perlukan adalah tiga kalimat:
Hotal Colon, por favor (Hotel Colon, please (tempat tujuanku)
Reicivo (minta bon taksi)
Muchos gracias, senor (thank u very much sir)
Pengalaman gawat waktu mencoba mengurus surat kehilangan di kantor polisi perihal masalah kecopetanku, karena aku gak tahu dimana alamatnya.
Bertanya-tanya dengan orang, namun aku kurang beruntung karena gak ada yang bisa bahasa inggris.
Bahkan ketika bertanya dengan seorang polisi dengan bahasa spanyol apa adanya, "Don est casa de policia?" (kira-kira artinya dimana kantor polisinya) aku pun kebingungan karena si polisi menjawab dengan bahasa spanyol pula.
Matilah aku!
1 Comment »
Aku tidak pernah percaya dengan hal-hal mistik, magis atau tetek bengek yang berbau supranatural…dan dengan gampangnya memasukkn mereka ke dalam laci kategori hal-hal yang irational dalam laci memoriku.
Itu makanya aku selalu terkekek-kekek dengan sinisnya melihat tayangan Ki Joko Bodo di televisi dan mengutuki betapa bodohnya orang-orang yang percaya dengan hal-hal seperti itu.
Mungkin hal-hal yang berbau supranatural itu ada, tapi tidak di duniaku.
Hingga kemarin di tanggal 13 Februari di suatu tempat di belahan dunia lain sebuah kejadian membuatku merenungkan bahwa kekuatan itu mungkin ada di mana saja, termasuk di duniaku.
Pagi itu, aku lumayan excited, akhirnya rombongan telah sepakat bahwa hari itu kami akan mengunjungi Sagrada Familia temple, sebuah situs sejarah di Barcelona yang harus dikunjungi jika bertandang ke kota itu.
Sedikit tergegas dengan taxi, kami pun sampai di tempat dimana arsitek terkenal dunia, Gaudi mengabdikan seluruh hidupnya untuk membangun maha karyanya.
Setiba di sana, aku disambut dua wanita berkerudung yang kemudian memberikan mawar merah di kantongku… waw, keramahan yang luar biasa, pikirku dalam hati. tapi kesan itu langsung terbantahkan ketika mereka meminta uang 1 cent euro. Dan tidak mudah mencari uang satu cent euro di dalam dompet.
Aku tidak menemukannya. demikian juga ketiga temanku yang lain. Dan dua orang perempuan berkerudung itu memaksa kami, bahkan berusaha menggeledah dompetku dan temanku.
Karena saking kasarnya, kami pun menolak mereka dan mengembalikan mawar merah itu.
Kejadian yang lumayan menjengkelkan di depan gerbang itu langsung terhapus begitu kami memasuki bangunan gereja. Keindahannya tak bisa dilukisan dengan kata-kata. Ini bukan hanya sekadar bangunan, ini karya seni!!!
Setelah berfoto-foto ria, kami pun pulang dengan riang menuju tempat tujuan selanjutnya.
Namun rencana itu buyar setelah aku menemukan bahwa tas temanku terbuka, dan benar dompetnya hilang beserta uang, kartu kredit dan paspor.
"Bagaimana mungkin," setiap satu diantara kami bertanya. kami selalu bersama, dan jika ada yang mengambil sesuatu dari tas seorang diantara kami, seharusnya ada yang melihat. Kami pun tidak pernah berpapasan atau berhimpitan dalam rombongan lainnya, karena waktu itu tempat itu sedikit lengang. Aneh, sangat aneh.
Temanku datang dengan sebuah teori untuk menjelaskan kejadian ini, ia mengatakan bahwa si pencopet pasti memiliki kekuatan magis karena hal itu satu-satunya yang bisa menerangkan ini.
Tapi aku punya teoriku sendiri, tentu teori yang tidak berkaitan dengan hal-hal mistis. Tapi aku malas berbantah, dan berusaha menyusun teoriku dalam hati sambil terus bertanya dalam hati, "Bagaimana mungkin?"
Seharian lelah dengan pertanyaan yang tak terjawabkan, aku pun masuk ke dalam kamar hotel, sedikit berbenah dan kemudian mendapatkan fakta yang mengejutkan bahwa ternyata: AKU JUGA KECOPETAN.
Tapi ini ini lain, dompetku masih utuh, yang hilang hanya uang euro-ku, tidak dokumenku, tidak rupiahku
Aku pun terdiam selama 30 detik. tidak bergerak. berusaha menyusun logika, sementara pertanyaan2 berkelebat di otakku, "Kapan aku dicopet?" Bagaimana mereka bisa mengambil yang euro aja sedangkan rupiahku yang ada dalam dompet itu utuh,"
Aku tidak sanggup menjawab.
Berusaha mempertahankan rasionalitasku, aku berusaha mengumpulkan data-data ini: Setiap tahunnya di Barcelona bersamaan dengan diselenggarakannya kongres tingkat internasional, pencopet-pencopet asal Maroko dan Amerika selatan datang ke tempat ini. Tahun lalu tercatat ada 6,000 kasus dalam acara 3gsmworldcongress, dan tahun ini diperkirakan ada 2,000 pencopet datang.
Hasil wawancara dengan seorang polisi mengatakan bahwa saat itu ada 100 kasus perharinya datang ke kantornya, padahal ada 10 kantor polisi di Barcelona. Bayangpun!
1 Comment »
"Kamu
sudah tua, Ka!" ujar temanku suatu ketika, mengomentari foto-foto di
friendsterku yang tidak lagi memajang foto-foto cantik diriku.
Dia
mengatakan bahwa keputusan itu menandai berakhirnya masa narsisme-ku dan yah
dia sekali lagi menekankan bahwa aku sudah tua.
Yah,
memang aku mengambil keputusan itu setelah aku berulang tahun yang ke dua lima.
Waktu itu aku berpikir bahwa aku tidak perlu lagi memajang foto2 itu, buat apa
sih? buat menyakinkan orang bahwa aku cantik, keren…Sudahlah orang-orang
tersayangku tidak memerlukan hal-hal seperti itu. Aku lebih bangga jika
memasang foto2ku, maksudku foto-foto hasil karyaku:)
Dan
keputusan itu tidak ada kaitan antara usia dan berakhirnya masa narsismeku, aku
masih suka difoto, dan memajangnya di blog-blogku.Dan
aku punya pengalaman seru yang membuktikan bahwa narsisme tidak ada kaitannya
dengan usia.
Jalan-jalan
dengan bapak-bapak beranak satu, kupikir bakal membosankan. yah, tapi bagaimana
lagi, aku harus tetap bisa membuatnya asik karena perjalanan satu minggu ini
harus kujalani bersama mereka.
Dan
memang ini perjalanan yang luar biasa dan mengejutkan.
Mengejutkan
karena bapak-bapak ini lebih banci tampil daripada diriku.
Di
pagi terakhir kami di kota cantik itu, salah seorang bapak berusia 32 tahun,
memaksa kami untuk mengunjungi stadium sepakbola Barcelona, untuk melihat
musiumnya.
Setiba
disana, tidak ada tuh kunjungan ke museum, yang ada adalah photo session untuk
bapak-bapak ini. Dan bukan sembarang photo session, karena setiap gambar harus
ada tulisan Barcelona di belakangnya.
Dengan
pose-pose yang standar, bapak-bapak ini bergaya dengan tulisan Barcelona
menghiasi background. Tak terlalu indah komposisinya tidak apa-apa, asal
kelihatan aja tulisannya.
"Yah,
lumayan bisa dipasang di friendster nanti," ujar seorang bapak.
Photo
session kemudian berlanjut lagi di tempat lain, dan ini lebih gila. mereka
memaksakan untuk pergi keluar dari bandara Frankfurt, di sela-sela transit kami
yang sangat mepet, untuk benar-benar merasakan tanah Jerman dan tentu saja,
berfoto-foto di sana.
Modus
operandinya sama: pose standart dan tulisan Frankfurt di belakang mereka.
Misinya
tercapai sih, tapi kami harus menebusnya dengan berlari-lari menuju airport,
karena pesawat sebentar lagi berangkat, sementara kami harus melalui
pemeriksaan imigrasi yang lumayan ketat di Jerman.
Kejadian
semakin kacau karena kami tersesat, untungnya ada seorang perempuan baik (bless
you, woman) yang menunjukkan rute yang lebih singkat dengan kereta yang lebih
cepat.
tapi
waktu semakin tipis, dan kami tidak cukup punya waktu untuk membeli tiket
kereta karena tempatnya jauh sementara kereta berangkat lima menit lagi.
jadilah
kami penumpang gelap di kereta itu, tentu saja menyiapkan uang 11 euro untuk
harga sebuah tiket. Yah, siapa tahu ada petugasnya…(benar-benar tipikal
indonesia)Hihihihihi..dan
sampailah kami di bandara tepat pada waktnya. (dan kami tidak membayar 11 euro
itu karena tidak ada petugasnya tuh)
Cukup
melelahkan tapi aku berhasil membuktikan kan bahwa usia tidak ada kaitannya
dengan narsisme..
narcissism
is not a sin and you have never been old enough to be a narcissist.
No Comments »
banyak Orang Jakarta mengutuk hari ini. Apa lagi kalau bukan karena banjir bandang yang menyerang tanpa ampun.
Kantor-kantor libur, toko-toko tutup, transaksi-transaksi bisnis tertunda, kendaraan-kendaraan mogok Rumah-rumah kebanjiran, barang-barang hanyut. Hilanglah ber juta-juta- bermilyar-milyar.
Tapi seberapa banyakkah yang mengucap syukur? mmm..bersyukurlah aku karena aku menemukan orang-orang yang dengan bijak melihat bencana ini sebagai sebuah berkah buat mereka.
(Meski sempat mengutuk karena jalan dari rumah ke kantor tertutup banjir) aku mau tidak mau tersenyum di Cipulir melihat orang-orang dadakan yang menyediakan angkutan manusia dari gerobak-gerobak sayur untuk melewati genangan air setinggi dada.
Rp 5000 untuk satu penumpang, sedangkan sekali angkut mereka bisa sampai lima sampai tujuh orang. Bayangkan kalo 10 kali antar mereka bisa dengan pasti mengantungi uang Rp 350 ribu…
Aku pun memaksakan diriku untuk menaiki salah satu diantaranya, (yah, disamping seorang editor yang sudah menanti-nantiku dikantor, yang memaksaku mau tidak mau untuk melewati banjir ini, aku juga tidak mau melewatkan kesempatan aneh ini)
melihat mata-mata penarik gerobak berbinar-binar dan sekaligus melihat penumpang-penumpang yang menggerutu di dalam gerobak.
"Yak yang mau naik Adam Air. Cukup Rp 5,000 saja. Pake AC pula," teriak seorang penarik gerobak
dan aku tak sanggup menahan tawa.
No Comments »
|