Archive for November, 2006
It’s meeting the man of my dream, and then meeting his beautiful wife
isn’t ironic?
Well, it turns to be NOT as it goes with my experience…
it was funny and exciting
I never know how this world can lead me to her…
One day, a woman, who represented a Public Relation company, called me, she complained about my article, in which she thought that i made some errors. She urged me to make a correction. Well, i said: hell No! I have made it right and it was based on what i heard and searched in the internet.
"Okay, mbak ika..let me just call the company and see how its respond regarding on your argument. i may call you later,"
But no phone call came to me again
Yesterday, the same woman called me again. At first, she apoligized about the previous phone call and then she invited to come to an event organized by her company,"
I said, okay let’s see then…
Before ending up the conversation, she asked me, "I think we have met earlier. I recognized mbak Ika’s face. Mbak Ika was also a commication graduate?
"Yups…how does Mbak know it? You mean graduate from UGM right?
"Yeah, i talked to my husband the other days, mas *** , he knows you also. he said, "I think i know her, its Ika Krismantari right?"
(oh my god, oh my god, this is weird, this is weird, this is weird, oh my god, oh my god, oh my god)
"Really? hehehehehe (akward laugh). Yeah i think we have met in a communication reunion. (a long deep silent) mas *** introduced me to you. I remembered how you both were the perfect couple in the campus," I responded.
(off course, I didn’t tell her that after ward her husband and i had a deep and frequent on-line conversation and i didn’t told her that i had this big crush on him. I didn’t tell her that her husband was the man of my dream I didn’t tell him that her husband was my beautiful stranger)
Instead I just said, "Send my regard to mas ***,"
I closed the phone.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa," i yelled and laughed.
No Comments »
Aku
tinggal di kota ini, aku besar disini, dan akhirnya bekerja disini… Selama
hampir dua puluh tahun, Jakarta seharusnya kota yang sangat dekat dengan
kehidupanku…
Tapi
sayangnya tetap saja kota ini masih terasa asing bagiku…
Sampai
kemarin kota ini masih saja merupakan tanda tanya buatku. Sampai kemarin pun…
ketika aku membaca tulisan dua orang yang (mencoba) menulis (untuk memahami)
Jakarta.
Tulisan
yang pertama bercerita tentang bagaimana alur Jakarta yang terlalu cepat
sehingga membuat orang-orang yang hidup di dalamnya tidak bisa menghasilkan ide
yang besar…
Mmm….si
penulis baru saja datang ke Jakarta untuk menjadi juri sebuah festival film
indipenden di Jakarta. Dia sangat kecewa dengan karya-karya yang tampil disana dan dia merujuk
pun kepada Yogya yang mampu menghasilkan orang2 dengan gagasan lebih kreatif dan
masuk akal dan terbukti dua kategori di festival itu disabet oleh dua orang
dari Yogyakarta….
Mmm…Tapi
bukankah Jakarta lebih dari sekadar ajang festival film indie, lebih dari
sekadar menjadi pemenang atau sekadar jadi penyemarak suasana disebuah event,
lebih dari sekadar mampu menghasilkan ide besar dengan huruf B besar, lebih
dari sekadar kemampuan berapresiasi, lebih dari sekadar ketergesaan di jalan,
lebih dari sekadar gedung-gedung bertingkat, lebih dari sekadar mall-mal yang
bertebaran, lebih dari sekadar dari kafe-kafe yang menyediakan fasilitas
hotspot…
Beruntunglah
diriku ketika aku mendapatkan cerita Jakarta yang sangat hidup dari orang-orang
yang kemudian dari merekalah aku mengumpulkan potongan-potongan puzzle tentang
jakarta…Aku
berterimakasih pada Mas yanto, seorang penyapu jalanan di daerah Jln Sudirman,
Dewi, si gadis dibawah umur yang lincah menyambangi dari mobil ke mobil untuk
mendapatkan recehan, Mbah Martinah, perempuan ceria yang bertarung dengan sepi di sebuah panti jompo di Jakarta,
Ibu Wartiyah yang hidup di kolong jembatan Tanjong Priok, ada juga Agus, Edi,
Ina, Wati…
Dari
merekalah aku mendapatkan gambaran buram tentang Jakarta, buram tapi
hidup…bahkan sangat hidup, sangat kreatif, dan sangat mengagumkan.
Itu
kemudian yang membuatku miris membaca tulisan kedua yang kutahu dengan pasti
bawa penulisnya yang tinggal di Surabaya ini tidak tahu apa-apa tentang
Jakarta. Toh, buktinya dia dari sebuah bukulah, dia kemudian mencoba memahami kota ini…
Menurutnya
(dari buku yang dibacanya) Jakarta adalah kota yang berisi kecemasan dan
mengangetkan. Kota yang “ajaib yang merupakan aquarium para makhluk Jakarta
dimana gaya dan mitos kesuksesan dipuja”.
Baginya,
buku karya si tenar Seno Gumira itu memberikannya gambaran Jakarta yang “muram, suram, ironis, tentang aquarium
Homo Jakartensis dan keterasingan”
Mencoba
ngobrol dengan seorang temanku yang sangat sinis…dia pun hanya berucap, “ya
biarin …biar aja dia hidup di dunia seperti itu,”
Yeah
mungkin dia terperangkap di aquarium-nya sendiri…yah, seandainya dia cukup
berani untuk keluar dari aquarium itu dan mencoba berkelana di semesta Jakarta
dan bertemu dengan orang-orang dengan daya kreatif hidup dan semangat yang
tinggi disini.
Dan
satu hal, entah dia juga membaca atau tidak, tapi di halaman 20, Seno juga
bercerita tentang keterasingan di Jakarta. Bagaimanapun keterasingan di Jakarta
ini tercipta, namun membuat Homo
Jakartensis memiliki perasaan yang mesra tentang kota ini.
Mesra..dan
mesra…
Sampai
tulisan ini selesai, aku pun masih tidak punya gambaran definitif tentang apa
itu Jakarta…Tapi sepertinya kutipan
temanku bisa kupakai: Jakarta itu…mmm sexy!
Special
thanks buat temanku yang superduper sinis yang telah membantuku melihat Jakarta
2 Comments »
"Pak, ke Taman Ismail Marzuki…"
"Lewat mana nih mbak?"
"Mmm, saya tahunya sih lewat Jl. Jendral Sudirman…"
"Okey jadi lewat Jend. Sudirman aja yah…"
—————————————————————————————————–diam
"Mmmm…mas Musril (setelah melongok kartu pengenal di dashboard depan), aku senang sekali hari ini…ada seseorang memberikanku cheese cake. Seneng banget, apalagi ini dari seseorang yang sangat special. Hehehehe…pokoknya senengggg banget! Setelah menerimanya aku jadi suka tersenyum -senyum sendiri gitu..semacam kegeeran…hahahahaha, sudah lama aku tidak menerima kue dari seseorang, terlebih dari seseorang yang kukagumi…"
"Tahu gak dari siapa?" hahahaha, stupid question mana tahu yah, kita akan baru ketemu sekarang…
"Ini dari mantan bosku..wah, dia itu keren banget deh, smart, keren, dan ganteng pula (ini sih yang paling penting hahahaha)…i have this huge crash on him…
"Well…i don’t play it seriously because fyi, it’s not just me, who has the same feeling. My colleage and I have agreed to make him our object of compassion…biar lebih semangat di tempat kerja gitu mas"
"But he left the office a few months ago, I am a little bit upset at that time…but off course the cheese cake gives me a new kind of spirit…" "I told this to my collegue, and she was so furious because she didn’t get the same cheese cake…"
"Well, anyway…pokonya aku seneng banget hari ini…seneeeeeeeng banget,"
——————————————————————————————————-diam
"Wah mba..sampai sini aja yah, saya gak pernah masuk ke dalam..jadi ongkosnya Rp 28,000…
"(sambil memberikan uang lima puluh ribuan) Ini mas kembali dua puluh aja..makasih ya…,"
– Palmerah - TIM, tiga puluh tiga menit perjalanan dalam diam di taksi biru bernomor CD 3148
makasih mas Musril, udah mau mendengarkan cerita saya…
No Comments »
aku ada di lantai dua dan jendela jauh dari tempatku duduk…
sedih…
Palmerah, Nov.8′ 06 07:07 pm
——————————————————–
No Comments »
warp person: is someone who can warp me to a
higher level in relation to my life achievement. I would never be like this if
I haven’t meet him/her…2 Nov 2006
14:16:14
An
SMS appeared on my cell phone. Finally you answered my question, the one I
asked in the morning.
Last night, you introduced me to a concept in
your life called warp person. At first hearing it, I was not sure I was
familiar with your notion. What i knew about warp was a term used in the
old yet quite famous television series Star Trek. I didn’t know that you
were reffering to the same thing, off course in a different context.
Well, later one I was not suprised
when you told me that i was one of your warp people.
"You are the one who has made me the way I
am now. If it was not because of you, I would never move to
Jakarta
, found a job here and living my current life," you
said.
I smiled. Then I hushed when you told me the
rest of your warp people.
Now, I knew some of inspiring people in your
life. There are your lecturers that have opened the chance for you to learn
about the excited things in life, your animator idol, Deddy Samsudin, who
currently is your job partner and me.
While you were sharing your stories, I was
listing a number of warp people appeared in my life. The first is my father, he
made me what i’m now, a stubborn, very logical, impatient person, my mother,
who teach me about love and compassion. Pascal, who gave me a life-changing experience
in my love life. There is also my high school literature teacher (sorry, I
forget her name), mas Inong, who gave me the chance to experience the other
side of live, living in a non-capitalist world in such fun way (i believe that
you learned someting about the capitalist from me…remember the first time you
went to the mall, I accompanied you picking the right sneakers), Mas Ifa, who
made me the so-called movie star, who then inspired me to become one of the
greatest directors ( I am still keeping that dream, my beloved Eka, who has
opened my eyes about the reality out there…( I miss you honey)
But You? You are not my warp person.
Kamu adalah nyamanku. Nyamanku yang tetap.
No Comments »
"Ya kalau kangen..telpon aja, atau sms-lah!" ujarku suatu ketika dengan tegas menjawab pertanyaan temanku yang bingung apa yang harus dilakukan terhadap seseorang yang diam-diam dia rindukan.
dan kalimat yang sama pun terlontar dari temanku..persis sama! waktu aku bilang bahwa aku kangen dengan seseorang nun jauh di sana…
Bah! ternyata tidak mudah melakukan sesuatu yang impulsive buat seseorang yang sangat rasional seperti aku…
Meski aku kangen sekali dengannya…mulai dari pembicaraan dan diskusi kita yang tak berujung, masih ingat betapa terpesonanya diri ini mendengarmu menguraikan teori-teori komunikasi (sampai-sampai akhirnya aku menggunakan salah satu pendekatan yang kau ceritakan sebagai metode skripsiku), masih ingat tentang makan malam di tempat-tempat asyik, mmm,terakhir kalo tidak salah di rumah mertua yah?.. atau perjalanan ke air terjun di daerah semarang..itu mengasyikkan sekali, dengan gemericik suara air menemani engkau bermain air dan aku sibuk membaca novel tua berbahasa Inggris.
Yah, aku kangen sekali denganmu!
Tapi bagi seorang yang sangat rasional aku harus punya satu alasan yang cukup kuat sebelum akhirnya aku menghubungimu..satu alasan, yah hanya satu…
dan kangenku yang berbukit-bukit menurutku kurang layak jadi sebuah alasan…hahahaha, itu terlalu sentimentil, menurutku terlalu berperasaan dan tidak rasional…
tapi kemarin hujan datang, dan aku ingat "hujan bulan juni" yang kau ceritakan padaku…
yah, aku akan meneleponmu!
No Comments »
|