Archive for July, 2005
fiuh..lelahnya perjalanan ini!
ingin rasanya punya remote control yang bisa menghentikan waktu dan men-pause sejenak kehidupan ini…
kemudian duduk tenang melihat pemandangan orang-orang mematung dalam kesibukan mereka…
pengin banget!
ada yang tahu dimana mendapatkan remote controlnya?
5 Comments »
tersebutlah sebuah jalan : Ciledug…
orang Jakarta pasti sudah mengetahuinya sebagai biang kemacetan…
dan celakanya aku tinggal disana!
akulah homo ciledugensis, yang selalu terjebak dalam kemacetan pagi hari yang menyebalkan! Entah kapan kemacetan ini ada, kayaknya udah sejak jaman dahulu kala..mungkin Ciledug udah dikutuk jadi kemacetan yang absolut, malah orang akan bergumam jika jalan enggak macet, "Wah tumben yah kok enggak macet!"…
yah, kami sebagai makhluk pinggiran ibukota, sepertinya sudah mengamini hal ini. Adegan pagi hari adalah seperti acara sinteron yang di Re-run berkali-kali, penuh intrik, atraksi, komedi, konflik…semuanya deh ada disini!Tapi orang bahkan tidak peduli, kami lebih takut pada kata :terlambat di kantor!
Tapi bosan juga terjebak dalam kebisuan massal ini, kebisuan yang berbuntu kepada umpatan-umpatan kasar pada supir angkot, tukang bajaj, tukang gerobak sampah, pengendara motor, supir mobil…yah kami mengumpat satu sama lain!
bodohnya!
seandainya ada yang lebih berpikir rasional bahwa ini bukan semata-mata kesalahan orang per orang pengguna jalan, tapi juga pemerintah yang entah dari jaman bahela sampai sekarang sepertinya masa bodoh amat!
kepada merekalah umpatan-umpatan itu diteriakkan. Masih teringat jembatan di Cipulir, salah satu sentra kemacetan di jalan Ciledug, yang pembuatannya sampai bertahun-tahun, padahal jembatan itu panjangnya enggak sampai satu kilometer.
monyet bener!
Masa yang harus menunggu pejabat lewat dulu, baru infrastruktur jalan diperbaiki..iyah kayak tol cipularang, yang pembuatannya jadi super ekspress karena tamu negara asing datang!
Inilah nasib makhluk-makhluk pinggiran: tak terlihat dan tak terdengar dan tak diacuhkan
ayo, siapa mau datang ke Ciledug?
aku cuma bisa bilang "Selamat datang di Neraka!"
(sekali lagi terlepas dari kemacetan dan tidak terlambat di kantor)
2 Comments »
"Maaf, ada gangguan teknis!" tiba-tiba layar bioskop mendadak hitam. Setelah hampir dua jam aku menonton film ini, dan kekecewaan datang bertubi-tubi…
mungkin aku kecewa karena tidak tahu apa-apa, atau mungkin kecewa karena berharap terlalu banyak… entahlah…
Gie dalam Nicholas atau Saputra dalam Soe? bingung kan? mungkin itu yang bikin bingung si Riri Riza juga…dia mau bikin yang mana neh? si demontran yang idealis dan keras kepala atau sosok pemuda romantis yang gila film dan mati karena mendambakan romantismenya?
Nah lho! ketahuan banget kalo Riri Riza pengin banget mengulang romantisme AADC dengan tokoh baru Soe Hok Gie, but as you know, he’s trying too hard, or not hard at all…memaksa sangat agar Soe Hok Gie bisa jadi sosok Rangga, atau kurang memaksa dalam menelusuri data-data Gie…jadinya suam-suam kuku, anyep, enggak berasa apa2! Sosok Idealis Gie sang pejuang hak-hak rakyat versus sosok populer Gie yang meredam dirinya lewat lagu dan puisi terangkai dalam dialog-dialog berat semakin menampilkan sosok Gie yang hambar…
satu yang terlihat dan sangat mengangguku yaitu gaya berjalannya Gie (or Nicholas Saputra as well), yang kayak bencong, tidak perempuan juga tidak laki-laki…
8 Comments »
berjajar muka-muka lelah.. dalam kebisuan temaram cahaya lampu jalan
memandang jendela lewat bias sunyi dalam denting waktu yang mendadak melambat…
aku dan jakarta(ku) menyatu dalam kemesraan aneh
3 Comments »
beberapa hari belakangan ini aku mendengar kampanye hemat energi yang didengungkan oleh pemerintah kita yang lemot tercinta…
kenapa lemot? BASI TAHU!
ya iyalah, dongeng hemat bbm, listrik, dan blabla…itu pertama kali kudengar waktu SD. Bu guru tercinta yang bercerita: Bijaklah dengan menghemat energi…tapi namanya dongeng, begitu kita terjaga, kita seolah-olah berjarak dengannya!
dan dongeng itu sekarang diutarakan lagi…
aduh!
pernah berpikir? kenapa baru sekarang? ya karena pemerintah kita itu yang tidak becus mengelola sumber daya alamnya, akhirnya baru pada saat kritis langsung bingung sendiri…dan biar masyarakat enggak bingung, maka mendongenglah mereka…
ya, ya, ya…
Emang Gue Pikirin!
4 Comments »
salah satu yang menghiburku ketika naik bis, di tengah peluh dan penat, adalah nada-nada para pengamen bus…
suer, they really entertain me…dari yang suaranya sumbang, sampai yang benar2 berkelas bak penyanyi cafe, dari nada sopran milik pengamen2 cilik sampai suara bas milik pengamen tua berjenggot, dari yang modal kricikan, sampai yang full band lengkap dengan drum, atau juga yang berpenampilan lusuh sampai yang kostumnya berbaju keluaran distro…
dan sebagai pengamat pengamen jalanan (ini adalah jabatan sampingan selain menjadi penumpang bis sejati) saya melihat perkembangan yang cukup signifikan…kalau dulu bisa modal gitar doang, sekarang kreatifitas mereka mulai bertambah dan jangan kaget kalau tiba-tiba ada full band lengkap dengan gitar, drum, biola menemani perjalanan anda di bis. Masalah penampilan ada yang memvermak diri mereka sedemikian rupa sehingga menjadi necis, bak anak gaul, belu lagi metode pemintaan recehan dari yang dulu menyodorkan bingkisan permen, sekarang berubah menjadi amplop-amplop putih plus tulisan tangan yang tersusun rapi meminta belas kasihan…
Dilihat dari usaha mereka, mereka memang punya tujuan yang sama: cari duit…tapi ternyata ada beberapa hal yang menarik. Ada yang menggunakan kedok “menghibur” untuk meminta,bisa dilihat dari para pengamen yang berdandanan rapi dengan fasilitas musik yang memadai…tapi ada juga menggunakan kedok “kasihan” untuk meminta, ini bisa dilihat dari para pengamen yang kebanyakan anak-anak jalanan yang lusuh dan masih ingusan, atau ibu-ibu muda yang menggendong anaknya yang masih kecil dengan modal alat musik seadanya…
Anyway, sempet miris adalah ketika mereka mulai melancarkan aksinya, mereka seolah-olah diacuhkan. Nada-nada mereka seperti ditelan bisingnya kendaraan atau lamunan para penumpang bis. They dont really care…paling setelah para pengamen turun dari panggungnya, barulah penumpang sibuk mencari recehan dalam dompet, kalau enggak ada..aduh, ya maaf saja…
padahal mereka bisa dijadikan hiburan yang cukup menghibur, terlebih lagi dengan evolusi penampilan yang sudah berjalan…
aku terkadang tak kuasa menahan senyum melihat penampilan mereka dan nada-nada fals yang tercipta, atau ikut mengoyang-goyangkan kaki ketika lagu kesukaanku dimainkan, atau lirik-lirikan dengan pengamen yang lumayan cakep (pliz deh ka!), atau tertawa melihat betapa ekspresifnya anak kecil lusuh yang bernyanyi tanpa nada dan tanpa malu menyanyikan lagu-lagu dewasa…yap, they really entertain me…
satu hal, dari mereka aku belajar banyak…belajar bagaimana mensyukuri hidup ini…melihat mereka berjuang dan tetap tersenyum…jadi malu dengan diriku sendiri yang sering mengumpat tentang kehidupan ini…
aku berterimakasih pada kalian!
3 Comments »
hari ini hari sabtu, berarti malamnya adalah malam minggu…
dan aku terperangkap dalam sebuah perasaan sedih
karena malam minggu ini, aku berada di tempat yang sama sekali tidak aku inginkan…dan parahnya: sendirian!
damn!ini kutukan malam minggu
"pokoknya kalo lu ga ngapa-ngapain pas malam minggu dan sendirian…wah, wah..orang-orang bakal mengutuk lu sebagai makhluk terhina di dunia ini!"
and now im trap in this kind of feelin…just another loser in this miserable saturday night!hiks…
duh, duh sejak kapan yah orang menganggap malam minggu adalah malam yang special, beda dengan hari-hari biasanya, hanging out dengan teman, mengunjungi sang pujaan hati, ke cafe, dugem…
Dulu pernah suatu ketika mencoba menyangkal kutukan ini dalam status kejombloanku dan bersama teman-teman yang juga jomblo berusaha mencoba mengutuk balik malam minggu,kami memblack list malam tersebut dimana pasangan-pasangan entah dari mana pasti tiba-tiba bermunculan dari segala penjuru, dan bikin penuh dunia yang sudah sesak ini…
tapi sama saja kupikir, karena toh kami adalah loser yang mencoba lari dari kenyataan kutukan malam minggu…kami berpura-pura tidak peduli dan malah berhahaha-hihihihi, kupikir waktu itu dengan tawa canda, kami bisa mengusir kutukan malam minggu…tapi kenyataannya?
"Ngapain aja malam minggu?" dan kami tidak punya cerita apa-apa…
kupikir kutukan malam minggu juga berhubungan dengan penceritaan hidup dan segala kepelikannya yang indah, jika kamu punya malam minggu yang luar biasa dan kamu bercerita kepada orang lain, maka hidup ini jadi bergairah…untuk menyongsong malam minggu berikutnya
now, im the real loser, kutukan malam minggu tetap ada, mewujud dalam kesendirian yang menyiksaku..dan tak ada cerita!
5 Comments »
hari selalu berat dengan jakarta…
panasnya yang menghantam kulit, asap kendaraan yang meronggrong dari knalpot, rentetan mobil yang mengelisahkan, perjalanan tanpa akhir dalam debu aspal, lalu lalang orang dalam keterasingan yang menjemukan…
tapi itu tak mencegahku untuk mencoba mencintainya…
psst, dan aku mau bercumbu dengannya malam ini…
1 Comment »
pernah berpikir mati muda?
hari-hari ini rada kepikiran untuk mati muda setelah membaca dua tulisan di duamajalah yang berbeda, Bob Marley dan Soe Hok Gie…orang yang sukses dengan kematimudaan mereka…kok bisa yah?
sehabis itu aku mencoba merunut siapa saja yang sukses dengan mati mudanya…Elvis, Jim Morrison, Kurt Cobain, Marilyn Monroe, James Dean, bahkan Nike Ardilla? huahahahaha…dan mereka jadi semacam hero terlepas dari mereka mati karena apa!
berpikir apa resepnya?
dilihat dari polanya, mencoba mencari cara bagaimana bisa sukses dengan mati muda…
i think that u must’ve got something, well before you die offcourse…so jangan coba-coba untuk mati muda kalau lu belum punya apa-apa, i mean how can the people memorize you if you dont have something…elvis punya lagu, marylyn punya skandal, james dean punya tampang…
remember make something that not just something but something shocked, bikin orang2 menoleh dengan keberadaanmu…be solitude…jadilah penyendiri let the mystery unfold… jangan bilang sapa2 kalau lu mau mati…orang2 yang sukses dengan mati muda mereka, nampak heroik dengan misteri kematian mereka…
and then die my friend, just die…
6 Comments »
"bete deh jadi cowok" ratap seorang teman laki-lakiku suatu ketika…
dan mengalirlah cerita dari dirinya. Jadi cowok dituntut harus mapan, punya segalanya, punya duit banyak, terus pekerjaan yang bagus, mobil, rumah…dan bla, bla, bla…dia merangkum semuanya dalam satu kalimat yang merujuk pada ekspetasi sosial. ujung-ujungnya dia mulai melantur dan membandingkan kelebihan2 cewek dari cowok. Intinya sih tentang kepasifan cewek, yang tanpa harus melakukan apa-apa kemudian bisa mendapatkan segalanya. tanpa mencari, tanpa meminta, tanpa memilih, tanpa berusaha..Dalam hatiku kemudian berujar yeah, perempuan itu makhluk pasif, makluk dengan awalan di- atau ter-…makhluk yang dicari, diminta, dipilih, kemudian diusahain..well, asal jangan dianiaya aja deh!
ngomong-ngomong tentang ekspetasi sosial, kayaknya sama buruknya jika itu menimpa perempuan…kamu harus cantik, kamu harus sopan, kamu harus pintar memasak, kamu harus pandai berdandan. HUeeek, jadi pengin muntah, karena jelas2 aku tidak mampu.
tapi sebelnya kami melakukan itu belum tentu dapat reward seperti yang cowok dapatkan. Cowok yang udah mapan, kaya, sukses dijamin mendapatkan apapun yang dinginkan olehnya. Jadi ekspetasi sosial dalam dunia lelaki memang berfungsi baik dengan mendapatkan reward jelas. Lha kalau cewek? udah pintar dandan, masak, mmm ya kan belum tentu bisa mendapatkan semuanya. Jelas ini konsekuensi sebagai makhluk-makhluk awalan di- dan ter-…yang kemudian bisa pasrah!damn!
well, para cowok, mau tukeran?
3 Comments »
|