Uuuh saya malas sebenarnya menulis hal-hal yang berkaitan dengan perseteruan antara dua institusi penegak hukum KPK dan Polri yang sedang santer-santer nya dibicarakan oleh semua pihak. Itu kan sudah jadi bagian pekerjaan saya, dan coretan hati di blog pribadi ini adalah eskapisme dari hal-hal seperti pekerjaan.
Tapi saya melihat ada yang luput dari perhatian publik dari kasus itu, dan saya tidak punya tempat lain untuk menyuarakan kecuali blog ini.
Mmm, semua persoalan Cicak vs Buaya yang terjadi sekarang ini berawal dari rekaman pembicaraan telpon hasil sadapan. Iyah sadapan itu disebar-luaskan di media-media, dan jadilah isunya sebombastis sekarang.
Tetapi terlepas apa isinya, saya jadi bertanya-tanya mengenai hal sadap-menyadap ini.
Kok, bisa yah? saya sempat bertanya-tanya kepada beberapa orang mengenai teknologi yang digunakan, meskipun harus susah payah memahaminya, saya berkesimpulan bahwa penyadapan itu dimungkinkan dan bisa dilakukan terhadap siapa saja dan dimana saja.
Fiuuuh, lalu dimana penghormatan terhadap ruang privasi? apa demokrasi memang harus bekerja seperti ini.
Kata seorang teman, seharusnya kita tidak terlalu takut, karena biasanya yang disadap kan orang-orang jahat dan koruptor-koruptor itu. Tapi siapa yang bisa menjamin itu, apalagi kalo instansi yang berwenang memerintahkan penyadapan adalah para penegak-penegak hukum yang busuk.
Aah, saya memang terlalu sinis dengan penegakan hukum di sini, yang semuanya bisa dibeli.
baik KPK atau polisi, saya melihat mereka sama busuknya. Saya tidak perlu banyak cakap mengenai betapa busuknya polisi, lebih dari satu juta facebooker pendukung KPK siap membantu saya menjelaskan betapa hina-dinanya institusi itu.
Tapi KPK juga bukan malaikat, orang-orang didalamnya pun bermasalah. Contoh nyata yah si tuan Antasari itu dan affair gilanya dengan simbak caddy. Tapi memang terlalu naif, jika mengeneralisir sesuatu dari perbuatan satu orang, tapi setidaknya terbukti kan kalo KPK pun tak luput dari orang-orang yang menyalahgunakan wewenang.
Lalu, lalu ketika orang-orang yang berhak memerintahkan penyadapan ini adalah orang-orang itu. Apa jadinya negara ini?
Seorang teman juga berkata, ya udah lah ga usah parno, kalo ga salah, yah ga usah kuatir lah.
Yah tapi bukan berarti dong mereka bisa menyadap orang-orang.
Huh!
Peduli amat saya dengan perdebatan KPK vs Pori dan segala intrik-intriknya, saya cukup pusing dan putus asa menyadari bahwa tidak ada yang bisa dipercaya di negara ini.
Tapi setidaknya, semoga mereka menghargai privasi. Itu saja. Saya tidak meminta lebih.
No Comments »
Saya ingat sekali, dulu ketika odit, rekan saya di the jakarta post, menaruh post-it “Doing it for the kids” berwarna kuning di meja kerjanya. Katanya itu semacam penyemangat buat pekerjaan yang dilakukannya, pengingat buat dirinya bahwa ketika menulis sebuah artikel, dia melakukannya untuk masa depan yang lebih baik buat bangsa dan anak-cucu kita.
Iyaah..waktu pertama kali masuk dalam profesi jurnalistik, saya juga membagi semangat yang sama dengan odit. Perasaan penuh dan semangat selalu mengisi hari-hari menyadari bahwa ada misi besar yang kita emban. terasa sangat heroik, menantang dan seruuuu.
Tapi sudah lebih dari tiga tahun, saya menghamba di desk ekonomi..perlahan namun pasti semangat itu pupus, gairah besar yang saya biasa rasakan menguap.
Bagaimana tidak? saya tiap hari harus berurusan dengan angka-angka dan statistik tak berjiwa yang ironisnya dari dulu pun saya tidak begitu suka dengan matematika. Saya berkutat dengan transaksi jutaan dollar amerika, dengan kinerja-kinerja perusahaan, rencana akusisi dan masih banyak lainnya. Dan menulis buat orang-orang berdasi yang hidupnya enak dan bergaji puluhan juta sebulan rasanya kurang heroik, mereka tidak butuh dicerahkan, mereka tidak butuh diselamatkan.
Ditengah-tengah kepenatan, sebuah tawaran manis datang dari editor di desk investasi. Ketika saya sedang pusing menulis artikel tentang aksi korporasi sebuah perusahaan, editor itu datang, duduk dan menawarkan saya untuk bergabung ke desknya.
Huaaah mau teriak rasanya, tapi saya memutuskan untuk tetap jaim hahahaha. Meskipun hanya sebulan, saya berharap bisa kembali menangkap semangat yang dulu saya pernah rasakan.
Dan penugasan pertama adalah meliput imigran Sri Lanka di pelabuhan Merak, Banten yang mengharuskan saya untuk pergi kesana langsung. Iyaaah, pengalaman berangkat subuh ke stasiun kota, dan kemudian beralih haluan ke terminal bis tanjung priuk sendirian karena perjalanan kereta terlalu lama mengingatkan saya pada sensasi-sensasi itu, deg-degan yang luar biasa plus bingung karena saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan tapi rasa kepuasan yang tiada tara begitu saya menemukan keajaiban-keajaiban yang terjadi yang memungkinkan saya mendapatkan berita.
Yeeeeaaah, I’m doing it for the kids!!!!
2 Comments »
Saya penggemar berat Dawson’s Creek…saya begitu tergila-gila menontonnya ketika jaman SMA dulu. Serial itu diputar setiap selasa malam, setiap jam setengah 10 di saluran televisi kebanggan Indonesia waktu itu TPI. Meski pada serial-serial berikutnya, TPI memindahkan jam tayangnya ke hari Rabu di jam yang sama, saya tak pernah melewatkan serial itu.
saya kurang begitu ingat kenapa saya begitu setia dengan serial ini. Saya rela menunggunya meski harus sampai larut. Meski TPI tiba-tiba memundurkan jam tayangnya hingga jam 11, saya tetep duduk dengan manis di depan TV ditemani rasa kantuk dan bahan ulangan besok pagi.
Mungkin saya menyukainya mungkin karena kisah percintaannya yang seru, dimana sepasang sahabat bisa saling mencintai. konsep yang sebenarnya begitu diluar kepala waktu itu, karena pertama saya tidak percaya dengan relasi persahabatan antara perempuan dengan lelaki (kecuali dia gay tentunya) dan waktu itu saya belum pernah pacaran. Mungkin ini yang membuat ploot cerita di Dawson’s Creek begitu menarik buat saya.
Atau mungkin karena kisah ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Iyah ketika kebanyakan serial remaja lainnya menawarkan seks sebagai makanan sehari-hari yang tidak boleh dilewatkan. Serial ini bisa mengemas hal tersebut begitu cantik, menjadikannya penting tanpa perlu mengeksploitasinya (meskipun di musim musim selanjutnya mungkin sedikit berlebihan).
Atau mungkin saya merasa dekat dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Dawson, Pacey, Joey dan Jen adalah empat remaja kampung dengan kehidupan keseharian mereka, bukan seperti Brandon, Brenda dan Kelly yang glamor di Beverly Hills. Secara pribadi, saya merasa begitu dekat dengan Joey, gadis tomboy yang pintar, yang sinis, judes, perfeksionis dalam hal sekolah dan punya relasi aneh dengan ayahnya. Yah saya melihat diri saya di diri Joey.
Lalu untuk mengenang masa-masa tanpa beban dimana tidak ada yang perlu dikuatirkan (kecuali nilai ulangan dan hasil NEM hahhahaa), saya pun melihat kembali serial itu lengkap dari musim satu sampai 6. Dan pengalaman kembali menonton itu yang membuat saya perlahan-perlahan tahu kenapa saya suka film ini:
1. secara sinematografi, serial ini jauh diatas rata-rata setidaknya itu yang kulihat di musim I dan II. Kevin Williamson berhasil memperindah serial ini dengan lanskap-lanskap cantik Capeside. Saya paling suka rumah Joey, yang tepat berada di pinggiran sungai. Apalagi adegan-adegan di dermaga. Iyaaah dermaga memang romantis, dan Kevin sepertinya tahu itu, kebanyakan pembicaraan-pembicaraan romantis pasti terjadi disana.
2. Saya suka pembicaraan-pembicaraan tokohnya. begitu hidup, begitu filosofis, begitu mencerahkan aaaarrgh, saya heran kenapa waktu SMA saya tidak bisa berpikir seperti mereka. Mereka berbicara dan saling berbagi tentang kegelisahan mereka, tujuan hidup, mimpi-mimpi mereka, cinta, hubungan…uuuh, begitu meresahkan dan mencerahkan buat saya. Seringkali saya dapat kutipan-kutipan cantik yang maknanya berasa begitu dalam. “Let the things you love be your escape” atau “When you have a dream, will it” atau “there is no right or wrong, there is only concequences for every action”. Yah, serial ini seperti obat penambah semangat jiwa.
3. Saya bisa belajar bahasa inggris yang aneh dan tidak pasaran. Memang serial ini pernah dipertanyakan di Amerika karena bahasa yang digunakan tokok-tokohnya terlalu kompleks dan canggih untuk usia-usia SMA, penonton Amerika menganggap serial ini mengada-ada. Aaah, tapi apa urusannya sama saya, penonton dari dunia negara ketiga yang masih terus belajar bahasa inggris dan berusaha meningkatkan skor eilts nya hihihihi. Saya menemukan term-term seperti “bizzare hormonal glitches” (aah saya suka itu) atau “ennui” atau “menage a trois” (hahah ini perancis sih hihihi)
4. Karena serial ini juga memberikan referensi film-film dan buku-buku keren yang membuat saya penasaran untuk membelinya. Saya acung jempol dengan selera film Dawson dan untunglah Keliek penggemar Spielberg jadi rata-rata filmnya ada di koleksi DVD kami, dan yang terakhir kami mendapatkan film “Close Encounters of The Third Kind” dan mengenai buku-buku keren, saya dapat referensi nya dari Joey yang mengambil jurusan literatur Inggris di kampusnya. Darinya saya penaran dengan Little Women, the Lion, Witch and the Wardrobe lalu On the Road..aah buku-buku ini target selanjutnya yang saya ingin beli di toko buku…
Uuuh, kalo begitu saya mohon pamit dulu, saya jadi ingin kembali melanjutkan nonton. saya sudah sampai di musim ke enam episode 20..sebentar lagi akan selesai. semua terhambat gara-gara DVD nya ngambek..dasar bajakan, tapi sepertinya kurang bijak kalau terlalu banyak mengeluh. hihihi
No Comments »
(content: is a state of full happiness, satistified with a certain level achievement, good fortune, etc., not wishing for more.)
Beberapa waktu lalu, disela-sela kejaran deadline dan hiruk pikuk kantor, aku dan odit memutuskan untuk undur diri sejenak, memilih pojok nyaman di teras luar ruang kantor kami di lantai dua. Aku duduk disamping mesin pendingin minuman yang mesinnya selalu bergetar di menit-menit tertentu dan odit duduk didepanku.
Kami berbagi keluh kesah, kepenatan dan menumpahkan segala kegelisahan.
Kami sudah bekerja lebih dari empat tahun di kantor itu, dan sore itu kami merasakan hal yang sama, merasa berada pada titik yang sama, titik kejenuhan.
Aku punya mimpi, odit punya mimpi tapi kami seperti jalan di tempat yang sama, tidak bergerak, terperangkap di daerah yang sama, begitu banyak keinginan, tapi nampaknya kami tidak bisa kemana-mana.
Sering kali di sela-sela pembicaraan, aku menangkap nada helaan nafas panjang wujud dari pelepasan beban-beban kami.
“I wanna be content,” Odit tiba-tiba berteriak.
Mmm, iyah, kapan terakhir kali aku merasakan hal itu, merasa puas, merasa cukup…
Akhir-akhir ini aku merasa kurang dan tidak berdaya. Lalu perasaan itu membuatku marah, sedih, sebal dengan semuanya. Melihat keatas, memandang orang-orang dengan keberhasilan dan kegemilangan hidup mereka, menghadirkan perasaan yang tidak nyaman dan menyesakkan.
Aku selalu berpikir, jangan cepat merasa puas dan penuh, karena manusia perlu maju dan terus bermimpi dan kenyamanan bisa menghancurkan semuanya. Tapi kenapa rasa merasa kurang ini begitu menyesakkan.
Iri melihat temanku yang lain yang menurutku dia sudah berada di tahap merasa content, merasa bersyukur, tidak terlalu ngoyo. Dia baru saja pulang dari sekolah di US, dan dengan apa yang dia punya, dia bisa saja mendapatkan pekerjaan apapun yang dia inginkan, tapi dia tidak mencari itu. dia sekarang di Bali dan menikmati hidupnya dan yang terpenting adalah dia selalu merasa bersyukur.
Iyah, seharusnya aku lebih banyak bersyukur. buat pekerjaan ini, buat kehidupanku, buat apa yang ada padaku.
Dan sering kali aku mencoba melihat ke bawah, ke orang-orang yang kurang beruntung dari aku untuk mencoba menghibur diri.
Tapi sering kali aku merasa itu jahat, bagaimana aku bisa merasa senang diatas ketidakberuntungan orang lain. Mengapa aku butuh mereka, butuh melihat kesengsaraan mereka untuk membuat hidupku jadi lebih baik.
Mmm..seringkali sehabis penat dengan pekerjaan, pulang dengan dada sesak dan penuh, aku merasa terhibur ketika papasan dengan pegawai kebersihan atas satpam, yang masih saja menyapaku dengan senyuman.
Aku merasa ditampar ketika melihat mereka. dan sakit rasanya begitu tahu bahwa aku menyalahgunakan nasib mereka untuk membuatku lebih baik.
Aaarrh, aku tidak ingin melihat ke atas, maupun melihat kebawah.
Aku ingin merasa penuh dengan apa yang ada disampingku dengan orang-orang dan sahabat tercinta, lewat pembicaraan-pembicaran dashyat di sela-sela pekerjaan, di samping mesin pendingin yang bergetar di menit-menit tertentu.
Odiit, let’s do it again sometime…
No Comments »

Tidak terasa sudah empat bulan taman belajar rumahsenyumpagi berjalan, perasaan masih jelas dimata saat-saat dimana aku mempersiapkan semuanya: menghubungi orang-orang, meminta ijin, menyiapkan alat-alat dan menyusun kurikulum.
uuh, yang terakhir itu yang sempat bikin pusing, karena aku memang tidak tahu bagaimana membuat panduan mengajar dan memilih tema pelajaran. sampai sekarang aku pun masih bingung, selalu mencari ide-ide bahan ajaran dengan berdiskusi dengan teman-teman atau melihat you tube (yeaaah, teknologi memang penolong utama buat bu guru pemula)
Tapi lama-kelamaan aku sadar, bahwa kurikulum bukanlah hal yang terpenting, masih banyak hal yang bisa diajarkan kepada anak-anak yang tersandera pelajaran sekolah dan dogma guru yang konvensional yang hanya fokus pada text book dan nilai bagus.
Iyah, aku menginginkan hal lain..
aku mau murid-muridku berani, bukan hanya menjawab pertanyaan, tapi juga berani bicara, berani berpendapat , berani mengatakan tidak setuju dalam sebuah diskusi dan memberikan argumentasi di depan umum. Iyah, aku ingin mereka berinisiatif, tidak hanya mendengar dan melaksanakan apa guru suruh. Bahkan terkadang aku ingin mereka mandiri, bisa menentukan apa yang mereka ingin pelajari sendiri
Tapi memang tugas berat bagiku, ketika aku harus berhadapan dengan anak-anak yang sebagian waktunya dihabiskan di sekolah, yang memaksa mereka hanya duduk-diam-dengar, menuruti apa kemauan guru yang memberikan mereka kesempatan untuk memilih, yang menuntut mereka untuk terus terus dan terus belajar, hanya untuk satu tujuan: nilai yang bagus dan rangking yang menyenangkan hati orang tua.
memang bukan hal yang mudah, aku ingat pertama kali aku memulai kelas itu tepat di tanggal 2 Mei, aku melihat murid-muridku malu menjawab dan berpendapat sehingga sering waktu kelas jadi hening hanya terdengar suaraku saja yang mendominasi suasana.
Tapi untunglah, sekarang mereka sudah mulai berani. Bahkan ada seorang muridku yang bernama Cici, gadis lincah yang baru kelas satu yang mengingatkan ku pada Dora di televisi, yang hobi nya selalu mengacungkan tangannya setiap kali aku bertanya didepan kelas, meskipun dia terkadang tidak tahu jawabannya dan hanya menjawab “Auk,” hahhahaha, she really made my day.
Senang bukan kepalang waktu anak-anakku mulai berani bicara satu-satu di depan kelas, membuat presentasi di depan kelas, dan lambat laun mereka bisa diajak berdiskusi untuk menentukan sesuatu di dalam kelasku. Sewaktu acara buka puasa kemarin, mereka sendiri yang menentukan menu-menunya dan kapan acaranya.
Aku senang melihat perkembangan itu menyadari bagaimana mereka sering kali menceritakan guru mereka yang galak yang membuat mereka sangat takut bertanya dan menuntut mereka hanya untuk belajar, belajar dan belajar.
Dengan dogma seperti itu tak heran jika suatu ketika ada murid-muridku meminta untuk ada ujian…hahahha, ironis sekali, karena aku, bu guru ini gak ada sama sekali kepikiran untuk memberi mereka ujian…setelah sempat kelimpungan membuat soal-soal, ujian pun terlaksana dengan sebagian besar muridku nyontek temanku (aku sama sekali tidak pernah melarang nyontek itu adalah konsep kerjasama yang penting untuk diterapkan dikelas dimana saja hihihi) dan pada akhirnya aku memberikan jawaban-jawabannya…pokoknya di penghujung kelas, aku sadar, kelasku ga butuh ujian.
Tapi proses yang paling menggairahkan buatku pribadi adalah kesempatan buatku untuk belajar banyak. Tak sadar, aku pun masih tak rela menyerahkan otoritas kelas ke tangan mereka. Aku pusing ketika mereka suatu ketika tidak setuju dengan caraku mengatur sebuah permainan di kelas. Fiiuh, rasanya gondok bangeeet..hahhaa, tapi selepas sekolah usai, setelah berdialog dengan kelik, dia menyadarkanku bahwa itu kan sebenarnya yang aku inginkan, membuat mereka berani dan mengatakan tidak didepan kelas. Iyah, aku harus benar-benar belajar memahami bagaimana anak-anak memiliki kebebasan berkehendak dan menentukan apa yang mereka suka. Fiuuuh
Aku pun harus banyak belajar, sebagai mantan anak berprestasi di sekolah dulu, bahwa nilai-nilai, rangking-rangking bukan lah tujuan utama bersekolah, bahwa ada banyak hal lainnya…banyak sekali.
dan aku belajar bersama-sama dengan muridku untuk bisa memahami itu tentu saja dengan cara-cara yang menyenangkan..hihihihi.
nb: tulisan ini kutujukan buat virtri, irene, ima, priska, ary, firman dan esha teman-teman yang menyumbangkan pikiran dan meluangkan waktu belajar di taman belajar rumahsenyumpagi.
3 Comments »
Suatu ketika di tengah-tengah kepenatan pekerjaan yang mender-deru tak habis-habisnya, aku bertemu seorang pencerita dari ibukota
Sosok yang ramah dan riang, belum sepuluh menit kita berkenalan, kata-kata keluar deras dari mulutnya merangkai sebuah cerita memesona malam itu, membangkitkan semangat dan harapan di kota yang keras ini.
Mata yang lesu ini jadi membuka lebar, senyum pun terkembang dari bibirku memamah satu-persatu cerita darimu…
Cerita tentang mafia buku di kota ini, tentang bagaimana serunya mereka beroperasi layaknya teroris al qaeda..lalu cerita tentang dirimu yang sering iseng berkelana, bertekad menemukan orang paling seram se Jakarta Raya, yang dengan amat percaya kamu yakin bisa taklukan dengan kalimat, “Cari uang susah yah Bang,”
hahahahhahahaha…
Belum lagi cerita mengenai pengalaman mu terkini berkelana di daerah muara angke menemui mbok-mbok pedagang ikan yang sangat fasih menggunakan twitter, mengupload update terkini mengenai harga ikan lewat black berry mereka
yah ampuuuun…hahahahaha
senang sekali mendengar cerita-cerita mu teman
mereka berhasil menggugahkanku dari kelesuan ini, menyakinkan ku bahwa masih banyak semangat di kota ini lengkap dengan begitu banyak kejadian-kejadian ajaib yang sayang dilewatkan begitu saja…
No Comments »
sudah hampir 28 tahun tinggal dan hidup di Indonesia, dan sepertinya baru kemarin aku merasakan kebanggaan menjadi seorang warga negara indonesia
Bepergian jauh kesebuah pulau cantik di penghujung barat pulau jawa tepat di hari kemerdekaan republik Indonesia, membuka mataku terhadap sebuah kenyataan bahwa masih banyak yang perlu disyukuri tinggal di negara ini.
Iyah setidaknya untuk masalah wisata, yeah disamping masalah infrastruktur, negara ini punya begitu bejibun tempat-tempat cantik.
Uuuh, dan begonya aku, aku baru menyadari hal itu sekarang. Sigh*
Aku dulu selalu ingin bepergian ke kota-kota cantik di luar negeri, karena menurutku apa sih yang bisa dilihat di Indonesia. Bahkan seorang teman pun mempertanyakan ambisiku ini, katanya kenapa kamu gak keliling indonesia dulu sih, tapi apa sih yang bisa dilihat dari negara yang masih bobrok ini.
dan dipikir-pikir memang benar kata temanku ini, setidaknya untuk daerah wisata, Indonesia tak kalah cantik dengan negara-negara lain. Bandingkan dengan Singapura misalnya..uuh mereka kalah jauh deh suer.
Kita punya segalanya disini, gunung, pantai, tempat-tempat bersejarah.
Dan aku akhirnya bisa mengamini perkataan teman seperjalanan ketika di Bangkok yang bilang bahwa Bali masih lebih cantik ketimbang Bangkok.
seorang teman baik yang baru keliling dunia pun bilang, borobudur kita masih jauh lebih cantik ketimbang Angkor Wat di kamboja..mmm
Jadi menurutku daripada habisin duit dan berambisi menjelajah Malaysia, Singapura, Thailand bahkan negara-negara eropa..(hahaha, kemarin waktu ke ujung kulon, aku menemukan tempat yang mirip lembah-lembah di Cambridge dan Swiss ckckckc), mending pergi menyusuri indahnya negeri ini dulu…ke bunaken, raja ampat, sikuai, wakatobi, karimun jawa, gunung bromo, lombok, pulau komodo…
Ayoooo
Memang yang kurang adalah kesadaran pemerintah sendiri terhadap potensi kecantikan negeri ini. Aku yakin, kalau pemerintah memrioritaskan program-program pengembangan pariwisata, pasti perekonomian negara ini bisa terbantu dan maju, karena sektor pariwisata sebenarnya adalah sektor yang bisa menyentuh perekonomian rakyat secara riil, coba bandingkan dengan pasar saham yang mengawang-awang itu…
Tapi dipikir-pikir kalo mengandalkan pemerintah, kapan bisa terwujud…kenapa tidak kita saja yang melakukannya, yah setidaknya bisa dengan membantu promosi tempat-tempat cantik di negeri ini, lewat postingan blog atau foto..
Tapi memang bahkan disisi itu, Indonesia masih kalah dengan negara lain. Aku pernah mengalaminya sendiri, suatu ketika di beijing dalam perjalanan tur ke tembok besar cina, sepasang turis dari amerika bertanya kepada aku dan temanku dari Malaysia tentang apa yang menarik yang bisa dikunjungi di negara-negara kami. Sumpah, aku tidak bisa menjawab apa-apa, yah waktu itu aku hanya bisa merekomendasikan bali, lombok dan jogja..kalah jauh dengan temanku dari Malaysia yang bisa menyebutkan segalanya dengan sangat detail bahkan sampai program-program pariwisata yang ada tahun itu.uuggh…
Aku pun menyadari kebodohanku, lain kali kalo aku bertemu orang asing lagi, aku bakal punya list nya dan menjelaskan mereka se detail-detailnya apa-apa saja yang bisa dikunjungi disini. Jika banyak orang yang melakukan hal yang sama denganku, kupikir masalah promosi pariwisata Indonesia bisa sedikit teratasi, daripada mengharapkan pemerintah yang selalu merasa kehabisan uang.
Aku barusan berhasil menyakinkan seorang teman dari Filipina untuk datang kesini, mengatakan padanya bahwa Indonesia tempat yang wajib dikunjungi. Aku sedikit menantangnya (waktu itu terjadi ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton), mengutip sebuah pesan dalam kampanye terkenal dangeriously beautiful Indonesia. Yes, I dare her. Hahahaha, dan dia berani kemudian berencana datang kesini setelah menabung. Senangnya!!!
dan sepertinya untuk melakukan promosi sukarela ini, tak afdol jika aku tidak berkunjung ketempat-tempat cantik itu..hihihi
karimun jawa, bali and lombok you are my next target.
8 Comments »
Aku pernah tidak suka berolahraga, karena selalu berpikir tidak pernah punya waktu dan selalu sibuk dan menganggap aktivitas fisik itu adalah kegiatan yang membuang waktu. (yah kan kerenan aktivitas otak hahaha)
Pemikiran itu selalu mendapat tantangan dari bapakku yang memang aktif sekali berlahraga dan juga jagoan badminton di kampung, dia sering kali mengejekku ketika sakit, menurutnya itu akibat aku jarang olahraga dan malas bergerak.
mmm, mungkin dia benar dan mungkin juga salah. sampe sekarang aku juga belum tahu sih hubungannya kedua hal itu : dari jarang berolahraga terus ke sakit.
tapi semenjak bertambah dewasa (penulis menghindari kata tua hahahhaa), diriku jadi sadar betapa pentingnya kesehatan, terlebih lagi setelah menikah, aku menjadi tahu bahwa kesehatan diri ini bukan hanya hal yang penting buat pribadi sendiri, tapi juga pasangan kita…aku tidak mau ditinggal mati sendiri oleh keliek atau sebaliknya, gara-gara masing-masing dari kami ceroboh dalam menjaga kesehatan.
Menurutku kesehatan bukan lagi sekadar jadi masalah yang personal, apalagi jika banyak orang-orang tersayang disekelilingmu, menjaga kesehatan adalah juga masalah sosial, bukan hanya bagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, tapi juga bagaimana dirimu mencintai orang lain.
Berangkat dari kesadaran itu, aku pun sekarang kerap meluangkan waktu untuk mengolah badan. dan setelah beberapa bulan melaksanakannya aku merasakan lebih banyak manfaatnya ketimbang hanya buang-buang waktu.
dan olahraga tidak harus kemudian pergi-pergi ke tempat-tempat fitnes bergengsi di ibukota yang membership nya bisa sampe jutaan itu. Lagian rumahku yang dipedesaan kampung bulak semakin menjadikan tempat-tempat itu layaknya gunung everest, tidak terjangkau..
Yang paling sederhana buatku adalah mengolah badan ketika disela-sela pekerjaan, mulai dari mengejar bis, sampe mengejar narasumber, atau juga berjalan kaki dan memilih naik tangga ketimbang menggunakan lift.
Sebagai pasangan, pilihan aku dan keliek pun kurasa cukup simpel juga. Aktivitas berolahraga kami adalah sabtu pagi berenang di kolam renang terdekat dari rumahsenyumpagi. Kami menjalani rutinitas ini sudah hampir tiga bulan lebih, dan aku pribadi jatuh cinta dengan berenang. Olahraga tanpa berkeringat tapi melibatkan semua anggota tubuh. dan setiap habis berenang, rasa badan ini bukan kepalang segarnya.
Kami juga sering kali badminton di halaman rumahsenyumpagi, dengan raket dan kok hadiah ulang perkawinan dari bapak tercintaku (hahahhaha, sebagai teguran lembut untuk tetap berolahraga)
Lalu aktivitas baru yang baru saja kami lakukan seminggu lalu ketika aku baru saja sembuh dari flu berat adalah berjalan kaki mengitari kampung bulak setiap senin pagi. Udara perkampungan yang cukup segar membuat badanku menjadi semangat menjalani senin yang sering kali dinistakan para pekerja. Beruntung memang, kami punya waktu yang cukup fleksibel, sehingga tidak harus selalu berangkat pagi hari.
dan satu lagi mungkin adalah sex..hahahhaa
(ini dianjurkan buat pasangan yang sudah menikah tentunya, kalo yang belum…mmm, yah monggo dicoba lho hahahhaa)
ini adalah olaraga yang paling menyenangkan, menyehatkan dan paling ampuh dalam menyembuhkan segala sakit penyakit. Terbukti mulai dari sakit kepala, pusing, stress, demam, hingga hidung mampet bisa hilang setelah diriku mendapat orgasme..Sueer deh, terbukti ampuh…
Makanya diriku hanya tertawa melihat status seorang teman di facebook yang mempertanyakan sebuah hasil survey di Amerika yang bilang sex bisa menyembuhkan sakit punggung. Tak tahan menahan geli, aku pun berkomentar bahkan tak cuma sakit punggung, tapi segala penyakit bisa..hihihi
Maka, tunggu apa lagi
mari kita bercinta…upss
maksudnya, mari kita berolahraga!!!
Salam olahraga!
4 Comments »
Selamaat, kalian berhasil melakukannya lagi kali ini…
wuah, bukan main senangnya kalian yah, kalian sukses menjalankan misi kalian.
tersenyum lebarkah kaliankah disana, ditemani 72 perawan-perawan di surga langit ke tujuh (hahahha, jika benar kau disana dan jika memang tempat itu ada…)
Yaah…terlepas dari duka yang kembali menyayat hati kami, saya dari lubuk hati yang terdalam mengucapkan selamat buat prestasi kalian…
mungkin ini cambuk buat kami dan buat negara ini untuk tidak tidak terlena dengan keadaan. kami harus selalu siap sedia, cekatan dalam menghadapi serangan-serangan yang akan datang. Bom kali ini kembali menjadi pengingat bagi kami, bahwa kalian masih ada dan selalu ada disana, mengintai momen-momen lemah kami dan mempergunakannya, sebagai kesempatan untuk bisa naik kesurga dan bertemu 72 perawan (dan lagi, jika tempat itu memang ada…)
Tapi satu hal,ada satu pertanyaan mengganggu benakku..
mengapa dari serangkaian serangan bom yang pernah ada di Indonesia, tidak ada satu pun dari kalian yang mengklaim bahwa itu perbuatan kalian, tidak ada yang berani (saya ulangi BERANI) mengaku bahwa kalian yang melakukan.
Apakah kalian pengecut?
apakah kami berhadapan dengan teroris-teroris mental teri?
LIhatlah rekan-rekan sejawat teroris di belahan dunia lain, yang selalu berani menyiarkan kedunia, bahwa merekalah otak dibalik di peristiwa pemboman atau serangan-serangan teroris. Dengan klaim itu, mereka kemudian mengumumkan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan, dan dunia tahu apa yang mereka inginkan.
Lalu kalian? sampai sekarang belum jelas apa yang sebenarnya kalian inginkan. Kalo kalian ingin membuat kami menangis? kalau kalau ingin membuat kami berdarah? atau membuat kami marah? kalau kalian ingin membunuh kami? Selamat kalian berhasil melakukannya
Tapi serangan apapun, tetap tidak akan membuat kami gentar atau takut dan mundur. Tidak sejengkal pun.
Nah, daripada membiarkan kami bertanya-tanya, dan membuka kesempatan bagi orang untuk meng-klaim bahwa serangan ini ditujukan oleh dia (hahahha GR sekali bapak kita itu), kenapa tidak mengaku dan mengatakan apa yang sebenarnya kalian inginkan? Bukannya lebih efektif, tuan?
satu lagi, selain jangan jadi pengecut, jangan lah jadi munafik…
kalian yang selalu menghujat budaya barat dan semua yang ala Amerika…janganlah kalian kemudian menginap di hotel berbintang lima, tidur disana, menikmati fasilitas hotel yang berasal dari tempat yang selalu kalian nista, berpakaian sama seperti orang kalian hujat, bahkan mungkin makan makanan yang sama.
ooo please….aku sendiri malu jika aku takut dengan teroris macam ini…
2 Comments »
Semalam sebelum aku pulang dari Bangkok, badanku merasa tidak enak, mulai demam dan tenggorokan sakit…
Aku pikir hanya kecapaian..tapi esoknya ketika harus pulang ke jakarta, sakitnya malah tambah parah…duh, kuharap bukan flu H1N1 yang memang sedang nge trend ini..semoga ooh semoga…
dan sesampainya dirumah aku langsung ambruk, demamku tidak turun-turun dan sakit tenggorokan makin menjadi…tapi aku masih enggan untuk ke dokter, masih berharap jurus sakti “makan banyak dan tidur yang cukup” mampu mengatasinya.
dan tidak, pagi jam lima kami pun berangkat ke rumah sakit Fatmawati, aku memilih disana karena kalo emang ada indikasi gejala virus H1N1 bisa ditangani dengan sigap oleh mereka (pemerintah), meski kelik sebenarnya enggan
dan yah, kelik memang benar, aku harus menunggu 4 jam untuk mengetahui hasilnya, itu juga setelah beberapa kali tanya, dokter jaga pertama bilang hanya butuh waktu 15 menit, lalu mbak petugas pertama mengatakan perlu waktu 1 jam, lalu mas petugas kedua bilang butuh waktu sekitar 2 jam-an dan hingga dokter jaga kedua bilang 1.5 jam aan
Aaaaarrrgh, aku mau marah tapi badan lemas sambil bertanya-tanya, kalo aku beneran kena flu H1N1, sudah berapa orang yang tertular, karena aku harus menunggu di ruang tunggu berjam-jam di tempat dengan begitu banyak orang. Sigh*
dan tidak hanya aku, banyak pasien menghadapi nasib yang sama, menunggung ketidakpastian hasil lab…
dan nampaknya tidak ada inisiatif dari para petugas untuk memberi penjelasan untuk melayani para pasien yang menunggu kelemasan, mereka tidak peduli bahwa kami sekaraaaaat butuh pertolongan..
aku sempat bertengkar dengan petugas rumah sakit yang enggan menunjukkan toilet yang bersih, karena toilet yang ada sedang direnovasi dan kotor sekali, dan aku bilang aku tidak mau kesana.
Lalu mbaknya itu menjawab, “yang ada hanya itu mba, yang lainnya buat perawat,”
wiiih, rasanya pengin saya tonjoook tuh orang,
lalu dengan tenang dan mengambil nafas paaaaanjaaaaang dan leeeeebaaar, saya bilang,” saya pasien disini, saya berhak mendapat pelayanan yang baik,”
dan mbaknya berkata,”yah udah tanya ajah sama perawatnya boleh atau tidaak,”
MONYEEEEEEEET!!!!!
fiuuh, saya pun nekat masuk ruang perawat dan mendapatkan apa yang saya harapkan, meskipun itu sebenarnya tempat pembersihan mayat
setelah itu, saya pun berinisitaif berkeliling dan mendapatkan ternyata ada kamar mandi di lantai 2..
fiuh mungkin itu kuncinya, inisiatif dan kreatif dan sadar akan hak kita untuk sebagai pasien yang layak diperlakukan dengan baik…
saya selalu mendorong keliek untuk selalu menanyakan hasil lab-nya sudah atau belum..
saya berinisiatif mencari tempat tidur untuk merebahkan diri, karena lama-lama tidak kuat juga..yang kemudian langkah ini juga diikuti oleh pasien lainnya yang juga kelelahan menunggu hasil lab yang tak kunjung tiba
saya berinisiatif menyuruh keliek untuk menanyakan kasir tentang tagihan kami yang ingin segera dibayar, karena nampaknya dia begitu asik dengan entah pekerjaan apa…
Murah memang murah hanya 102.500 ribu rupiah, tapi pelayanannya bikin makan atiii
fiuuh, dan meski dokter bilang aku tidak ada gejala, aku jadi bertanya-tanya…jangan-jangan sampel darahku tertukar…
Semoga tidak…semoga!
4 Comments »
|