Selama ini saya selalu bangga menjadi penduduk ibukota Jakarta ini…
eehm, mungkin saya koreksi bukan penduduk, tapi orang yang bekerja di jakarta dan melewatkan hari-harinya kebanyakan dikota yang jumlah penduduknya berbeda saat pagi dan malam harinya…
saya pernah baca di sebuah artikel, saya lupa dimana…tapi pada intinya si penulis bilang bahwa ketika kamu bisa hidup di kota ini, pada dasarnya kamu bisa tinggal dimanapun…penulisnya menyejajarkan kota ini dengan New York dalam hal menantang jiwa kebertahanan hidup seorang manusia…meskipun dia juga mengakui bahwa untuk beberapa sisi, Jakarta lebih kejam dibanding New York…
Lihat saja lalu lintasnya, belum lagi banjir, atau semrawutnya angkutan umum di jalan-jalan…atau pengemis-pengemis jalanan yang hampir ada di setiap jalan protokol…mmmm, New York mungkin bukan apa-apanya.
Jadi meski miris dengan keadaaan yang ada, saya, yang memang ingin mencicipi kota-kota lain di seluruh dunia, boleh lah berbangga hati sedikit, setidaknya dari mental saya sudah mempunyai bekal yang cukup dari bekerja di ibukota raya tercinta Jakarta…
Saya sudah biasa menghadapi kemacetan, yang paling buruk sekalipun ketika mobil-mobil tidak bisa bergerak sama sekali dan terdapat antrian panjang berkilo-kilo meter..atau saya pun merasa berpengalaman menghadapi pengemis jalanan, pengamen, yang banyak orang sebut sebagai sampah jalanan…atau bahkan para pencopet, saya ingat menghardik seorang copet dalam perjalanan dari Ciledug ke Blok M. saya waktu itu hanya bilang: mas, jangan gitu ah, kasihan mbak nya…pencopet yang tertangkap basah oleh saya waktu itu hanya gelagepan dan hanya bisa tersenyum pahit..kalo diingat-ingat waktu itu, saya beruntung sekali karena saya tidak dipukul atau ditikam dengan pisau,,fiuuh..
Aaah, saya biasa juga melewati malam-malam di kota ini, pulang dini hari sendirian baik dengan taksi maupun angkutan umum..saya menikmati perjalanan-perjalanan itu karena saya bisa melihat wajah jakarta yang lain…
Saya merasa tidak ada yang bisa menghentikan saya, meraih mimpi-mimpi disini maupun di tempat lain…
Hingga kemarin, impian itu terbentur suatu kenyataan bahwa kota ini belum juga berhasil saya taklukan. Gara-gara satu hal: lubang-lubang di jalanan…
Iyah benar, saya yang merasa sudah mengenal jakarta dari sisi ramah dan sisi bengis nya takluk oleh sebuah lubang sebesar 20 cm di sebuah jembatan penyebrangan busway yang membuat satu kaki saya terperosok didalamnya.
Huaaaah, tragis benar nasib saya…sampai seminggu kaki kiri saya lebam-lebam biru ungu merah kuning…untung masih bisa berjalan..
berpikir untuk menuntut, tapi saya tahu uu pelayanan publik yang baru saja disahkan DPR belum berlaku efektif, belum lagi duit yang harus saya keluarkan untuk mengurus perkaranya..dan benar kata kelik, kalo mau menuntut pemerintah, mau kemana kita ajukan tuntutan. pertanyaan besarnya adalah: siapa pemerintah itu…
saya berusaha mencoba menangkap gambaran siapa pemerintah itu di kepala saya, tapi tidak juga saya dapatkan..bukan bapak-bapak gembul itu, bukan juga ibu-ibu berdandan medok dengan tahi lalat di dagu kan, atau bapak-bapak berpeci hitam…aaarggh siapa sih pemerintah itu?
yaah, saya pun mau tidak mau hanya bisa meratapi diri, mengelus-elus kaki saya tiap malam sambil mengoleskan thrombophob dan menerima kenyataan bahwa saya belum juga bisa menaklukanmu Jakarta yang perkasa…


ps: foto diambil setelah tiga hari jatuh sebagai kenang-kenangan buatmu tuan dan nyonya pemerintah, siapapun anda…
4 Comments »
Sudah hampir satu tahun enam bulan lebih 13 hari kita bersama membina mimpi-mimpi bersama, membagi hari-hari dan malam-malam berdua…selalu denganmu.
Dan kali ini aku sekarang harus sendiri selama 135 jam tanpamu…
Selasa subuh lalu, kamu meninggalkanku untuk yang kamu sebut sebagai tugas negara..
Rencananya kamu akan berada di negeri asing enam hari lamanya, dan baru akan kembali minggu ini…
Ini baru pertama kali dirimu meninggalkanku, biasanya selalu aku yang meninggalkanmu untuk yang aku sebut — tak mau kalah darimu — sebagai misi menaklukkan dunia
Meski aku tidak perlu cemas atau takut, tapi pengalaman ini membuatku deg-deg an, seperti lahir baru lagi…
Orang seringkali menganggap diriku adalah perempuan mandiri yang bisa melakukan apapun sendiri, tanpa bantuan siapapun, apalagi dari makhluk berjenis kelamin pria.
Bahkan aku pernah membayangkan diriku hidup menua sendiri, berkeliaran dan berjalan-jalan kemana-mana sendiri tanpa ada siapapun disisiku.
Pernah begitu jelas dikepalaku, aku dalam mobil hitamku berkendara pulang kerumah sendiri, tanpa siapapun menemani dan siapapun menanti di tempat tidur.
Tapi dirimu datang dan mengubah itu semua. dan aku menyadari aku tidak semandiri yang dibayangkan orang.
Kehadiranmu begitu menyamankan, mendistorsi pribadi mandiri yang ada dalam diri, membuatku begitu bergantung pada dirimu. Dan aku sadar, aku mencandumu.
Meski semua begitu terasa sempurna, aku tak pungkiri keresahan yang ada dalam diri yang diam-diam mendamba lagi kehadiran sosok mandiri itu dan merindukan daya juang pribadi tanpa bergantung pada siapapun.
Dan seperti tahu apa yang kuinginkan, dirimu pun memberikanku kesempatan untuk menjumpai sisi mandiriku lewat kepergian singkat ini.
Dan aku senang mengetahui bahwa diriku yang mandiri itu masih ada…
Seperti waktu aku berjalan sendiri dari kantorku di Palmerah untuk menjumpai seorang di Plaza Senayan. Aku merasa utuh dan penuh dalam kesendirianku itu, menyusuri jalan sambil mendengarkan lagu “I’m dancing with myself” versi Nouvelle Vague, sambil diterpa lampu-lampu mobil yang genit seliweran di jalan raya.
Atau ketika aku memutuskan untuk menonton bioskop sendiri. Banyak orang yang bilang aneh atau bahkan merasa kasihan, tapi aku senang sekali dengan ritual yang dulu sering kali kulakukan itu. Menurutku, sebuah previlige bisa menonton film di bioskop sendirian, kesempatan untuk membuat duniaku sendiri dan hanya ada aku , aku dan aku yang ada disana…
Maaf kalau aku tidak ada keluhan, rasa kangen, ungkapan rindu, rasa ingin bertemu atau rengekan minta pulang cepat, karena aku tidak ingin merusak moment-moment bersenang-senang dirimu disana, dan perlu kamu tahu aku pun sedang menikmati me-time yang luar biasa yang mengasikkan disini
Terimakasih sayang buat enam hari yang membebaskan ini…buat kesempatan untuk menjadi utuh meski tanpa dirimu disini…
dan terimakasih juga buat 1 tahun enam bulan lebih 13 hari pernikahan ini, yang menyadarkan diriku bahwa aku adalah perempuan yang bukan saja utuh tapi juga paling beruntung didunia ini karena bisa menemukanmu
dan yah, aku kangen dirimu.
3 Comments »
Sudah berbulan-bulan ini aku menjadi warga Jakarta gadungan, yang kesana-kesini kebanyakan naik taksi, memilih kenyamanan yang imitasi dan dingin yang direkayasa oleh mesin AC untuk menegasikan panas, macet dan bising di jalan-jalan ibukota.
Tapi bukan berarti keputusan itu tanpa alasan, aku merasa diriku merasa pantas mendapatkan kemewahan itu, setelah “bekerja keras” seharian dan hilir mudik kesana-kemari mengais-ais berita, naik taksi adalah semacam sebuah reward, meski dengan risiko bahwa dompetku jadi cepat menipis dan peluang menabung semakin kecil.
Tapi terlepas masalah materi, dengan keputusanku itu, aku merasa mengkhianati Jakarta, karena Jakarta yang asli adalah bukan Jakarta dalam taksi, atau bukan juga dalam mall-mall mewah yang bertebaran di mana-mana, bukan juga daerah Sudirman dan Thamrin yang setiap melaluinya aku selalu bertanya-tanya terus, benarkah ini Jakarta? Ibukota negara berkembang itu, yang rata-rata pendudukannya menghasilkan kurang dari US$2 per hari.
Miris rasanya, suatu ketika aku diajak naik motor di daerah Jendral Sudirman. Karena macet, temanku ini memilih jalan pintas yang melewati jalan tikus di belakang jalan Sudirman.
Mmm, dan disana kutemui wajah sebenarnya kota yang kubenci dan sekaligus kucinta setengah mati ini. jalan-jalan yang berlubang, rumah-rumah makan murah, bau sampah yang menusuk, rumah-rumah penduduk yang berdempet-dempetan. Tidak menyangka, bahwa kurang lebih 200 meter berdiri gedung-gedung 30 lantai dengan jalan raya mulus 6 jalur tempat mobil-mobil mewah lewat.
“Ada yang ga beres disini,” ujarku dalam hati.
Yang lucu adalah ketika mendengar temanku yang dari Vietnam datang berkunjung ke Jakarta dan dia bilang dia suka sekali naik metro mini.
Haahahaa, dia bercerita bagaimana serunya naik kaleng berkarbondioksida itu, duduk dibelakang supir dan merasakan adrenalinnya berpacu setiap si supir melakukan manuver-manuver yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.
“It is just like riding a rollercoaster,” dia bilang, aku pun tertawa mendengarnya. Dan ketika bertanya balik apakah kendaraan semacam ini ada juga di negaranya, dia menjawab bahwa itu ada tapi duluuuuuu sekali. Hahahaha, aku pun tergelak lagi. Selamat teman, kamu sudah berhasil mencecap jakarta yang asli, ujarku dalam hati.
dan kemarin, setelah beberapa lama, aku pun pulang naik kendaraan umum.
Rasanya deg-degan, tahu kan? perasaan bertanya-tanya, apakah jalan akan macet atau tidak, kira-kira berapa jam akan tiba sampai dirumah, atau berapa lama si abang supir akan ngetem.. yah ketidakpastian yang menyiksa.
Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang aneh hahahaha, tapi kuakui aku rindu berinteraksi dengan mereka memang. Itu yang selalu kukatakan kepada suamiku ketika menjelaskan kenapa aku memilih pulang naik angkot, aku ingin bertemu dengan orang-orang asing, bertukar pikiran dan belajar banyak dari mereka..dan aku rindu rasa sunyi di tengah hingar-bingar lalu lintas, rasa paradoks yang mencandu itu, yang bisa memaksa otakku berkelana jauh, menemukan hal-hal luar biasa yang tidak kudapatkan ditempat lain.
Dan satu lagi, mungkin kejutan-kejutan kecil yang membuatmu terbahak sebentar dan melupakan segala capek dan penat.
Dan malam itu, aku pun mendapatkannya, duduk di kursi VIP sebelah supir angkot, aku merasa wajah Jakarta begitu dekatnya dengan aku..
hingga tiba-tiba, ada sesuatu yang menggerayangi kakiku..aku pun panik, kakiku menendang-nendang keblingsatan..dan diujung sana aku melihat binatang mungil itu, seekor kecoa dengan tenangnya nangkring di bawah dashboard.
“Bang, itu ada kecoa,” ujarku setengah berteriak. Abang yang sok cool itu cuma menoleh sebentar, berusaha mencari-cari dimana gerangan kecoanya. tapi tidak melakukan apa-apa. “Ga papa yah kalo kaki saya naik jok,” akhirnya aku bertanya..
Dan selama 15 menit, dalam posisi yang aneh bin ajaib di kursi depan angkot C01 jurusan kebayoran ciledug dengan mas supir yang aku tidak tahu namanya, aku pun terhibur untuk sekian kalinya dengan Jakartaku sambil merapal doa-doa, “pergi kecoa..pergiii, jauh-jauh dari aku,”
4 Comments »
Saya meyakini bahwa menjadi seorang ibu adalah keputusan mulia yang pernah diambil seorang perempuan dalam hidupnya. Saya selalu salut dengan teman-teman yang berani mengambil keputusan itu karena butuh keberanian yang luar biasa dan rasa tulus yang amit-amit untuk melakukannya.
Saya selalu merasa ibu adalah manusia super yang harus bisa segalanya, yah mengurus anak, mengurus suami (aaah, saya bersyukur untuk yang ini karena sepertinya suami saya bukan tipe yang suka diurus), belum lagi ketika si ibu harus bekerja dan memenuhi tuntutan-tuntutan profesionalitas.
Di tengah-tengah dunia dengan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, saya rasa dikotomi menjadi ibu rumah tangga atau menjadi ibu berkarir di luar rumah adalah hal yang usang, basi dan bukan pada tempatnya.
Meski ada beberapa yang nampaknya masih gundah dengan pilihan-pilihan yang dibuatnya.
Ada yang merasa mengorbankan karir, eksistensi diri, kesempatan untuk meraih cita-cita ketika memilih menjadi ibu yang memilih untuk selalu sedia 24 jam di rumah
Namun di lain sisi, ada ibu-ibu yang merasa bersalah karena mengabaikan rumah tangganya, tidak mengurus anaknya dengan baik, dan menelantarkan suaminya ketika dia bekerja.
Aiih, saya pikir dilema itu sudah lenyap semenjak jaman Kartini, yang dengan perkasa memberikan perempuan di bumi pertiwi ini kesempatan untuk memilih. Memilih apapun yang terbaik untuk hidup mereka dan juga orang-orang di sekitarnya.
Lagian berhentilah pakai kacamata kuda, lalu mengkotak-kotakkan pilihan menjadi dua yang hitam putih dan berpikir yang satu lebih baik dari yang lain. Bukan berarti bahwa ibu yang memilih berkarir adalah ibu yang egois, yang hanya memikirkan eksistensinya, dan membuat keluarga jadi urusan kedua. Dan ibu rumah tangga sejati adalah ibu yang notabene lebih baik karena memberikan semua waktu perhatian buat anak dan keluarganya.
Aiih betapa picik, banyak juga perempuan yang tidak punya pilihan lain selain membantu suaminya mencari nafkah dengan karena penghasilan sang suami tidak mencukupi kebutuhan bulanan. Dan bukan berarti, bahwa perempuan-perempuan ini kurang sayang kepada anaknya dibanding perempuan yang dirumah dan menemani anaknya setiap saat.
Mereka tak kalah sayang pada anaknya, mereka sangat-sangat peduli pada buah hatinya sehingga memastikan mereka tidak kurang suatu apapun untuk masa depan sang anak.
Lagian, kenapa tidak kita hentikan pengkotak-kotakan ini.
Kalo bisa milih dua, kenapa harus pilih satu? Saya rasa ibu Kartini pun tidak merasa keberatan yah kan?
Saya percaya bahwa banyak perempuan-perempuan superduper luar disana yang bisa mengurus anak dan suaminya, memberikan cinta kasih yang penuh kepada mereka dan juga berkarir menggapai mimpi-mimpi mereka, meskipun terkadang dengan ironis bahwa mimpi mereka adalah melihat sang anak menggapai mimpi-mimpinya.
Dan saya merasa beruntung mengenali seorang perempuan super itu: Ibu saya sendiri. Iyah perempuan jebolan SMA itu bisa melakukannya dengan sukses.
Masa saya yang lulusan S1, ga bisa?
7 Comments »
kemarin akhirnya aku memulainya…
kelasku di sore hari
“Ini kan yang dari dulu loe pengin Wil,” ucapan seorang teman mengingatkanku akan mimpi-mimpi itu di malam sebelum kelasku dimulai ..
Aaah…aku jadi semakin deg-deg an menghadapi esok…
bagaimana jika berjalan tidak sesuai yang diinginkan, bagaimana jika tidak ada yang datang..lalu papan tulis mini, spidol, penghapus dan buku-buku bacaan itu..apa yang akan terjadi dengan mereka…
Esoknya, setengah sebelum jam tiga, aku gelisah. tidak bisa tidur siang…
akhirnya aku pun memaksa diriku bangun dan berlari kedepan rumah, menyingkap semua gorden-gorden rumah, membuka jendela dan pintu dan menghambur keluar…
“Mbak, kelasnya jadi kan? setiap hari apa mba?,” seorang anak lelaki menghampiriku tiba-tiba bersama beberapa teman-temannya.
“Jadi dong, kita akan belajar setiap sabtu,” jawabku, sambil bersorak dalam hati ‘mereka sudah ada disini’
aku pun kembali masuk kerumah, mengganti kostumku dengan rok panjang berwarna orange, lalu menyiapkan buku-buku, memilah-milih materi, menulisnya dalam buku catatanku, tentang apa yang harus kuucapkan, tentang apa yang harus ditulis, tentang apa yang harus dipelajari.
Kelik pun ikut membantu. Kami pun sempat berdebat tentang dimana sebaiknya kelas itu berada, didalam rumah atau di taman kecil kami?
aku ingin sekali ruang kelasnya di luar, tapi kelik dengan segala argumentasinya menyarankan supaya kelasnya didalam saja…
aku pun menurutinya.
tak berapa lama, empat orang anak datang…aku pun berkenalan sebentar, namun tak lama kemudian mereka asik dengan buku-buku yang ada, sementara aku masih banyak diam mengumpulkan semua nyaliku untuk meredam rasa gugup ini.
dan berdatanglah lagi mereka..5 orang, 7, 9, 12 14…
hingga seorang ibu datang, “mbak ika, kenapa ga diluar saja?” ketika melihat ruang kami jadi penuh sesak sementara banyak anak yang semakin berdatangan
dan keliek nampaknya juga tidak punya pilihan lain, dia pun memindahkan tikar yang sudah digelar ke taman sebelah…
dan tak berapa lama, jadilah apa yang kuinginkan : sebuah taman belajar dengan 33 orang murid…waw!
hihihihi, sebenarnya ini lebih indah dari apa yang kuinginkan..semua sempurna
kecuali ketika, aku mengumpat “oh shit” dua kali waktu kakiku digigit semut hitam besar…hihihihi
maafkan mba guru yah adik-adik…:)
9 Comments »
saya tidak habis pikir, kenapa semua orang memperebutkan kursi itu.
entah berapa orang yang akhir-akhir ini terlihat sangat ngotot untuk bisa menjadi presiden di negara indonesia tercinta ini, mereka ada di tv, radio, di setiap berita, di jalan-jalan, di internet..fiiiiuhh!
saya tidak mau menyebutkan siapa saja mereka karena saya tidak mau tulisan saya jadi lahan iklan gratis kampanye mereka. Yah pokoknya orang-orang itu laaah
Tapi coba deh dipikir bapak-bapak dan oiyah ibu yang terhormat, apa enaknya sih jadi presiden di negara ini?
anda harus mengurusi 230 juta lebih orang yang maunya beda-beda, dan tingkahnya bermacam-macam dan susah diatur.
apalagi di era reformasi, yang semua berhak bersuara, semua boleh berkata demi yang katanya dijamin kebebasan berpendapatnya oleh negara. pusing ga sih kalian?
belum-belum pihak-pihak dari kekuasaan lama yang tidak suka dengan perubahan, anda-anda juga harus memikirkan mereka yang tak segan-segan membunuh dan menculik orang dalam mencapai segala tujuannya.
atau para-para aktivis itu yang punya 12 nyawa menghadapi apapun yang tidak sejalan dengan dunia ideal mereka…
dan pada akhirnya kalian harus menebusnya dengan malam-malam tanpa tidur dan hari-hari penat dengan pikiran…Emang enak yah?
saya pernah mendengar presiden yang sekarang mengeluh tidak bisa tidur berhari-hari karena memikirkan sebuah masalah, dan waktu itu memang matanya merah dan bengkak…
dan lihatlah sekarang, dirinya sekarang mencalonkan diri lagi jadi presiden…haha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya
Tapi..sumpah, saya penasaran, sebenarnya apa sih yang ingin kalian cari?
kekuasaan? tapi apa benar seorang presiden di negara demokratis ini berkuasa? lihatlah gaya para anggota dewan yang lagaknya selangit itu, yang merasa lebih punya wewenang dibanding presiden, yang merasa menjadi pengemban konsep, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat…hahahaha, apalah arti kekuasaan satu orang presiden dibanding 500 cecunguk di gedung parlemen.
lalu apa yang kalian cari? uang…hah?emang bisa yah dengan adanya KPK yang siaga 24 jam menyadap dan menyidik tingkah laku korupsi pejabat atau bisakah kalian melakukannya di tengah wartawan infotainment yang sigap dan cekatan dalam mengendus kasus melebihi penyidik kepolisian?
lalu apa?
fasilitas no.1? hahaha bisa ga sih mendapatkan fasilitas no.1 tanpa punya resiko ditembak.
ngomong-ngomong tentang fasilitas no. 1 jadi inget komentar ibu calon presiden yang dengan jujur berkata adalah bahwa yang dirindukan ketika menjadi presiden adalah saat-saat dimana dia bisa melenggang bebas di jalanan tanpa harus berhadapan dengan maceet.. yah ampuuun, nah tahu kan ibu sekarang, kenapa saya tidak akan pernah memilih anda.
lalu apa? saya belum dapat jawaban niih…
supaya terkenal, atau bisa keliling dunia…aah banyak profesi yang lebih sedikit deritanya namun bisa mendapatkannya…
hayolah, berikan saya alasan, bapak dan ibu calon presiden…
No Comments »
Mas, Mba kalo mau ngambil barang, bilang ajah dulu..ga usah pake mencuri
terimakasih
Ika dan Kelik
itulah sepotong surat singkat yang aku kirimkan buat seseorang yang baru saja mencuri tabung gas di rumahsenyumpagi
Iyah, aku dan partnerku memutuskan untuk menulis surat buat pencuri itu, stelah bingung mau berbuat apa…
terus terang aku shock waktu mendapati tabung gas 3.5 kg yang subsidi pemerintah itu (hihihihi, iyah nih mungkin memang bukan hak ku sih) enyap dari laci bawah di dapur …
hatiku berdegup keras bukan main waktu itu, maklum pengalaman pertama kemalingan…
perasaaan gelisah yang menerpa pasca kejadian pun menyerang demikian hebat, dan waktu itu aku berencana pergi ke jogja dan bakal meninggalkan rumahsenyumpagi kosong untuk beberapa hari.. jadi tambah parah gelisahnya..
lemas diri ini.
Akhirnya tercetuslah ide untuk menulis surat kepada si pencuri…
memang kecil harapan buat si pencuri untuk membaca surat itu, tapi cara itu adalah terapi yang manjur untuk mengatasai gelisah yang berkecamuk di dada…
Terlalu muluk memang mengharapkan surat itu bisa bisa mengubah niat seseorang yang hendak mencuri. tapi tak ada salahnya dicoba…
Mungkin ini adalah salah satu konsekuensi dari punya rumah yang terbuka…
Ada beberapa kali kepikiran untuk menutup sebagian halaman rumah kami, tapi sampai saat ini, kelik dan aku belum ada niat untuk menutup dapur mungil kami, terlalu cantik untuk ditutup…:)
Dan untuk itu kami siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Sampai kemarin, kami baru menyadari bahwa ada maling lagi yang menyambangi rumah kami…tapi kali ini yang diambil adalah makanan yang ada di dalam kulkas: permen, es krim, coke dan keju..sedangkan kompor gas, tabung gas, panci semua masih lengkap…
kami yakin bahwa kali ini pelakunya adalah anak-anak
tapi kami pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya memutuskan untuk menulis surat lagi buat para pencuri…
Lain kali kalo mau mengambil makanan dan minuman minta izin dulu ya..
besok kamu mau minta makanan atau minuman apa?
balas yah,
terimakasih
Ika dan Kelik
dan kelik meninggalkan sebuah pensil agar si pencuri bisa membalasnya…
dan kami tak sabar menunggu balasan dari si pencuri….
10 Comments »
Setiap orang pasti punya mimpi
mulai dari yang muluk-muluk, yang aneh bin ajaib sampai yang luar biasa sederhana…
dan macam-macam juga cara orang memperlakukan mimpi mereka
ada yang terus-terusan berusaha mewujudkannya dan ada juga yang menyimpannnya rapat-rapat dibawah bantal tempat tidur..
tapi aku suka dengan yang dilakukan oleh kedua temanku Grace dan Odit, mereka mencatat mimpi-mimpi mereka, mengurutnya satu-satu persatu dan memasukkan mimpi-mimpi itu dalam things-to-do list dalam hidup mereka.
Mereka mencatat semua dari hal-hal konyol dan sederrhanasampai hal-hal yang tidak terpikirkan sama sekali…
Senang sekali mengetahui Grace bisa mewujudkan 47 mimpi dari 182 daftar mimpi yang dia miliki selama empat tahun ini, dan dapat dipastikan mimpi-mimpi lainnya pun akan segera diwujudkannya…
Iyah mencatat mimpi adalah hal yang paling praktis membuat seseorang tidak hanya duduk diam berpangku menunggu dan berdoa agar sang kuasa menjawab mimpi-mimpinya
Itu tidak cukup.
Ayo kawan, catat mimpimu, lafalkan dengan tekad dan kejar dengan semangat
1.naikgunung2.pergikenepal3.bisa(benar2)menyetir4.melukis5.menari6.menulisbuku 7.mengajar8.punyaanakanaklucu9.belajardiving10.sekolahlagi11.keafrica12.belajarbahasaasing13.bikinfilm 14.punyamediasendiri 15.sehatdanberolahraga 16.bissuperdupersabar17.menanamseribupohon 18.mengajakibuberlibur 19.bulanmaduyangspektakuler 20.menjadiweddingplannerdgnkonsepunik 21.inginpunyaproyekartkayamirandajuly 22.perpustakaanbukuyangnyaman 23.backpackingsendirian 24.sedikitmengeluhbanyakbersyukur 25.suatusaatikutperjamuankuduslagi 26.lihatauroraborealis 27.keberlinlagi 28.konseralanisdanberdiripalingdepan 29.cannesfilmfestival 30.difotobuatposterpinggirjalan 32.ketemujudelawdanmenciumnya 33.mengunjungimanediarmenia,beccadifilipina 34.menghabiskanmasatuadijogja 35.rumahtengahsawahdijogja ……………………….
…………..
8 Comments »
itu tawaran yang kuajukan buat partner hidupku menjelang pemilihan umum (pemilu) yang akan berlangsung dua hari lagi.
iyah beda dengan diriku, suamiku tercinta semangat sekali mau ikut pemilu
“biar suaranya ga disalahgunakan, pokoknya nanti semuanya tak coblos,” ujarnya berbulan-bulan sebelum hari pemilihan tiba.
Aku hanya mendengar, berusaha untuk tidak bersikap sinis, karena aku memang sudah bertekad untuk tidak memilih dari awal. Aku menghormatinya, sebagaimana dia menghormatiku yang tidak memilih.
Aku tidak memilih karena aku bukan antipati terhadap politik atau sangsi terhadap kepemimpinan kandidat-kandidat yang ada, meski aku punya seribu alasan untuk punya rasa ragu dengan kondisi yang ada sekarang ini, dimana banyak para dewan terpilih yang menyalahgunakan kewenangan mereka, banyak yang korupsi, banyak yang sok tahu, banyak yang belagu, sampe muntah aku melihat lagak mereka di gedung DPR.
alasan ku tidak memilih sederhana, aku hanya ingin bermalas-malas di tempat tidur dan menikmati libur.
aku berpikir, buat apa aku pagi-pagi datang antri ke tempat pemungutan suara (TPS), mendengar ramah-tamah pejabat setempat, menunggu dan berpanas-panas hingga giliranku tiba.
Males banget.
iyah kalo kemudian suaraku dipergunakan sebagaimana mestinya, kalo disalahgunakan, direkayasa…sia-sia saja bukan niatan baik ini?
Sudahlah, sayang..dari pada bangun dan pergi ke TPS, lebih baik peluk diriku dan kita lanjutkan tidur kita.
Gimana?
7 Comments »
beberapa saat yang lalu, aku merasa sangat tidak nyaman dengan tubuhku.
Perasaan yang aneh.
Aneh, karena ketidaknyamanan itu datang bukan dari tubuh ini tapi dari komentar-komentar orang asing yang sebenarnya tidak punya hak atas tubuh ini.
Bodohnya aku, aku mendengarkan mereka.
“Kayaknya dulu ga sebesar itu deh ka,” ujar seorang teman pria, mengomentari payudaraku, yang kemudian diiyakan oleh temanku yang lain, dan dia ini perempuan.
Waktu itu memang suasananya santai, aku pun menyambanginya dengan candaan, membalasnya dengan ucapan bahwa ini semata-mata hasil karya sang maha suami.
Aku pun menganggap candaan itu lepas lalu, tapi kemudian menceritakan kembali kepada suamiku dan teman-teman dekatku.
Beberapa waktu setelahnya, aku pun akhirnya menyadari bahwa sebenarnya aku merasa terganggu dengan hal ini. Suatu pagi sehabis mandi, aku kemudian berdiri di depan kaca, dan melihat bentuk payudaraku, memperhatikan dengan seksama. apa benar bertambah besar?
Mmm, aneh! karena aku merasa ukuran BH ku ga pernah berubah, yah segini-gini ajah..
Besoknya, aku dengan bodohnya, untuk pertama kali hidupku, merasa sangat tidak nyaman dengan tubuhku…dan merasa harus menutup badan ini dengan semacam rompi, untuk menutupi kaosku yang kelewat rendah dan tipis…
Aku, tubuhku dan omongan orang lain.
aku pun berpikir tentang perempuan-perempuan lain yang tubuhnya digugat oleh makhluk-makhluk asing yang dengan santainya mengomentari tubuh ini, seolah-olah mereka punya hak bilang, “toket lo kekecilan”, atau “toket loe kegedean”, “pinggang loe super geda sih”, “busyet deh kaki loe”, “itu muka kok mata semua” “alamak pantatnya..”
Jangan dengarkan mereka. tutup kuping!
Ini tubuhku, aku berhak atasnya, jangan ganggu aku dengan komentar-komentarmu. dan alasan aku menulis ini pun karena aku ingin mengambil lagi hak ku atas tubuh in.
seharusnya aku yang menentukan nyaman tubuh ini
bukan mereka
bukan perusahaan-perusahan kosmestik (monyet, aku sebel banget sama iklan ponds yang seolah-olah menihilkan keberadaan perempuan berkulit hitam),
bukan ahli-ahli kecantikan
bukan dokter
bukan agama
bukan kamu
5 Comments »
|